LINGKUNGAN HIDUP
Mayoritas Habitat Paus dan Lumba-lumba di Luar Kawasan Konservasi
apakabar.co.id, JAKARTA - Sebanyak 93 persen wilayah habitat paus dan lumba-lumba di perairan barat Sumatera berada di luar kawasan konservasi yang patut dilindungi. Hal itu terungkap melalui survei kolaborasi yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN, Konservasi Indonesia (KI) dan OceanX dengan menggunakan Kapal Riset RV OceanXploration.
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN, Nugroho Dwi Hananto menyatakan ketersediaan dan informasi ilmiah yang sahih sangat penting guna memberikan masukan bagi pemerintah dalam upaya merancang intervensi yang relevan dan dapat diimplementasikan secara efektif.
"Dalam bidang riset ilmiah kelautan, penyediaan armada kapal riset dengan berbagai peralatan riset canggih menjadi penting guna mengumpulkan data dan informasi tentang keanekaragaman biodiversitas dan sumber daya laut di Indonesia," katanya dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Kamis (15/1).
Dilaksanakan antara Mei hingga Juli 2024, OceanX Indonesia Mission melakukan survei yang mencakup 15.043 kilometer yang mencatat 77 sighting dari 10 spesies cetacean atau ordo mamalia laut, termasuk konfirmasi udara pertama paus pembunuh (Orcinus orca) dan paus pembunuh kerdil (Feresa attenuata) di wilayah barat Indonesia. Hasil survei ekspedisi OceanX Indonesia Mission baru saja dipublikasikan dalam Frontiers in Marine Science.
Dengan mengintegrasikan data historis, jumlah spesies cetacean yang terdokumentasi di kawasan itu kini mencapai 23 spesies atau 68 persen dari total cetacean yang diketahui di Indonesia.
Hotspot kepadatan tinggi, yang didominasi oleh lumba-lumba moncong panjang (Stenella longirostris) dan lumba-lumba belang atau lumba-lumba garis (Stenella coeruleoalba) teridentifikasi, terutama di luar kawasan konservasi.
Sebanyak 93 persen hotspot berada di luar kawasan konservasi laut yang ada maupun yang diusulkan. Peneliti dalam studi ini mengidentifikasi hal tersebut sebagai penanda ketidaksesuaian antara jejaring kawasan konservasi saat ini dan distribusi aktual habitat penting cetacean, khususnya di wilayah offshore.
Pemodelan spasial juga menunjukkan tumpang tindih yang signifikan antara habitat cetacean dengan aktivitas perikanan intensif dan lalu lintas maritim, yang berpotensi meningkatkan risiko bagi spesies tertentu, seperti paus pembunuh, paus Omura (Balaenoptera omurai), dan paus sperma (Physeter macrocephalus) yang masuk dalam kategori spesies terancam punah.
"Survei ini mengisi kekosongan data yang selama ini membatasi pengelolaan cetacean di laut lepas Indonesia," ujar Iqbal Herwata selaku Focal Species Conservation Senior Manajer Konservasi Indonesia dan penulis utama studi.
"Skala dan kualitas data ini memungkinkan perencanaan konservasi yang benar-benar berbasis bukti," tambahnya.
Konservasi Indonesia, yang berkolaborasi dengan OceanX dan BRIN dalam ekspedisi ini menilai temuan tersebut menegaskan kebutuhan akan perlindungan spasial yang terarah, perencanaan ruang laut adaptif, serta langkah mitigasi spesifik per spesies sebagai pelengkap upaya perluasan kawasan konservasi laut Indonesia menuju target 30×45.
Adapun temuan itu juga memperkuat pelaksanaan program inisiatif nasional Blue Halo S, yang fokus pada penguatan tata kelola perikanan, perlindungan habitat laut penting, serta pengembangan ekonomi biru berkelanjutan di perairan barat Sumatera.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

