EKBIS
Stabilitas Keuangan Perlu Dijaga di Tengah Konflik Geopolitik
apakabar.co.id, JAKARTA - Research Director Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) Gundy Cahyadi menyampaikan bahwa meluasnya risiko geopolitik menjadi sinyal pentingnya bagi Indonesia menjaga stabilitas keuangan dan nilai tukar sebagai prioritas.
"Ini bukan tahun untuk terlalu banyak eksperimen kebijakan. Arah strategis sudah ada, yang paling dibutuhkan sekarang adalah konsistensi dan kualitas eksekusi,” ujar Gundy Cahyadi dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa.
Untuk diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memutuskan AS menarik diri dari 66 organisasi internasional, termasuk 31 badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan 35 organisasi non-PBB yang dinilai tak lagi sejalan dengan kepentingan nasional AS.
Keputusan tersebut terjadi pasca AS menuai kritik karena menyerang Venezuela, menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya Cilia Flores, serta menerbangkan keduanya keluar dari negara tersebut atas tuduhan keterlibatan dalam narko-terorisme yang mengancam AS.
Ketegangan ini muncul bersamaan seiring kekhawatiran geopolitik di kawasan lain yang meningkat, termasuk adanya kemungkinan terjadi pada hubungan China–Taiwan.
“Prasasti menilai Indonesia relatif siap menghadapi peningkatan ketidakpastian global. Namun, di tengah risiko geopolitik yang meningkat, ruang kesalahan menjadi semakin sempit. Stabilitas, kredibilitas kebijakan, dan eksekusi yang efektif menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional ke depan,” ungkap Gundy.
Dia menilai kestabilan kebijakan menjadi kunci untuk menanggapi risiko geopolitik yang semakin kompleks dan berpotensi meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dan menekan prospek pertumbuhan ekonomi global.
Apabila ketegangan politik meluas ke luar kawasan konflik utama, katanya, risiko terhadap perdagangan, investasi, dan koordinasi kebijakan global akan jauh lebih signifikan.
Kendati demikian, pihaknya mencatat bahwa perekonomian global sejauh ini relatif mampu bertahan.
Dalam jangka pendek, pasar keuangan disebut menjadi kanal transmisi utama. Valuasi aset global yang relatif tinggi membuat sentimen pasar lebih sensitif terhadap guncangan politik.
“Dalam kondisi pasar yang sudah ‘stretched’, shock geopolitik sekecil apa pun bisa dengan cepat mengguncang dan mengganggu stabilitas pasar keuangan,” ucapnya.
Sementara itu, dampak terhadap harga minyak global sejauh ini dinilai masih terbatas. Kondisi suplai energi yang relatif longgar, termasuk kebijakan produksi OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) dan ketahanan produksi minyak serpih AS, dianggap membantu menjaga stabilitas harga.
Artinya, pasar energi saat ini secara struktural lebih siap menyerap guncangan dibandingkan siklus sebelumnya. Adapun dampak terhadap Indonesia, tekanan inflasi jangka pendek disebut masih relatif terkendali selama harga energi global tetap stabil.
Efek langsung terhadap inflasi dan risiko fiskal energi dianggap terbatas, sementara inflasi pangan lebih banyak dipengaruhi faktor domestik seperti pasokan, musim, dan distribusi. Namun, nilai tukar rupiah menjadi variabel yang paling perlu diwaspadai.
Menurut Gundy, risiko utama berasal dari perubahan sentimen global. Jika terjadi lonjakan aversi risiko, ucap dia, arus modal cenderung kembali ke aset aman, dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan menghadapi tekanan terlebih dahulu.
“Prasasti menilai Indonesia memasuki periode ini dengan fundamental yang relatif kuat dan basis permintaan domestik yang besar, sehingga lebih resilien dibandingkan sejumlah negara kawasan. Meski demikian, ketahanan tersebut bukan berarti tanpa risiko. Volatilitas nilai tukar berpotensi menekan investasi, mengingat tingginya kandungan impor dalam siklus investasi domestik,” jelasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY


