LINGKUNGAN HIDUP
Yuliana Wetuq dan Tujuh Penjaga Menjadi Nyawa Terakhir Hutan Wehea
apakabar.co.id, JAKARTA - Di Hutan Lindung Wehea, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, malam tidak pernah benar-benar berakhir. Gelap datang lebih cepat dan bertahan lebih lama. Ia bukan gelap yang ramah, melainkan kegelapan yang menuntut kewaspadaan.
Di tengah bentangan hutan hujan tropis seluas sekitar 38.000 hektare, Yuliana Wetuq menjalani hari-harinya dengan ritme yang jauh dari kata normal. Hidupnya diukur oleh sisa daya listrik, jarak patroli, dan jumlah orang yang masih sanggup bertahan.
Lampu di pos penjagaan tak pernah benar-benar terang. Aki tenaga surya yang menjadi tumpuan listrik sudah lama melewati masa ideal. Energi matahari yang diserap tak lagi cukup untuk menerangi malam panjang Wehea.
Untuk berkomunikasi dengan dunia luar lewat perangkat Starlink pun, Yuliana dan timnya hanya punya jatah dua hingga empat jam sehari. Setelah itu, rimba kembali menutup diri.
"Tim saya saat ini sangat sedikit, hanya tujuh orang," kata Yuliana. Suaranya tegar, meski menyiratkan kelelahan yang panjang.
Yuliana adalah Koordinator Kelompok Penjaga Hutan Wehea, dikenal dalam bahasa setempat sebagai Petkuq Mehuey.
Di pundaknya dan enam rekannya yang lain, nasib salah satu benteng hutan hujan tropis Kalimantan Timur dipertaruhkan. Mereka adalah palang pintu bagi Desa Nehas Liah Bing, berdiri menghadapi ancaman yang jauh lebih besar dari sekadar kegelapan malam.
Mereka berjaga menghadapi para pencuri kayu gaharu, pemburu satwa liar, hingga ketidakpedulian birokrasi yang lamban.
Hutan Lindung Wehea bukanlah semak belukar biasa, tapi hutan yang merupakan rumah bagi orangutan, macan dahan, dan ribuan spesies flora. Yang mengagumkan, tujuh orang harus mengamankan, memantau, dan memastikan paru-paru dunia ini tetap bernapas.
Tugas mereka bukan sekadar duduk di pos jaga. Yuliana dan timnya melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh satu batalion polisi hutan dan tim peneliti lengkap.
"Kami melakukan pengamanan kawasan, monitoring keanekaragaman hayati, hingga fenologi. Mendata kapan tumbuhan bertunas baru," jelas Yuliana.
Tak berhenti di situ, mereka juga memikul beban regenerasi. Sadar bahwa tujuh orang tak akan cukup selamanya, kelompok ini rutin melakukan patroli bersama komunitas muda-mudi Wehea dari enam desa.
Mereka masuk ke sekolah-sekolah, dari tingkat SD hingga SMA, menanamkan pendidikan lingkungan hidup. Tujuannya sederhana tapi fundamental, tiada lain agar anak-anak Dayak Wehea tidak lupa bahwa identitas mereka terikat pada akar-akar pohon meranti dan ulin.
Semangat membara itu kerap kali berbenturan dengan realitas fasilitas yang rapuh. Infrastruktur menuju dan di dalam hutan Wehea jauh dari kata layak. Jembatan penghubung putus hingga pohon tumbang adalah menu sarapan sehari-hari yang menghambat patroli.
"Fasilitas kami tidak memadai," aku Yuliana.
Ia menceritakan pengalaman pahit saat patroli. Motor tua yang mereka kendarai sering kali menyerah pada medan tanah liat yang licin. "Kalau jalan licin, motor jatuh masuk parit," kenangnya.
Dari kondisi yang terseok-seok dalam terpaan medan yang tak bersahabat, mereka harus bangkit dan melanjutkan tugas. Tidak ada bengkel di tengah hutan, tidak ada bantuan darurat yang bisa datang dalam hitungan menit. Hanya ada tanggung jawab yang, menurut Yuliana, "tetap harus kami lakukan."
Ironi terbesar dari perjuangan Yuliana bukan terletak pada ganasnya alam, melainkan pada respons manusia, khususnya mereka yang memegang stempel kebijakan.
Ketika ditanya tentang mitra kerja, jawaban Yuliana menyiratkan ketimpangan. Selama ini, napas operasional mereka banyak dibantu oleh dua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yakni Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan CAN.
"Dua LSM ini membantu operasional dalam menjaga hutan. Walaupun hanya beberapa orang saja, kami sangat berterima kasih karena masih ada yang peduli," ujarnya.
Pemerintah memang hadir, tapi dalam wujud yang minimalis, jika tak ingin disebut ala kadarnya. Yuliana menyebut keberadaan kelompok Masyarakat Peduli Api bentukan pemerintah. Bantuan yang mereka terima? "Kami hanya mendapat seragam, motor bekas satu unit, dan sosialisasi saja," ungkap Yuliana datar.
