EKBIS

CNG Andalan Saat Mudik, Solusi Energi Bersih yang Teruji di Jalanan

Melalui program Bengkel Keliling CNG bertajuk Bengkel Standby Idulfitri 1447 H, PGN mencoba menghadirkan solusi nyata bagi pengguna kendaraan berbahan bakar gas (BBG).
Bajaj mengisi bahan bakar gas di SPBG Cirebon, Jawa Barat. Foto: PT PGN
Bajaj mengisi bahan bakar gas di SPBG Cirebon, Jawa Barat. Foto: PT PGN
apakabar.co.id, JAKARTA - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) semakin serius mendorong penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif energi transportasi yang lebih bersih dan efisien, khususnya saat arus mudik Lebaran 2026 yang dikenal padat dan penuh tantangan.

Melalui program Bengkel Keliling CNG bertajuk Bengkel Standby Idulfitri 1447 H, PGN mencoba menghadirkan solusi nyata bagi pengguna kendaraan berbahan bakar gas (BBG). Program ini digelar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Cirebon, Jawa Barat, yang menjadi salah satu titik penting jalur mudik.

Corporate Secretary PGN, Fajriyah Usman, menyebut inisiatif ini sebagai bukti bahwa CNG bukan sekadar wacana, tetapi mulai menunjukkan peran nyata di lapangan.

"Program ini menunjukkan bahwa kendaraan berbasis CNG dapat menjadi solusi energi yang lebih bersih, efisien, dan ramah lingkungan, terutama di tengah tingginya mobilitas masyarakat saat arus mudik," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (1/3).

Selama periode mudik, tim siaga PGN beroperasi 24 jam penuh untuk melayani pengguna BBG. Tercatat sebanyak 55 kendaraan memanfaatkan layanan ini, terdiri dari 40 unit bajaj dan 15 unit mobil.

Secara angka, jumlah tersebut mungkin masih terlihat kecil jika dibandingkan dengan jutaan kendaraan pemudik berbahan bakar minyak. Namun, di situlah letak pesan yang ingin disampaikan: CNG mulai hadir, meski belum sepenuhnya merata.

Fajriyah menjelaskan, kehadiran bengkel siaga ini menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pengguna terhadap CNG. Selain memastikan kendaraan tetap prima, layanan ini juga memberi rasa aman bagi pemudik yang menempuh perjalanan jauh.

Menurutnya, tren global yang mengarah pada energi bersih membuat optimalisasi gas bumi, termasuk CNG, menjadi langkah strategis yang tidak bisa ditunda.

"Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian seperti saat ini, energi bersih bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan," katanya.

PGN juga menilai penggunaan CNG berpotensi menekan biaya energi bagi masyarakat. Dengan harga yang relatif lebih stabil dibandingkan bahan bakar minyak, CNG dinilai bisa menjadi solusi jangka panjang, terutama bagi transportasi publik dan kendaraan operasional.

Program ini merupakan hasil kolaborasi antara PGN sebagai Subholding Gas Pertamina, PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), dan Komunitas Mobil Gas (Komogas).

Direktur Utama PGN Gagas, Santiaji Gunawan, menjelaskan layanan bengkel siaga difokuskan pada pengecekan dan perawatan kendaraan secara cepat dan praktis di SPBG.

"Layanan ini memastikan pengguna BBG tidak perlu khawatir saat perjalanan, karena pengecekan bisa dilakukan langsung di titik pengisian," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Komogas, Andy Lala, menilai program ini sebagai bentuk dukungan nyata yang manfaatnya langsung dirasakan oleh pengguna.

"Kehadiran bengkel siaga sangat membantu, terutama saat perjalanan jarak jauh. Ada rasa tenang karena layanan tersedia jika dibutuhkan," katanya.

Meski demikian, pengembangan CNG di Indonesia masih menghadapi tantangan klasik, terutama dari sisi infrastruktur. Jumlah SPBG yang belum merata membuat akses terhadap bahan bakar gas ini masih terbatas di beberapa wilayah.

Selain itu, tingkat adopsi kendaraan BBG juga belum masif, sehingga ekosistemnya belum terbentuk sempurna. Kondisi itu membuat CNG masih lebih banyak digunakan oleh segmen tertentu, seperti transportasi umum atau komunitas khusus.

Namun, momentum mudik Lebaran bisa menjadi ajang penting untuk menguji sekaligus memperkenalkan CNG kepada masyarakat luas. Ketika kebutuhan energi meningkat dan efisiensi menjadi pertimbangan utama, alternatif seperti CNG mulai dilirik.

PGN pun berharap, dengan peningkatan layanan dan infrastruktur yang terus dilakukan, CNG dapat berkembang lebih luas dan tidak hanya menjadi solusi musiman.

Ke depan, tantangan utamanya bukan lagi pada teknologi, melainkan konsistensi pembangunan jaringan dan kemudahan akses bagi pengguna. Jika itu bisa dijawab, bukan tidak mungkin CNG akan mengambil peran lebih besar dalam peta energi transportasi nasional.

Untuk saat ini, CNG mungkin belum menjadi pilihan utama. Namun di tengah dorongan menuju energi yang lebih bersih, langkah kecil seperti di jalur mudik ini bisa menjadi awal dari perubahan yang lebih besar.