NEWS
Iran Ancam Serang Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 200 Dolar AS
Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ibrahim Jabari, menyatakan Iran akan menyerang setiap kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
apakabar.co.id, JAKARTA - Ketegangan di kawasan Timur Tengah terus memanas. Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ibrahim Jabari, menyatakan Iran akan menyerang setiap kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan pada Selasa (3/3) dan langsung memicu kekhawatiran global.
Mengutip Kantor Berita ISNA, Jabari menegaskan bahwa Iran telah menutup Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan kapal-kapal melintas. Ia menyebut Amerika Serikat sebagai pihak yang "serakah akan minyak" dan memperingatkan bahwa langkah ini akan berdampak besar pada pasar energi dunia.
Menurut Jabari, jika jalur pelayaran vital tersebut benar-benar ditutup, harga minyak mentah global bisa melonjak hingga 200 dolar AS per barel atau sekitar Rp3,3 juta. Lonjakan itu dinilai dapat menimbulkan tekanan besar bagi negara-negara pengimpor minyak, termasuk Amerika Serikat.
Selama ini, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Perairan sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab.
Di bagian utara, garis pantai dikuasai Iran, sementara sisi selatan berbatasan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman.
Sebagian besar ekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk melewati selat ini. Gangguan sekecil apa pun di wilayah tersebut biasanya langsung berdampak pada harga energi global.
Laporan media berbasis di Qatar, Al Jazeera, yang mengutip sumber pelabuhan Irak, menyebutkan biaya pengiriman lewat laut ke Irak telah naik hingga 60 persen. Kenaikan itu dipicu melonjaknya tarif asuransi kapal akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan.
Tidak hanya itu, tujuh kapal tanker minyak dilaporkan tertahan di perairan Irak dan menunggu situasi membaik sebelum melanjutkan pelayaran. Sementara itu, pelabuhan terbesar Irak, Um Qasr, disebut tidak memiliki kapal yang sedang bersandar.
Ketegangan ini bermula dari rangkaian serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Pada Ahad (1/3), IRGC mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke tiga kapal tanker milik Amerika Serikat dan Inggris di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Sehari kemudian, mereka juga menyatakan sebuah kapal tanker AS dihantam dua drone Iran.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan itu telah menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban sipil.
Televisi pemerintah Iran bahkan mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, gugur akibat serangan tersebut. Kabar ini semakin memperuncing situasi dan memicu respons keras dari Teheran.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah. Aksi saling serang ini meningkatkan risiko konflik terbuka yang lebih luas di kawasan.
Dampak Global
Ancaman penutupan Selat Hormuz bukan hanya isu regional, melainkan persoalan global. Jika benar-benar terjadi, distribusi minyak dan LNG dunia akan terganggu secara signifikan. Negara-negara di Asia, Eropa, hingga Amerika sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Dikutip dari Sputnik/ RIA Novosti, lonjakan harga minyak hingga 200 dolar AS per barel berpotensi memicu inflasi, kenaikan harga bahan bakar, serta gejolak ekonomi di berbagai negara.
Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi mengenai penutupan total Selat Hormuz. Namun, situasi keamanan yang terus memburuk membuat dunia internasional mencermati perkembangan di kawasan tersebut dengan penuh kewaspadaan.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK