EKBIS

Kilang Raksasa Balikpapan Beroperasi, Prabowo Kirim Sinyal Serius Soal Kemandirian Energi

Di tengah tekanan impor energi dan defisit neraca migas, Presiden Prabowo Subianto mengirim pesan kemandiran energi strategis.
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan megaproyek kilang RDMP Pertamina di Balikpapan. Foto: Youtube/Biro Pers
Presiden Prabowo Subianto saat meresmikan megaproyek kilang RDMP Pertamina di Balikpapan. Foto: Youtube/Biro Pers
apakabar.co.id, BALIKPAPAN - Presiden Prabowo Subianto meresmikan operasional Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1). Kilang terintegrasi ini disebut menjadi yang terbesar di Indonesia dan diposisikan sebagai instrumen kunci untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam peresmian yang digelar secara virtual, Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan pengoperasian kilang tersebut merupakan capaian strategis negara setelah lebih dari tiga dekade tanpa pembangunan kilang berskala besar.

“Ini prestasi penting bagi negara dan bangsa. Terima kasih kepada semua pihak yang bekerja keras sehingga kita bisa mencapai hasil ini,” ujar Prabowo.

Nilai historis proyek ini menjadi penekanan utama Presiden. Menurut Prabowo, peresmian kilang berskala besar terakhir terjadi pada 1994, atau sekitar 32 tahun lalu. Fakta tersebut menunjukkan betapa sektor hilir migas lama berada dalam stagnasi investasi.

Prabowo menyebut modernisasi kilang Balikpapan sebagai langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini membebani keuangan negara.

“Dengan modernisasi kilang minyak ini, kita akan menghemat devisa yang besar. Kita tidak perlu lagi impor BBM dalam jumlah berlebihan,” katanya. 


RDMP Balikpapan merupakan bagian dari strategi besar pemerintah melalui PT Pertamina untuk memperkuat swasembada energi. Kilang ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 360 ribu barel per hari, atau sekitar seperempat dari kebutuhan BBM nasional.

Selain BBM, kilang ini juga mampu menghasilkan LPG dan produk petrokimia sekitar 283 ribu ton per tahun. Proyek ini dirancang untuk meningkatkan kualitas BBM dari standar Euro II menjadi Euro V dengan kandungan sulfur 10 ppm, sehingga lebih ramah lingkungan dan beremisi rendah.

Total investasi RDMP Balikpapan mencapai sekitar Rp123 triliun. Dana tersebut digunakan untuk memodernisasi kilang eksisting sekaligus membangun fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex, yang memungkinkan pengolahan residu minyak menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Keberadaan RFCC Complex menjadikan Kilang Balikpapan tidak hanya berfungsi sebagai produsen BBM, tetapi juga pusat produksi petrokimia seperti propylene dan sulfur. Hal ini menempatkan kilang sebagai simpul penting dalam agenda hilirisasi industri energi nasional.

Lebih jauh, peresmian kilang ini memperlihatkan arah kebijakan energi di bawah kepemimpinan Prabowo yang menempatkan kedaulatan energi sebagai fondasi pembangunan ekonomi dan stabilitas nasional. Kilang Balikpapan pun diproyeksikan menjadi simbol kembalinya peran negara dalam mengelola sektor strategis secara lebih agresif dan terukur.