LIFESTYLE

Inovasi Kampus Turun ke Laut, Kapal Nirawak IoT Seabug Hadir di Karimunjawa

Sinergi DRRC UI dan CORDAP: Inovasi Kapal IoT Nirawak ‘Seabug’ Siap Jaga Ekosistem Terumbu Karang Karimunjawa. Foto: dok. UI
Sinergi DRRC UI dan CORDAP: Inovasi Kapal IoT Nirawak ‘Seabug’ Siap Jaga Ekosistem Terumbu Karang Karimunjawa. Foto: dok. UI
apakabar.co.id, JAKARTA - Upaya pelestarian terumbu karang di Karimunjawa memasuki fase baru melalui pengembangan kapal nirawak berbasis Internet of Things (IoT) bernama Seabug.

Inovasi ini dikembangkan oleh Disaster Risk Reduction Center Universitas Indonesia bekerja sama dengan Coral Research & Development Accelerator Platform (CORDAP).

Proyek riset ini bertujuan meningkatkan kualitas perairan laut sebagai penyangga utama ekosistem terumbu karang, sekaligus memperkuat sistem pemantauan lingkungan berbasis data real-time.

Sebagai tahap awal pelaksanaan pada 2026, tim peneliti DRRC UI melakukan survei lapangan di kawasan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, pada 4–8 Februari 2026.

Project Manager DRRC UI, Dr. Adonis Muzanni, M.E.M, mengatakan survei ini dilakukan untuk menentukan titik strategis penempatan kapal nirawak sekaligus memetakan kondisi biofisika perairan dan dinamika sosial masyarakat pesisir.

“Kami ingin memastikan teknologi yang dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan konservasi, tanpa mengganggu ekosistem maupun aktivitas masyarakat lokal,” ujar Adonis dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/3).
Rangkaian kegiatan diawali dengan Focus Group Discussion (FGD) di Aula Kantor Balai Taman Nasional Karimunjawa yang melibatkan pengelola kawasan konservasi, pemerintah desa, aparat kehutanan, serta tokoh masyarakat setempat.

Perwakilan Balai Taman Nasional Karimunjawa, Dr. Agus Roma Purnomo, menyoroti meningkatnya tekanan terhadap terumbu karang akibat sedimentasi dan aktivitas wisata bahari yang tidak terkontrol.

“Dalam lima tahun terakhir, kami mencatat adanya degradasi ekosistem karang, terutama akibat kekeruhan air dan aktivitas snorkeling oleh wisatawan yang kurang teredukasi,” kata Agus.

Meski demikian, ia menegaskan pihaknya terus melakukan upaya mitigasi melalui patroli wisata serta edukasi ramah lingkungan bagi pelaku pariwisata dan pengunjung.

Sementara itu, Lurah Karimunjawa Aris Setiawan menyampaikan bahwa masyarakat setempat telah menerapkan sistem buka-tutup zona laut sebagai bentuk konservasi berbasis kearifan lokal.

 “Kami juga sering menghadapi pemutihan karang saat suhu laut ekstrem, sehingga pemantauan kualitas air secara real-time akan sangat membantu dalam pengambilan kebijakan desa,” ujar Aris.

Usai FGD, tim DRRC UI melakukan pemantauan langsung ke sejumlah titik perairan menggunakan metode observasi lapangan yang dikombinasikan dengan teknologi digital.

Drone bawah air atau remotely operated vehicle (ROV) digunakan untuk memetakan kondisi visual terumbu karang, mengukur kedalaman, serta mengambil data parameter fisik air seperti pH dan salinitas.

Berdasarkan hasil kajian teknis dan pertimbangan keamanan perangkat dari arus laut serta kemudahan pemeliharaan, tim merekomendasikan dua lokasi potensial penempatan unit Seabug, yakni perairan di sekitar Naraya Resort dan Floating Paradise.

Menurut Adonis, seluruh data hasil survei akan dianalisis lebih lanjut di laboratorium untuk menentukan satu titik final penempatan kapal nirawak tersebut.

 “Kami memastikan infrastruktur ini tidak mengganggu estetika alam maupun jalur navigasi, melainkan berfungsi sebagai penjaga digital ekosistem bawah laut,” ujarnya.

Tahap selanjutnya adalah instalasi floating deck dan unit Seabug yang direncanakan berlangsung setelah Idulfitri 1447 Hijriah atau sekitar April 2026.

Melalui kolaborasi akademisi, pemerintah, masyarakat lokal, dan dukungan pendanaan internasional dari CORDAP, proyek ini diharapkan menjadi model restorasi terumbu karang berbasis teknologi yang dapat direplikasi di wilayah pesisir Indonesia lainnya.

Kalau Abang mau, saya bisa:
 • 📰 sesuaikan panjang & gaya persis Kompas.id (desk Sains/Lingkungan)
 • ✂️ buat versi lebih pendek untuk Google Discover
 • 🌍 siapkan versi English-ready untuk rilis internasional