LINGKUNGAN HIDUP

Pemulihan Banjir Sumatera 2025: BRIN dan WRI Dorong Pendekatan Build Back Better

WRI Indonesia BRIN menggelar validasi temuan lapangan untuk riset bertajuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera 2025 dengan pendekatan Build Back Better (BBB).
Foto udara Sungai Nanggang di kawasan permukiman bekas terdampak banjir bandang di Jorong Kayu Pasak, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (6/12/2025). Foto: ANTARA
Foto udara Sungai Nanggang di kawasan permukiman bekas terdampak banjir bandang di Jorong Kayu Pasak, Agam, Sumatera Barat, Sabtu (6/12/2025). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA — Upaya pemulihan pascabencana banjir di Sumatera terus didorong agar tidak sekadar memulihkan kondisi, tetapi juga memperkuat ketahanan ke depan. World Resources Institute (WRI) Indonesia bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar validasi temuan lapangan untuk riset bertajuk Pemulihan Pascabencana Banjir Sumatera 2025 dengan pendekatan Build Back Better (BBB).

Kegiatan itu menjadi bagian dari penyusunan rekomendasi berbasis data, khususnya untuk memperkuat perhutanan sosial yang tangguh terhadap bencana, sektor yang selama ini kerap terdampak, namun belum selalu menjadi prioritas utama dalam kebijakan pemulihan.

Penelitian dilakukan di dua provinsi terdampak, yakni Sumatera Barat dan Aceh, dengan melibatkan 5 (lima) Kelompok Perhutanan Sosial (KPS) dampingan WRI Indonesia.

Senior Manager Regional Sumatera WRI Indonesia, Rakhmat Hidayat, menjelaskan pihaknya telah mendampingi kelompok-kelompok tersebut sejak 2021.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin mendapatkan masukan untuk menyempurnakan kajian yang telah dilakukan bersama BRIN dalam beberapa bulan terakhir," ujar Rakhmat dalam pernyataannya di Jakarta, Kamis (2/4). 

Ia berharap hasil riset tersebut dapat menjadi acuan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam merancang strategi pemulihan yang lebih tepat sasaran.

Riset ini disusun melalui kajian cepat (rapid assessment) selama Februari hingga Maret 2026. Tim riset dipimpin oleh Gusti Ayu Ketut Surtiari dari Pusat Riset Kependudukan BRIN.

Pendekatan yang digunakan menggabungkan beberapa metode, antara lain: Model Pressure and Release (PAR) untuk mengidentifikasi kerentanan, Asset-Based Community Development (ABCD) untuk memetakan potensi lokal dan analisis peran aktor dan literasi kebencanaan masyarakat

Kajian dilakukan di sejumlah wilayah terdampak, seperti Lambung Bukit dan Batu Busuk di Kota Padang, Nagari Pagadih di Kabupaten Agam, serta beberapa wilayah di Aceh seperti Uning Mas, Bate Lhee, dan Alue Simantok.

Pendekatan tersebut tidak hanya melihat dampak kerusakan, tetapi juga menggali kekuatan lokal yang bisa menjadi modal dalam proses pemulihan.

Sementara itu, terkait proses validasi telah dihadiri berbagai pihak, mulai dari Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, akademisi, hingga pihak yang terlibat langsung dalam penanganan bencana.

Kepala Pusat Riset Kependudukan BRIN, Ali Yansyah Abdurrahim, menyampaikan apresiasi atas kerja tim riset yang dilakukan dalam waktu relatif singkat.

"ami berharap masukan dari para peserta dapat menyempurnakan dokumen ini agar memberikan manfaat nyata bagi pengambil kebijakan di tingkat daerah," ujarnya.

Seluruh masukan yang dihimpun akan menjadi bagian dari penyempurnaan hasil akhir riset.

Pendekatan Build Back Better menekankan pentingnya membangun kembali dengan kondisi yang lebih kuat dan siap menghadapi risiko di masa depan. Namun dalam praktiknya, tantangan sering kali muncul pada tahap implementasi.

Tidak sedikit kajian dan rekomendasi kebencanaan yang sudah dihasilkan, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam kebijakan atau perencanaan di tingkat daerah.

Karena itu, hasil riset ini diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen teknis, melainkan benar-benar menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Terlebih, dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, kebutuhan akan sistem yang lebih tangguh menjadi semakin mendesak.

Kolaborasi antara lembaga riset, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci penting. Pemulihan pascabencana tidak lagi cukup hanya mengembalikan kondisi seperti semula, tetapi juga memastikan bahwa wilayah terdampak lebih siap menghadapi bencana berikutnya.