LIFESTYLE

Seniman Perempuan Bali Kian Bersinar, Pameran "Semburat Bali" Tampilkan Perspektif Baru

Perkembangan galeri independen dan komunitas seni di Bali dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang yang semakin luas bagi seniman perempuan Bali untuk menampilkan karya mereka.
Sarita Ibnoe memandu workshop di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. Foto: Nuanu Creative City
Sarita Ibnoe memandu workshop di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City. Foto: Nuanu Creative City
apakabar.co.id, JAKARTA - Perkembangan galeri independen dan komunitas seni di Bali dalam beberapa tahun terakhir membuka peluang yang semakin luas bagi seniman perempuan Bali untuk menampilkan karya mereka.
Kehadiran ruang pamer baru, program residensi, hingga berbagai kegiatan diskusi dan workshop seni memberi kesempatan bagi para perupa perempuan untuk bereksperimen sekaligus membangun dialog dengan publik.

Tren ini turut memperkaya lanskap seni di Pulau Dewata yang sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat kreativitas di Indonesia. Berbagai ruang seni kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat memamerkan karya, tetapi juga menjadi wadah pertemuan ide, kolaborasi lintas disiplin, serta pertukaran pengetahuan antara seniman dan masyarakat.

Dalam konteks tersebut, kontribusi seniman perempuan Bali semakin terlihat. Mereka tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai bagian penting dari ekosistem seni, mulai dari kurator, peneliti, hingga penggerak komunitas kreatif.

Salah satu contoh ruang yang memberi kesempatan bagi praktik seni yang beragam adalah Nuanu Creative City. Kawasan kreatif ini menghadirkan berbagai platform seni yang mempertemukan seniman dengan publik melalui pameran, diskusi, hingga program interaksi langsung dengan audiens.

Melalui Labyrinth Art Gallery, Nuanu saat ini menggelar pameran "Semburat Bali" yang berlangsung hingga 22 Maret 2026. Pameran tersebut menampilkan karya dua seniman perempuan, Wicitra Pradnyaratih dan Sarita Ibnoe.

Director of Brand and Communications Nuanu Creative City, Ida Ayu Astari Prada, menjelaskan ruang kreatif memiliki peran penting dalam menghadirkan keberagaman perspektif dalam dunia seni.

"Dalam ekosistem kreatif, perempuan membawa perspektif yang sangat penting, bukan hanya melalui karya yang mereka hasilkan, tetapi juga melalui pengalaman hidup dan cara mereka membaca dunia," ujarnya.

Menurutnya, ketika seniman memiliki ruang untuk mengekspresikan gagasan sekaligus berbagi pengetahuan dengan audiens, ekosistem seni dapat berkembang lebih dinamis dan relevan dengan perkembangan masyarakat.

Wicitra Pradnyaratih bersama karyanya Tideglow yang dipamerkan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu. Foto: Nuanu Creative City

Eksplorasi alam dalam karya Wicitra
Salah satu seniman yang tampil dalam pameran ini adalah Wicitra Pradnyaratih, perupa yang berbasis di Bali dengan latar belakang desain grafis.

Dalam praktik seninya, Wicitra memadukan medium digital dengan lukisan akrilik untuk mengeksplorasi hubungan antara alam, warna, dan suara.

Pendekatan tersebut melahirkan narasi visual yang ia sebut sebagai feminine landscape, yakni lanskap artistik yang menonjolkan sisi organik dan emosional dari alam.

Dua karya yang dipamerkan dalam pameran Semburat Bali, yaitu Tideglow dan Midnight Bloom, merefleksikan hubungan antara waktu, siklus kehidupan, serta kekuatan alam yang sering hadir secara sunyi.

Dalam karya Midnight Bloom, motif bunga anggrek dan lili muncul sebagai simbol ketahanan dan ketekunan. Bunga digambarkan tidak lagi sebagai ornamen pasif, melainkan sebagai simbol kekuatan dan kompleksitas pengalaman perempuan.

"Persoalannya bukan pada kapasitas perempuan, melainkan pada terbatasnya akses dan kesempatan yang seharusnya terbuka bagi siapa pun," kata Wicitra.

Ia berharap semakin banyak ruang kreatif yang dapat memberi kesempatan bagi seniman dari berbagai latar belakang untuk menampilkan karya sekaligus berdialog dengan publik.
Sarita Ibnoe bersama karyanya Resistance yang dipamerkan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu. Foto: Nuanu Creative City
Narasi sosial dalam karya Sarita Ibnoe
Selain Wicitra, pameran ini juga menampilkan karya seniman multidisipliner Sarita Ibnoe yang dikenal melalui praktik seni berbasis tekstil, terutama teknik tenun.

Sejak memulai kariernya pada 2013, Sarita mengembangkan medium tersebut menjadi berbagai bentuk ekspresi lain seperti instalasi, performans, hingga karya partisipatori.

Bagi Sarita, proses menenun bukan sekadar teknik artistik, tetapi juga cara merangkai pengalaman hidup menjadi narasi visual.

Dalam pameran ini ia menampilkan sejumlah karya seperti Unaccustomed, The New Art Teacher Series – Non-Technical Skills: Gestures and Watercolour #1, Resistance, serta Note.

Salah satu karya yang menonjol adalah Resistance, yang terinspirasi dari gelombang gerakan resistensi sosial di Jakarta.

Melalui komposisi warna hijau dan merah muda, karya tersebut menghadirkan simbol solidaritas serta kekuatan kolektif masyarakat dalam menghadapi situasi krisis.

"Perempuan kini tidak hanya hadir sebagai pencipta karya, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem seni, sebagai kurator, peneliti, pendidik, hingga penghubung komunitas," ujar Sarita.

Melalui pameran dan ruang kreatif yang terus berkembang di Bali, kehadiran seniman perempuan Bali semakin memperlihatkan kontribusi pentingnya dalam membentuk lanskap seni yang lebih beragam dan terbuka bagi berbagai perspektif.