LIFESTYLE

Batasi Remaja Pakai Ponsel, Orang Tua Perlu Pendekatan Efektif

Tiga siswa mengakses materi pelajaran melalui aplikasi sekolah secara daring menggunakan gawai saat peluncuran program internet gratis untuk sekolah di SMAN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (23/9/2025). Foto: Antara
Tiga siswa mengakses materi pelajaran melalui aplikasi sekolah secara daring menggunakan gawai saat peluncuran program internet gratis untuk sekolah di SMAN 1 Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (23/9/2025). Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Penggunaan ponsel di kalangan remaja SMA secara berlebihan berpotensi menghasilkan dampak negatif. Sebab usia remaja merupakan seorang yang mengalami peningkatan kemandian dan pencarian identitas dengan kontrol impuls secara neurologis dan pengambilan keputusan belum matang.

Karena itu, orang tua bisa melakukan pendekatan yang efektif untuk memberikan aturan pembatasan penggunaan gawai. Pendekatan efektif yang dimaksud diantaranya menyepakati pembatasan penggunaan gawai dari segi fungsi yakni remaja bebas menggunakan gawai untuk tugas sekolah dan komunikasi sosial pada jam tertentu. 

"Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras, karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan," kata psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia Kasandra Putranto di Jakarta, Selasa (3/2).
Selain itu orang tua bisa memberikan aturan dalam konteks waktu yakni tidak menggunakan ponsel pada saat jam makan, jam belajar dan sebelum tidur. Orang tua dan anak remajanya bisa membuat kesepakatan tentang batas waktu layar, misalnya maksimal dua sampai tiga jam hiburan digital per hari.

Dalam menerapkan aturan itu, kata Kasandra, perlu ada transparansi dari orang tua yang menjelaskan alasan aturan, bukan sekedar "pokoknya". Orang tua bisa menjadi teladan dengan mencontoh hal yang disepakati karena remaja sangat sensitif pada hal yang tidak konsisten.

Remaja memasuki usia SMA masih perlu pembatasan penggunaan ponsel, namun, perlu ada penyesuaian dibandingkan ketika dia masih anak-anak. Sebab, ereka masih rentan oleh distraksi, penggunaan berlebihan, dan ketergantungan digital.
Hal itu terjadi karena bagian otak prefrontal cortex yang berperan dalam pengendalian diri dan pertimbangan risiko masih berkembang hingga usia awal 20-an sehingga mereka masih perlu pendampingan dari orang dewasa.

"Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orang tua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak," jelasnya.