LIFESTYLE

“Dari Diri, ke Karya, ke Dampak”, Ruang Refleksi di Tengah Hidup Modern

Peluncuran buku terbaru karya Sunil R Tolani berjudul 'Udah, Gini Aja!'. foto: dok.Istimewa
Peluncuran buku terbaru karya Sunil R Tolani berjudul 'Udah, Gini Aja!'. foto: dok.Istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah ritme hidup yang serba cepat, jarang ada ruang untuk benar-benar berhenti dan bertanya pada diri sendiri. Apakah kita masih menikmati hidup yang dijalani? 

Pertanyaan inilah yang terasa kuat dalam Creative Business Gathering bertajuk “Dari Diri, ke Karya, ke Dampak”, hasil kolaborasi IDMC dan Mindset Merdeka.

Acara yang digelar di Wayang Bistro, Kota Kasablanka Mall, Jakarta, ini menghadirkan ratusan kreator, founder, profesional, hingga pembaca setia karya Sunil R Tolani. 

Namun, suasana yang tercipta jauh dari kesan kaku sebuah acara bisnis. Percakapan mengalir santai, hangat, dan penuh refleksi—seolah mengajak setiap peserta untuk menarik napas sejenak dari rutinitas yang padat.



Lewat diskusi panel yang dipandu Cahyadi Pakeh sebagai moderator dan Fizly Ciputri sebagai MC, para pembicara seperti Christina Lie, Adit MKM, dan Ryan Kristo berbagi cerita tentang sisi lain dari kesuksesan. 

Bukan hanya soal pencapaian, tetapi juga tentang rasa lelah, kejenuhan, dan perasaan kosong yang kerap muncul di balik kesibukan yang terlihat produktif.

Salah satu momen penting dalam acara ini adalah peluncuran eBook terbaru Sunil R Tolani berjudul Terlalu Sibuk Untuk Hidup. 

Penulis 'Udah, Gini Aja!', sekaligus Founder Mindset Merdeka dan Co-Founder BigThinkersID Podcast Media ini, mengajak pembaca untuk mengkritisi budaya sibuk yang sering dianggap sebagai tanda keberhasilan, padahal perlahan bisa menjauhkan seseorang dari dirinya sendiri.

Isu yang diangkat terasa semakin relevan dengan kehadiran berbagai tokoh lintas profesi, mulai dari Dr. dr. Pinpin Bakhtiar, Dr. Taufan Teguh Akbari, James Gwee, Roby Tan, Tabitha Napitupulu, Caezarro Rey Abishur, Wilson Tan, hingga figur publik lainnya. 

Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kegelisahan tentang makna hidup dan keseimbangan bukan hanya milik satu generasi atau satu bidang pekerjaan saja.

Melalui “Dari Diri, ke Karya, ke Dampak”, penyelenggara ingin mengingatkan bahwa perjalanan hidup dan karier tidak selalu harus dimulai dari target besar atau ambisi tanpa henti. 

Terkadang, langkah paling penting justru adalah kembali ke diri sendiri—berani berhenti, mendengar, dan memastikan bahwa hidup yang dijalani benar-benar sejalan dengan apa yang ingin kita maknai.