NEWS
5,56 Juta Jemaah Antre Haji, Masa Tunggu Capai 26 Tahun
apakabar.co.id, SOLO - Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) mencatat sebanyak 5.560.847 jemaah Indonesia saat ini masih menunggu giliran diberangkatkan ke Tanah Suci Makkah.
Jumlah tersebut menggambarkan tingginya minat masyarakat untuk menunaikan ibadah haji, namun berbanding terbalik dengan kuota yang tersedia setiap tahun.
Sekretaris BPKH, Ahmad Zaky, menjelaskan panjangnya masa tunggu disebabkan keterbatasan kuota haji yang ditetapkan berdasarkan formula internasional, yakni 1:1.000 dari jumlah penduduk suatu negara. Sehingga rata-rata masa tunggu jemaah menjadi 26 tahun.
"Kita mendapatkan sekitar 221.000 kuota (haji) per tahun," ungkap Zaky ditemui di Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/2) kemarin.
Menurut kelompok umur, usia muda 0-40 ada sekitar 24,28%. Kemudian jenis kelamin perempuan lebih banyak daripada laki-laki sebesar 54,5%.
Kemudian berdasarkan pekerjaan, jemaah tunggu paling banyak adalah dari petani dan pengusaha. Dimana mencapai 36,14 persen.
Terkait masa tunggu jemaah yang terlalu lama, Zaky mengatakan sudah diputuskan oleh Organisasi Konferensi Islam (OKI).
"Jemaah tunggu ini di sistem negara berbeda-beda. Ada model di Mesir itu qurah/undian. Jadi di beberapa negara sudah diputuskan oleh OKI. Kuota haji ditentukan 1:1000 jumlah penduduk," sambungnya.
Dia menyebut misalnya Malaysia dengan jumlah penduduk yang mencapai 30 juta sehingga kuota haji yang diterima sekitar 31.600 dengan masa tunggu mencapai 149 tahun.
"Dengan model seperti itu beberapa negara seperti Malaysia dan Indonesia dikumpulin mereka boleh daftar nanti antrean dan dapat nomor porsi dan akan berangkat nanti. Tapi beberapa lain menggunakan model undian. Jadi dia dapat undian melunasi," jelasnya.
Model yang diterapkan di Indonesia dan Malaysia terhadap masa tunggu jemaah haji ditiru beberapa negara. Dana haji yang dihimpun kemudian dapat dikelola dengan baik.
"Beberapa negara lain belajar pengalaman Malaysia dan Indonesia dianggap bisa menghimpun dana dan bisa memberikan imbal hasil yang cukup besar untuk dikelola," tandasnya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