Satu unit motor bekas untuk medan seganas Wehea tentu terdengar seperti solusi yang dipaksakan. Sementara itu, permohonan perbaikan infrastruktur vital seperti jalan dan jembatan sering kali membentur tembok birokrasi yang tebal.
"Minim bantuan. Perbaikan jalan dan jembatan masih harus minta sana-sini. Lama baru ditanggapi," keluhnya. Kalimat ini menggambarkan betapa lambatnya respon pemangku kebijakan dibandingkan dengan cepatnya laju kerusakan hutan yang mengancam setiap detik.
Tahun ini, Yuliana mencoba strategi baru. Ia tidak lagi hanya menunggu. Ia menggandeng sektor swasta.
"Tahun ini saya ajak kerjasama perusahaan agar mereka kontribusi dalam perawatan jalan di hutan lindung Wehea," katanya.
Ada enam perusahaan yang ia rangkul. Ini adalah langkah pragmatis seorang penjaga hutan yang sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus menunggu dana turun dari ranah birokrasi.
Ada dorongan yang membuat seorang perempuan mau bersusah payah, mempertaruhkan nyawa menghadapi pencuri gaharu, dan jatuh bangun di jalan berlumpur demi hutan.
Bagi Yuliana dan masyarakat adat Dayak, Wehea, hutan dikonversi menjadi rupiah. Hutan adalah supermarket sekaligus apotek hidup mereka.
"Hutan adalah lumbung kehidupan," tegas Yuliana. Matanya menyiratkan harapan yang mengakar kuat. Ia melanjutkan, di dalam hutan itu terdapat sumber air bersih, satwa langka, dan tanaman obat-obatan.
Menjaga Hutan Wehea adalah pekerjaan membanggakan bagi Yuliana dan kawan-kawan.( Antara Kaltim/HO-Dok Yuliana.
Filosofi ini yang membuat mereka bertahan. Ketergantungan masyarakat Wehea terhadap hutan bersifat mutlak. Jika hutan hilang, identitas dan kehidupan mereka pun ikut lenyap. Yuliana melihat hubungan sebab akibat antara kerusakan hutan dengan bencana yang kini makin akrab menyapa Kalimantan.
"Sangat disayangkan sekali jika hutan tidak ada. Banjir di mana-mana," ujarnya. Ia mengingatkan bahwa menjaga hutan Wehea bukan tindakan lokal semata.
"Menjaga hutan itu sama dengan menjaga kehidupan. Di dalamnya terdapat sumber oksigen yang memberi manfaat banyak, bukan hanya untuk masyarakat sekitar, tetapi untuk masyarakat Indonesia, bahkan dunia," katanya lagi.
Pernyataan ini menempatkan Yuliana dan enam rekannya sebagai penjaga gawang dalam krisis iklim global. Di saat para pemimpin dunia berdebat tentang emisi karbon di ruang-ruang berpenyejuk, tujuh orang di pedalaman Kutai Timur ini sedang bekerja dalam rimba, memastikan pohon-pohon penyerap karbon itu tidak tumbang oleh gergaji mesin para penjarah.
Di ujung perbincangan, Yuliana tidak meminta hal yang muluk-muluk. Ia tidak meminta medali kehormatan atau panggung megah. Harapannya sangat membumi, se-membumi lumpur yang menempel di sepatu botnya sehari-hari.
"Harapan saya, pemerintah, perusahaan, dan yang lainnya dapat memperhatikan hutan kami," katanya.
Ia menyoroti ketimpangan yang semakin menganga. Luasnya Hutan Lindung Wehea berbanding terbalik dengan jumlah penjaganya. Tujuh orang melawan luasnya wilayah dan besarnya ancaman adalah pertempuran yang tidak adil.
"Tolonglah diperhatikan betul masalah hutan yang kami lindungi, agar tetap terjaga dan lestari selamanya," ungkap Yuliana.
Di tengah ancaman deforestasi, serta fasilitas yang serba terbatas, Yuliana Wetuq dan tim kecilnya terus bertahan. Mereka adalah bukti hidup bahwa dedikasi sering kali tumbuh subur justru di tempat yang paling minim dukungan.
Pertanyaannya kini berbalik kepada publik, pemerintah, swasta, dan masyarakat luas. Sampai kapan membiarkan tujuh orang ini berjuang sendirian dalam gelap, hanya ditemani cahaya redup dari aki yang sekarat?
Hutan Wehea masih berdiri hari ini. Akan tetapi, tanpa intervensi nyata dan dukungan yang layak, benteng hijau ini bisa saja runtuh, membawa serta sumber mata air bersih, obat-obatan, dan masa depan anak cucu Dayak Wehea bersamanya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR


