SPORT
NOC Indonesia Minta Atlet Jangan Diam Jika Alami Pelecehan
apakabar.co.id, JAKARTA — Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) atau NOC Indonesia, Raja Sapta Oktohari, mengajak seluruh atlet dan insan olahraga di Tanah Air untuk berani melaporkan apabila mengalami perlakuan yang tidak pantas, termasuk tindakan pelecehan maupun kekerasan di lingkungan olahraga.
Seruan tersebut disampaikan Okto sebagai respons atas munculnya sejumlah laporan dugaan pelecehan seksual yang melibatkan pelaku di dunia olahraga nasional.
Menurutnya, saat ini setiap cabang olahraga telah memiliki mekanisme perlindungan atlet melalui sistem safeguarding yang dikembangkan bersama Olympic Council of Asia.
Melalui sistem tersebut, para atlet memiliki jalur untuk melaporkan berbagai bentuk pelanggaran, termasuk tindakan yang melanggar norma maupun pelecehan seksual.
“Kalau ada perlakuan yang tidak sesuai, melanggar norma, apalagi sampai pelecehan seksual, jangan diam. Laporkan,” kata Okto.
Ia menegaskan bahwa setiap laporan dari atlet sangat penting karena dapat mewakili banyak korban lain yang mungkin masih memilih untuk diam.
Menurutnya, keberanian satu orang untuk berbicara dapat membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar dalam sistem pembinaan olahraga nasional.
“Setiap suara itu sangat penting, karena bisa menjadi keterwakilan dari teman-teman yang lain yang mungkin hari ini masih diam,” ujarnya.
Okto berharap kasus yang saat ini mencuat dapat menjadi momentum bagi dunia olahraga Indonesia untuk melakukan pembenahan menyeluruh.
Ia juga menegaskan bahwa Komite Olimpiade Indonesia akan terus melakukan evaluasi internal dan memperkuat sistem perlindungan atlet agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan.
“Di usia ke-74 tahun, kami akan terus introspeksi diri dan berusaha memberikan yang terbaik bagi olahraga Indonesia,” kata Okto.
Sementara itu, Ketua Umum Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), Yenny Wahid, memastikan bahwa pihak federasi memberikan pendampingan penuh kepada para atlet yang menjadi korban kekerasan seksual.
Menurut Yenny, para atlet telah memutuskan untuk menempuh jalur hukum dengan melaporkan kasus tersebut kepada pihak kepolisian.
Federasi, kata dia, berkomitmen untuk berdiri di belakang para atlet dan memberikan dukungan hukum yang dibutuhkan.
“Kami mendampingi para atlet, menyediakan pengacara, dan memastikan hak hukum mereka terpenuhi,” ujar Yenny.
Ia menegaskan bahwa perlindungan terhadap korban menjadi prioritas utama federasi, termasuk dengan menjaga kerahasiaan identitas para atlet yang menjadi korban.
Langkah tersebut diambil untuk mencegah para korban mengalami tekanan sosial atau stigma dari masyarakat yang justru dapat menimbulkan trauma tambahan.
“Kami menjaga identitas mereka karena mereka adalah korban. Jangan sampai mereka menjadi korban dua kali akibat stigma di masyarakat,” ungkapnya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

