OPINI
Saatnya Bergeser dari Narasi Hilirisasi ke Reindustrialisasi
Oleh: Muhammad Syarkawi Rauf*
Peraih hadiah nobel ekonomi tahun 2025, Joel Mokyr dalam “The Holy Land of Industrialism”: Rethinking Industrial Revolution yang dipublikasi oleh Journal of British Academy pada 21 Agustus 2021 menyatakan bahwa industrialisasi sejak abad ke-18 di suatu negara selalu ditandai oleh kepemimpinan dalam bidang teknologi.
Revolusi industri di Inggris pada tahun 1760 dan kepemimpinan Inggris dalam bidang teknologi higga tahun 1850 karena ditopang oleh ketersediaan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Industrialisasi di Inggris ditandai oleh inovasi dan penemuan baru yang meningkatkan efisiensi dan produktifitas.
Hal ini berlanjut hingga akhir abad ke-19 dengan industrialisasi di Amerika Serikat (AS) ditandai oleh technology leadership yang didorong oleh inovasi baru. Sementara, industrialisasi pada awal abad ke-20 di Jepang dan Korea Selatan (Korea) berubah dari new innovation atau new invention menjadi learning untuk mengabsorbsi teknologi maju dari Eropa dan AS.
Narasi Hilirisasi
Sejarah industrialisasi yang dimulai dari Inggris, Jerman dan AS hingga Jepang dan Korea mengajarkan bahwa untuk mencapai status sebagai negara maju tidak cukup hanya membangun narasi hilirisasi, yaitu memberikan nilai tambah (dawn streaming) terhadap ekspor Sumber Daya Alam (SDA).
Narasi hilirisasi yang dikerjakan dengan baik hanya akan menempatkan sektor industri manufaktur nasional dalam global supply chain (rantai pasok global). Industri dalam negeri menjadi bagian dari intra-industry trade (IIT) global, seperti IIT dalam industri mobil listrik melalui hilirisasi nikel sebagai bahan baku baterai mobil listrik. Menjadikan industri domestik kehilangan kesempatan membangun industri mobil listrik nasional.
Narasi hilirisasi SDA tidak akan mengubah secara signifikan besarnya kontribusi industri manufktur terhadap gross domestic product (GDP) secara nasional. Artinya, hilirisasi tidak dapat membalik arah dari deindustriliasasi menjadi reindustrialisasi. Sejak tahun 2000-an, kontribusi industri manufaktur terhadap GDP terus menurun hingga hanya 18,98 persen tahun 2024.
Sebagai contoh, pengalaman Jepang membangun industrinya yang berciri state-led industrialization, yaitu pemerintah Jepang memimpin pengembangan industri manufakturnya. Pemerintah Jepang menerapkan national champion strategy, yaitu menetapkan dan mendukung industri unggulan nasional untuk bersaing di pasar ekspor.
National champion industry Jepang adalah industri otomotif yang dipimpin oleh Toyota, Honda, Suzuki, Yamaha, Nissan, Mitsubishi dan lainnya yang sangat populer di pasar otomotif Indonesia. Pada awalnya, perusahaan tersebut berskala kecil yang kemudian bertransformasi menjadi perusahaan raksasa global atas dukungan kebijakan pemerintah.
Pemerintah Jepang menetapkan industri baja, pembuatan kapal, semikonduktor dan elektronika sebagai industri unggulan. Dukungan pemerintah yang paling menonjol adalah membangun ekosistem industri guna memfasilitasi transfer teknologi, yaitu mengimpor teknologi dari negara maju, mengadaptasi dan melakukan inovasi teknologi secara mandiri.
Pemerintah Korea juga menganut state-led industrialization dengan beberapa industri sebagai national champion industry. Sebagai contoh national champion industry adalah industri baja dipimpin POSCO, elektronika dengan Samsung dan LG, otomotif dengan Hyundai Motor Company dan pembuatan kapal dengan Hyundai Heavy Industries, Daewoo dan Samsung.
Strategi yang sama ditempuh oleh pemerintah China, yaitu state-led indutrialization dengan national champion industry dalam bidang otomotif, khususnya kendaraan mobil listrik yang menjadikan China sebagai pemain nomor satu secara global dalam industri mobil listrik. Demikian juga industri elektronika, semikonduktor, pembuatan kapal, dan lainnya.
Narasi Reindustrialisasi
Belajar dari pengalaman negara lain yang saat ini berstatus negara maju, pemerintahan Prabowo Subianto sudah saatnya bergeser dari narasi hilirisasi yang dipopulerkan satu dekade yang lalu oleh presiden Jokowi ke narasi reindustrialisasi.
Pilihan strateginya adalah state-led industrialization dengan national champion industry yang menjadi andalan bersaing di pasar ekspor. Pemerintah menetapkan industri unggulan yang didukung kebijakan pemerintah dalam ekosistem industri yang menjamin keterkaitan antara core industry, supporting industry dan related industry.
Lalu, apa langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintahan Prabowo Subianto untuk bergeser dari sekedar hilirisasi menjadi reindustrialisasi dan membalik arah deindustrialisasi menjadi reindustrialisasi?
Langkah pertama, membangun aglomerasi industri di setiap daerah. Mula-mula, pemerintah secara terpusat menetapkan klaster industri tertentu sebagai national champion industry yang berbasis di setiap propinsi sesuai keunggulan sumber dayanya, baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun SDA.
Sebagai contoh, ekosistem atau klaster industri perikanan laut dapat dipusatkan di Maluku yang selama ini memiliki comparative adventage dalam produk perikanan laut. Harapannya, Indonesia membangun satu merek dagang di bidang perikanan laut yang memiliki keunggulan bersaing di pasar ekspor.
Sementara klaster industri karet alam dapat dipusatkan di Sumatera Selatan (Sumsel). Selama ini, Sumsel adalah daerah dengan lahan karet alam terbesar di Indonesia. Tujuannya, agar Indonesia memiliki produk turunan dari karet alam, seperti sarung tangan latex dan nitrile yang selama ini dikuasai oleh Top Glove Corporation Berhard, Malaysia.
Langkah kedua, peningkatan efisiensi dan produktifitas industri terbaru tidak lagi bergantung pada pengembangan teknologi baru yang bersifat eksogen. Industrialisasi paling mutakhir ditentukan oleh faktor-faktor yang bersifat endogen, yaitu seberapa cepat suatu negara mengabsorbsi teknologi baru dari negara maju melalui foreign direct investment (FDI).
Aliran FDI membutuhkan perbaikan dalam efisiensi dan produktifitas nasional. Sehingga salah satu agenda prioritas nasional adalah melakukan reformasi struktural untuk menurunkan nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) dari sangat tidak efisien, sebesar 6,25 – 6,50 tahun 2025 menjadi setara dengan rata-rata ICOR negara ASEAN sekitar 3,5 – 4,0.
Langkah ketiga, mendongkrak The Economic Complexity Index (ECI) untuk meningkatkan produktifitas pengetahun dan SDM yang tercermin pada diversifikasi dan sopistikasi produk-produk ekspor nasional. Faktanya, dalam 26 tahun terakhir, sejak awal tahun 2000-an, peringkat ECI Indonesia justru semakin buruk, dari peringkat 49 tahun 2000 menjadi 72 tahun 2023.
Hal ini, mencerminkan bahwa produk ekspor Indonesia semakin bergantung pada hasil eksploitasi SDA non olahan bernilai tambah rendah. Kondisi ini sejalan dengan peran sektor manufaktur dalam pembentukan GDP Indonesia yang menurun dari 32 persen tahun 2000 menjadi 18,98 persen.
Langkah keempat, agenda strategis mendesak bagi Sovereign Wealth Fund Danantara (SWFD) adalah berinvestasi membangun aglomerasi industri berbasis komoditas unggulan di daerah.
Langkah teknisnya, mengaktifkan kembali kawasan industri di daerah yang selama ini hanya menjadi kawasan pergudangan minus pengolahan.
Pilihan kebijakannya adalah mendorong pengembangan industri berbasis SDA dengan medium-technology industry di luar pulau Jawa dan high-tech industry yang membutuhkan tenaga kerja terampil, dukungan lembaga pelatihan, riset dan pengembangan dibangun di pulau Jawa.
Akhirnya, menggeser narasi hilirisasi menjadi narasi reindustrialisasi akan membantu keluar dari fenomena “5 percent growth trap”. Untuk itu, sebagai penutup, ada baiknya merujuk fisikawan, Albert Einstein bahwa “insanity is doing the same thing over and over again and expecting the different result”. Ibarat mobil, saatnya berpindah dari “gigi tiga ke gigi enam”, mengubah cara berpikir dan bertindak menuju status negara maju tahun 2045.
*) Dosen FEB Unhas dan Ketua KPPU RI periode 2015-2018
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY



