LIFESTYLE

Orang Tua Diminta Waspada Darurat Medis saat Bepergian dengan Anak

Dua anak penumpang pesawat di Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (7/1/2025). Foto: Antara
Dua anak penumpang pesawat di Bandara Supadio, Kubu Raya, Kalimantan Barat, Selasa (7/1/2025). Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan menghadapi kemungkinan keadaan darurat medis saat melakukan perjalanan jauh bersama bayi dan anak.

Ketua Umum IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, menekankan bahwa perjalanan jarak jauh, terutama menggunakan transportasi umum seperti pesawat, dapat memicu risiko kesehatan tertentu pada anak. Oleh karena itu, persiapan matang menjadi kunci utama untuk mencegah kondisi darurat yang lebih serius.

“IDAI mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya orang tua yang akan melakukan perjalanan jauh bersama bayi dan anak, untuk selalu mempersiapkan diri dengan memeriksakan kondisi kesehatan anak sebelum bepergian,” ujar Piprim dikutip dari Antara, Selasa (3/2).


Selain pemeriksaan kesehatan, Piprim juga mengingatkan orang tua untuk memastikan seluruh kebutuhan anak telah dipersiapkan dengan baik, termasuk membawa obat-obatan pribadi yang rutin dikonsumsi anak maupun obat darurat sesuai anjuran dokter.

Tak kalah penting, orang tua juga disarankan untuk memahami prosedur permintaan pertolongan medis darurat saat berada di dalam sarana transportasi, seperti pesawat, kereta, atau kapal laut. Pengetahuan dasar ini dinilai krusial agar pertolongan bisa diberikan secepat mungkin ketika terjadi kondisi gawat darurat.

“Pada situasi darurat, anak membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Keterlambatan penanganan bisa berdampak serius terhadap keselamatan anak,” jelas Piprim.

Imbauan ini disampaikan IDAI menyusul kejadian seorang bayi berusia 22 bulan yang mengalami kejang saat penerbangan Citilink QG 990 rute Jakarta–Bengkulu pada Mei 2025 lalu. Dalam insiden tersebut, bayi berhasil mendapatkan pertolongan pertama berkat kehadiran dokter anak yang berada dalam penerbangan yang sama.

IDAI secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Dr. dr. Erli Meichory Viorika, Sp.A, anggota IDAI Cabang Bengkulu, yang sigap memberikan pertolongan medis kepada bayi tersebut di dalam pesawat.

“Ini merupakan refleksi langsung dari komitmen profesi dokter anak yang siap membantu dalam situasi apa pun sesuai dengan sumpah dan etik kedokteran, meskipun berada di luar lingkungan klinis formal,” ujar Piprim.

Selain kepada tenaga medis, IDAI juga memberikan apresiasi kepada maskapai Citilink Indonesia yang dinilai responsif dalam memfasilitasi penanganan medis darurat di dalam pesawat.


Corporate Secretary & CSR Group Head PT Citilink Indonesia, Tashia Scholz, menjelaskan bahwa pihak maskapai segera mengambil langkah cepat begitu menerima laporan adanya penumpang anak yang mengalami kejang.

“Berkat penanganan yang cepat dan tepat, dokter yang turut dalam penerbangan Citilink tersebut menyatakan bahwa kondisi bayi telah kembali stabil dan layak untuk melanjutkan penerbangan,” kata Tashia dalam keterangan pers pada Minggu (1/2).

Ia menambahkan, setelah kondisi bayi dinyatakan stabil dan orang tua menyampaikan keinginan untuk melanjutkan perjalanan, penerbangan QG 990 akhirnya kembali dilanjutkan menuju Bengkulu.

IDAI berharap kejadian ini dapat menjadi pembelajaran bersama bagi masyarakat luas mengenai pentingnya kesiapan, kewaspadaan, serta kolaborasi antara tenaga medis, orang tua, dan penyedia layanan transportasi dalam menjamin keselamatan anak selama perjalanan.