SPORT
SEA Games 2025 Jadi Parameter Menuju Asian Games 2026 dan Olimpiade 2028
apakabar.co.id, JAKARTA – Ketua Komite Olimpiade Indonesia (NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, menegaskan bahwa SEA Games 2025 bukanlah tujuan akhir pembinaan prestasi olahraga nasional.
Ajang tersebut menjadi parameter awal untuk mengukur kesiapan cabang olahraga Indonesia menuju level yang lebih tinggi, yakni Asian Games 2026 dan Olimpiade 2028.
Menurut Okto, sapaan akrab Raja Sapta Oktohari, perbedaan level kompetisi di tiap multi-event harus menjadi pemahaman bersama. SEA Games hanya diikuti 11 negara, sementara Asian Games melibatkan 45 negara dan Olimpiade diikuti lebih dari 200 negara.
“SEA Games ini menjadi parameter pertama kita untuk mengukur bagaimana cabang-cabang olahraga melakukan pembinaan prestasi. Dari situ kita bisa melihat mana yang sudah maksimal dan mana yang masih perlu diperkuat,” ujar Okto, Rabu (24/12).
Ia menekankan, NOC Indonesia sejak awal tidak menerapkan pendekatan reward and punishment, melainkan reinforcement. Pendekatan ini bertujuan mendorong cabang olahraga agar terus meningkatkan kualitas prestasi secara berkelanjutan.
“Yang sudah maksimal kita maksimalkan lagi, yang belum maksimal kita dorong supaya bisa mencapai potensi terbaiknya,” katanya.
Okto mengaku SEA Games Thailand 2025 menghadirkan banyak kejutan positif. Sejumlah cabang olahraga tampil di atas ekspektasi dan menunjukkan kemajuan signifikan.
Beberapa cabang yang mendapat apresiasi antara lain atletik, triatlon, dayung, bulu tangkis, hingga balap sepeda. Selain itu, sejumlah cabang yang sebelumnya jarang mencetak prestasi mulai menunjukkan kebangkitan.
“Tenis meja dapat satu perak dan satu perunggu, berkuda atau Pordasi dapat dua emas, dua perak, dan dua perunggu. Tinju juga dapat satu emas, empat perak, dan empat perunggu,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti dominasi tim ice hockey Indonesia yang secara mengejutkan mampu mengalahkan negara-negara kuat Asia Tenggara seperti Thailand dan Filipina.
“Ini betul-betul menjadi semangat baru bagi olahraga Indonesia,” tambahnya.
Sain itu, NOC Indonesia bersama sejumlah negara Asia Tenggara juga tengah menginisiasi perluasan SEA Games menjadi SEA Plus, yakni multi-event regional yang melibatkan lebih banyak negara di luar Asia Tenggara.
“Kami sudah ikut dalam satu kaukus baru bernama SEA Plus. Ini bukan hanya 11 negara Asia Tenggara, tapi juga akan ditambah negara dari Asia Tengah dan Oseania,” jelas Oktohari.
Ajang SEA Plus pertama direncanakan digelar di Filipina pada 2028. Menurutnya, langkah ini penting untuk meningkatkan kualitas persaingan dan menjadikan multi-event regional lebih relevan sebagai jalur pembinaan menuju level dunia.
“Kalau selama ini kita mengukur hanya 11 negara, nanti ukurannya jadi lebih besar dan lebih kompetitif,” katanya.
Salah satu capaian strategis yang disoroti Oktohari adalah keberhasilan diplomasi NOC Indonesia dengan Federasi Angkat Besi Dunia terkait pembagian kelas berat Olimpiade LA 2028.
“Selama ini kita pusing karena Rizki dan Rahmat berada di kelas yang sama. Tapi di LA 2028 akhirnya kelas itu dipecah jadi 75 kilogram dan 85 kilogram,” jelasnya.
Hasilnya sudah terlihat di SEA Games Thailand, di mana Rizki tampil di kelas 79 kg dan Rahmat di 88 kg, keduanya meraih emas dan Rizki memecahkan rekor dunia.
“Bukan rekor Asia Tenggara, bukan rekor Asia, tapi rekor dunia. Ini luar biasa dan jadi modal besar menuju Olimpiade,” katanya.
Asian Games Nagoya Jadi Ujian Berikutnya
Oktohari menegaskan Asian Games Nagoya 2026 akan menjadi tolok ukur lanjutan bagi atlet-atlet yang bersinar di SEA Games. Ajang tersebut menjadi momen penting untuk memastikan konsistensi prestasi sebelum menuju Olimpiade.
“Asian Games Nagoya itu tinggal kurang dari satu tahun lagi. Dari situ kita ukur ulang para atlet ini agar bisa terjaga performanya sampai Olimpiade 2028,” ujarnya.
NOC Indonesia bersama para pemangku kepentingan olahraga nasional juga telah melaporkan kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir terkait rencana pembentukan tim pendampingan khusus kualifikasi Olimpiade.
“Tahun 2026 adalah awal proses kualifikasi Olimpiade LA 2028. Kita ingin mengawal sejak awal supaya tidak ada yang kelewatan,” tegas Okto.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

