LIFESTYLE
Risiko Diabetes Ternyata Menular di Rumah, Anak hingga Orang Tua Terancam
apakabar.co.id, JAKARTA – Diabetes selama ini kerap dipandang sebagai masalah kesehatan individu. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa penyakit ini sejatinya merupakan ancaman bersama dalam satu rumah tangga.
Risiko diabetes ternyata sering “berkumpul” dalam keluarga, memengaruhi orang tua, pasangan, hingga anak-anak sekaligus.
Temuan ini diungkap dalam sebuah studi observasional yang dipublikasikan di JAMA Network Open oleh peneliti dari Stanford University School of Medicine, Amerika Serikat.
Studi tersebut menyoroti besarnya potensi pencegahan diabetes jika pendekatan kesehatan tidak lagi berfokus pada individu, melainkan pada keluarga sebagai satu kesatuan.
Penelitian yang dipimpin oleh Tainayah Thomas, PhD, MPH, menganalisis data orang dewasa dengan pradiabetes dan anggota rumah tangga yang tinggal bersama mereka. Hasilnya cukup mencengangkan.
Sebanyak 75,9 persen rumah tangga dengan pasien pradiabetes memiliki setidaknya satu anggota keluarga tambahan yang juga menyimpan faktor risiko diabetes.
Faktor risiko tersebut tidak ringan. Di antaranya mencakup kelebihan berat badan atau obesitas, hipertensi, dislipidemia, penyakit kardiovaskular, diabetes gestasional, pradiabetes, hingga bukti diabetes yang sudah berkembang.
Kondisi paling dominan adalah kelebihan berat badan dan obesitas, yang ditemukan pada 54,9 persen orang dewasa dan 34,8 persen anak-anak dalam rumah tangga yang diteliti.
Lebih jauh, data menunjukkan bahwa hampir sepertiga orang dewasa yang tinggal bersama pasien pradiabetes memiliki kadar glukosa darah yang tidak normal.
Sebanyak 20,3 persen mengalami pradiabetes, sementara 12,2 persen sudah menunjukkan tanda diabetes. Selain itu, 19 persen menderita hipertensi dan 16,1 persen mengalami dislipidemia, dua kondisi yang memperburuk risiko kardiometabolik.
“Diabetes adalah penyakit lintas generasi. Ia tidak hanya menyerang satu individu, tetapi dapat memengaruhi anak, orang tua, bahkan kakek-nenek dalam satu keluarga,” tulis Thomas dan timnya.
Menurut mereka, kesamaan pola makan, gaya hidup, dan lingkungan rumah berperan besar dalam pengelompokan risiko tersebut.
Para peneliti menilai, temuan ini membuka peluang besar bagi sistem kesehatan untuk mengembangkan pencegahan diabetes berbasis keluarga, dengan memanfaatkan data rekam medis elektronik atau electronic health records (EHR).
Melalui EHR, sistem kesehatan dapat mengidentifikasi rumah tangga berisiko dan melakukan skrining dini terhadap anggota keluarga lain yang tinggal serumah.
“Karena anggota keluarga sering menerima perawatan di sistem kesehatan yang sama, EHR dapat digunakan untuk menyaring dan mengoordinasikan perawatan keluarga guna menurunkan risiko kardiometabolik secara menyeluruh,” ujar para peneliti.
Pendekatan ini juga dinilai berpotensi menekan biaya kesehatan jangka panjang. Intervensi terkoordinasi dalam satu rumah tangga dinilai lebih efisien dibandingkan menangani kasus diabetes satu per satu setelah penyakit berkembang.
Pandangan serupa disampaikan Rohit Vashisht, PhD, dari University of California, San Francisco, dalam editorial pendamping studi tersebut. Ia menilai bahwa strategi pencegahan diabetes saat ini masih terlalu berfokus pada individu.
“Bayangkan seorang pasien berusia 52 tahun dengan pradiabetes datang ke pemeriksaan rutin. Dalam model perawatan tradisional, dokter hanya fokus pada pasien tersebut,” kata Vashisht.
“Padahal, bisa saja pasien itu tinggal bersama pasangan yang juga memiliki pradiabetes yang belum terdiagnosis dan seorang anak remaja dengan obesitas,” lanjutnya.
Menurutnya, pendekatan berbasis rumah tangga membuka peluang intervensi terkoordinasi yang berpusat pada keluarga, bukan sekadar tiga pertemuan medis terpisah yang tidak saling terhubung.
Meski memiliki potensi besar, program pencegahan diabetes berbasis keluarga masih tergolong jarang. Hambatannya beragam, mulai dari persoalan logistik seperti waktu dan transportasi, dukungan keluarga yang tidak konsisten, biaya program, hingga faktor sosial seperti akses terhadap makanan sehat.
“Menerjemahkan temuan ini ke dalam praktik klinis sehari-hari membutuhkan perencanaan matang, mulai dari infrastruktur data, alur kerja layanan kesehatan, hingga sistem pembiayaan,” tegas Vashisht.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

