LIFESTYLE
Industri Beralih ke Energi Surya, Ratusan Proyek PLTS Dibangun di Indonesia
Sektor industri mulai melihat energi surya sebagai solusi untuk menekan biaya listrik sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.
apakabar.co.id, JAKARTA - Pertumbuhan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia terus menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.
Tren itu mencerminkan meningkatnya kebutuhan energi bersih sekaligus menandai semakin luasnya adopsi energi surya Indonesiaa di kalangan pelaku usaha.
Dalam beberapa tahun terakhir, sektor industri mulai melihat energi surya sebagai solusi untuk menekan biaya listrik sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon. Sejumlah perusahaan manufaktur, logistik, hingga sektor komersial mulai mengintegrasikan PLTS sebagai bagian dari strategi operasional jangka panjang.
Selain faktor efisiensi biaya, tren ini juga dipengaruhi oleh meningkatnya perhatian global terhadap transisi energi dan tuntutan rantai pasok yang lebih berkelanjutan. Banyak perusahaan multinasional kini mendorong mitra industrinya menggunakan energi rendah karbon, termasuk listrik dari sumber energi terbarukan.
Di Indonesia, penggunaan PLTS juga mulai mendapat dorongan dari regulasi pemerintah yang semakin memberikan kepastian bagi pengembangan energi terbarukan. Salah satunya melalui aturan terbaru mengenai perjanjian jual beli tenaga listrik dari pembangkit berbasis energi terbarukan.
Dalam konteks tersebut, sejumlah perusahaan pengembang PLTS lokal mulai memperluas proyek energi surya untuk memenuhi kebutuhan sektor industri. Salah satunya adalah Xurya, perusahaan energi surya yang berdiri sejak 2018 dan dikenal sebagai pionir skema penyediaan PLTS tanpa biaya investasi awal bagi pelanggan industri.
Hingga akhir 2025, Xurya telah merealisasikan lebih dari 300 proyek PLTS di berbagai sektor industri dan komersial di Indonesia.
Managing Director Xurya, Eka Himawan, menjelaskan penggunaan PLTS kini semakin dipandang sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan di Indonesia.
"PLTS telah menjadi bagian dari strategi operasional jangka panjang perusahaan-perusahaan di Indonesia. Regulasi terkait PLTS juga semakin jelas, sehingga membuka peluang bagi industri untuk memperluas penggunaan energi surya," ujar Eka dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/3).
Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir perusahaan tidak hanya fokus pada ekspansi proyek, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis agar mampu mendukung pertumbuhan industri energi surya secara berkelanjutan.
Langkah tersebut dilakukan melalui pengembangan proyek PLTS yang bankable, peningkatan kualitas instalasi sesuai standar nasional dan internasional, serta penguatan layanan operasional setelah sistem PLTS terpasang.
Selain memperkuat model bisnis, perusahaan juga mulai melakukan diversifikasi ke sektor hybrid off-grid dan Independent Power Producer (IPP). Diversifikasi ini dilakukan untuk menjawab meningkatnya permintaan pembangkit energi terbarukan berskala besar dari sektor industri yang membutuhkan pasokan listrik yang stabil dan efisien.
"Kami lihat permintaan pembangkit energi terbarukan skala besar terus meningkat, terutama dari sektor industri yang membutuhkan kepastian pasokan listrik dan efisiensi biaya," kata Eka.
Di sisi lain, perkembangan industri energi surya di Indonesia juga menghadapi tantangan pada aspek sumber daya manusia. Seiring meningkatnya proyek PLTS berskala besar, kebutuhan tenaga teknis yang memiliki kompetensi khusus di bidang instalasi dan pengelolaan sistem energi surya juga semakin meningkat.
Vice President Operations Xurya, Philip Effendy, menilai penguatan talenta lokal menjadi faktor penting untuk memastikan pertumbuhan industri energi surya yang berkelanjutan.
"Industri energi surya Indonesia masih relatif baru. Tantangan utama kami adalah memastikan kualitas pemasangan tetap tinggi sekaligus menyiapkan talenta lokal yang mampu menangani proyek yang kian kompleks," ujarnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, perusahaan menghadirkan Solar Academy Indonesia (SAI) pada 2024 sebagai program pelatihan teknis bagi perusahaan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) lokal yang terlibat dalam proyek PLTS.
Program tersebut mencakup pelatihan mengenai instalasi sistem energi surya, keselamatan kerja, hingga mitigasi risiko teknis seperti potensi kebakaran selama proyek berlangsung. Hingga 2025, program pelatihan ini telah diikuti ratusan peserta dari berbagai perusahaan EPC di Indonesia.
Ke depan, program tersebut direncanakan akan diperluas menjadi tiga sesi pelatihan setiap tahun guna mempercepat peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal di sektor energi surya.
Philip menilai keberhasilan transisi energi tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia yang mampu mengelola proyek energi terbarukan secara profesional.
"Tanpa talenta lokal yang kompeten, pertumbuhan industri tidak akan berkelanjutan," kata dia.
Seiring meningkatnya kebutuhan listrik rendah karbon dari sektor industri, energi surya diperkirakan akan menjadi salah satu sumber energi yang berkembang paling cepat di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Dukungan regulasi, kebutuhan efisiensi energi, serta tuntutan dekarbonisasi industri diperkirakan akan terus mendorong pertumbuhan PLTS industri di tanah air.
Memasuki 2026, pengembang PLTS di Indonesia diperkirakan akan semakin aktif memperluas proyek energi surya, seiring meningkatnya kesadaran perusahaan terhadap pentingnya energi yang berkelanjutan dan andal.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK