LINGKUNGAN HIDUP
Rorotan Jadi Percontohan, Menteri LH Dorong Pilah Sampah dari Rumah Tangga
apakabar.co.id, JAKARTA — Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, meninjau langsung pelaksanaan proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis pemilahan di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, Kamis (26/3). Program ini ditargetkan menjadi model nasional dalam penanganan sampah perkotaan.
Dalam kunjungannya, Hanif menjelaskan bahwa proyek ini menitikberatkan pada pemilahan sampah dari sumbernya, yakni rumah tangga, dengan memisahkan sampah organik dan anorganik.
“Kami mulai dari nol pada awal bulan, dan hari ini sudah mencapai sekitar 20 ton sampah organik terpilah per hari,” ujarnya.
Menurutnya, capaian tersebut setara dengan kontribusi sekitar 60 ribu penduduk, dengan rata-rata produksi sampah organik 1,4 kilogram per orang per hari. Ia menilai peningkatan ini sebagai langkah awal yang signifikan, meskipun masih perlu konsistensi dan penguatan sistem.
Hanif menegaskan, pemilahan sampah menjadi kunci utama optimalisasi fasilitas pengolahan yang sudah tersedia, seperti Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan dan Bantargebang. Saat ini, kedua fasilitas tersebut memiliki kapasitas total hingga 4.500 ton per hari, namun belum beroperasi maksimal karena sampah masih tercampur.
“Kalau sampah dipilah, khususnya organik diselesaikan di hulu, maka sampah anorganik yang masuk ke RDF akan memiliki nilai kalor tinggi, sehingga lebih efisien dan bernilai ekonomi,” jelasnya.
Sampah organik yang telah dipisahkan saat ini dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun ke depan, pemerintah membuka peluang penggunaan teknologi lain seperti biodigester atau komposter, menyesuaikan karakteristik wilayah.
Pasca Lebaran, Kementerian Lingkungan Hidup bersama Pemerintah Kota Jakarta Utara akan melakukan evaluasi program ini. Hasilnya akan menjadi dasar untuk memperluas implementasi ke seluruh kelurahan di Kecamatan Cilincing yang berpenduduk lebih dari 500 ribu jiwa.
“Target kami, pertengahan 2026 seluruh Cilincing sudah menerapkan pilah sampah secara penuh. Ini akan menjadi model untuk wilayah lain,” kata Hanif.
Lebih jauh, ia menyebut keberhasilan program ini dapat mempercepat penghentian operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang secara bertahap, dengan target pada 2027.
Selain itu, Rorotan juga diproyeksikan menjadi rujukan nasional. Sejumlah daerah seperti Bandung, Bali, hingga Banjarbaru disebut akan belajar langsung dari implementasi di wilayah tersebut.
Terkait investasi, Hanif menyatakan pemerintah akan menyesuaikan dukungan anggaran seiring perkembangan program. Ia juga mendorong optimalisasi fasilitas TPS-3R di tingkat kecamatan untuk fokus pada pengolahan sampah organik.
Dalam kesempatan itu, ia kembali menekankan pentingnya langkah sederhana pemilahan sampah sebagai fondasi utama. “Cukup pilah dua jenis saja, organik dan anorganik. Sederhana, tapi dampaknya sangat besar,” ujarnya.
Terkait pengembangan proyek Waste to Energy, Hanif menyebut Jakarta memiliki potensi besar dengan timbulan sampah mencapai 8.000 ton per hari. Namun, ia menegaskan bahwa keberhasilan teknologi tersebut tetap bergantung pada pemilahan sampah yang baik.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan teknologi besar. Fondasinya tetap pilah sampah dari rumah tangga,” pungkasnya.
Editor:
ANDREY MICKO
ANDREY MICKO