EKBIS
IHSG Anjlok Hampir 5 Persen, Tekanan Global Datang Bersamaan dengan PR Lama Pasar Modal
IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (2/2) sore ditutup melemah tajam, seiring tekanan dari bursa saham kawasan Asia dan sentimen global yang belum kondusif.
apakabar.co.id, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Senin (2/2) sore ditutup melemah tajam, seiring tekanan dari bursa saham kawasan Asia dan sentimen global yang belum kondusif.
Pelemahan ini membuat pasar saham domestik kembali berada di bawah tekanan setelah sempat bertahan di level psikologis.
IHSG ditutup turun 406,88 poin atau 4,88 persen ke posisi 7.922,73. Penurunan ini mencerminkan koreksi hampir 5 persen dalam satu hari perdagangan. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan juga ikut melemah 27,29 poin atau 3,27 persen ke level 806,24.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menyebutkan, salah satu sentimen negatif datang dari koreksi harga komoditas global. Padahal, selama beberapa waktu terakhir, saham-saham berbasis komoditas menjadi penopang utama penguatan IHSG.
“Sentimen negatif di antaranya berasal dari koreksi harga komoditas di tingkat global, yang selama ini menjadi penopang penguatan IHSG,” ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Senin (2/2).
Selain faktor global, pelaku pasar juga masih bersikap wait and see terhadap langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI yang melakukan pertemuan dengan MSCI. Pertemuan ini dinilai krusial untuk mengembalikan kepercayaan investor global, terutama terkait isu transparansi dan reformasi pasar modal Indonesia.
Di tengah tekanan tersebut, data ekonomi domestik sebenarnya menunjukkan sinyal yang relatif positif. Indeks PMI Manufacturing Indonesia tercatat naik ke level 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 sebelumnya. Angka ini menandakan aktivitas pabrik terus meningkat selama enam bulan berturut-turut.
Surplus neraca perdagangan juga menguat. Pada Desember 2025, surplus tercatat sebesar 2,52 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan 2,24 miliar dolar AS pada Desember 2024. Kinerja ini ditopang oleh pertumbuhan ekspor sebesar 11,64 persen secara tahunan (year on year).
Namun, di sisi lain, inflasi tercatat berakselerasi menjadi 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026, meskipun secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,15 persen. Kondisi ini menambah pertimbangan investor dalam membaca arah kebijakan ekonomi ke depan.
Tekanan juga datang dari kawasan Asia. Mayoritas bursa regional ditutup melemah, di tengah perhatian pasar terhadap data aktivitas pabrik China yang meningkat menjelang libur Tahun Baru Imlek. Sentimen negatif global turut dipicu oleh respons pasar terhadap pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Chairman The Fed, kekhawatiran bubble di sektor kecerdasan buatan (AI), serta aksi jual besar-besaran pada emas dan perak.
Meski kerap disebut dipicu faktor eksternal, sebagian pelaku pasar menilai pelemahan IHSG juga mencerminkan persoalan struktural di dalam negeri, seperti likuiditas pasar, rendahnya free float sejumlah saham, serta kepercayaan investor asing yang belum sepenuhnya pulih.
Sepanjang perdagangan, IHSG dibuka melemah dan bertahan di zona merah hingga penutupan sesi kedua. Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, seluruh 11 sektor mencatatkan pelemahan. Sektor barang baku turun paling dalam sebesar 10,60 persen, diikuti sektor barang non-konsumen dan energi yang masing-masing melemah 7,89 persen.
Saham yang mencatatkan penguatan terbesar antara lain INTD, SOHO, SWID, EDGE, dan NICK. Sementara saham dengan pelemahan terdalam di antaranya CUAN, MBMA, ENRG, GTSI, dan MDKA.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.949.040 transaksi dengan volume 50,41 miliar saham dan nilai transaksi Rp29,17 triliun. Sebanyak 58 saham menguat, 720 saham melemah, dan 36 saham stagnan.
Di kawasan Asia, indeks Nikkei turun 667,70 poin atau 1,25 persen ke 52.655,19. Indeks Hang Seng melemah 611,53 poin atau 2,23 persen ke 26.775,57. Indeks Shanghai turun 102,20 poin atau 2,48 persen ke 4.015,75, sementara Straits Times melemah 12,85 poin atau 0,26 persen ke 4.892,27.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK