apakabar.co.id, BANJARMASIN – Partai Gerindra mengumumkan nama-nama jagonya di kontestasi Pilkada Kalimantan Selatan. Hanya M Yamin yang berstatus kader.
Penyerahan surat keputusan (SK) dulungan atau B1-KWK Selatan pada Senin (26/8) pagi berlangsung di Grand Qin Banjarbaru.
Ketua DPD Gerindra Kalsel, Mariana, menarget sapu bersih kemenangan mayoritas dalam kontestasi lima tahunan ini.
“Saya minta para calon kepala daerah bisa turun langsung menyapa masyarakat,” jelas putri mendiang tokoh Gerindra, Haji Abidin ini.
Surat dukungan yang diberikan menjadi modal bagi para calon mendaftar ke KPU, 27-29 Agustus 2024.
Ada 13 nama yang diusung Gerindra. Namun hanya segelintir yang merupakan kader Gerindra. Di Pilgub Kalsel, misalnya. Gerindra sejatinya memiliki anggota DPRD Kalsel dua periode, Lutfi Saefuddin.
Pemerhati politik dan hukum, Fikri Hadin melihat fenomena demikian di luar kewajaran. “Publik tentu bertanya mengapa Gerindra tidak mengusung calonnya sendiri,” jelas Fikri.
Lantas faktor apa yang melatari? apakabar kemudian menghubungi Mariana. Pun, Sekretaris DPD Gerindra Kalsel, Alpiya Rakhman. Mariana menjelaskan. Bahwa DPD harus tegak lurus dengan DPP.
“Kami tegak lurus dengan DPP jadi yang direkomendasikan DPP kami wajib menangkan,” jelasnya.
Sementara itu, Alpiya melihat tidak ada yang salah ketika Gerindra mengusung kader lain. Selama itu bisa berpotensi menang.
“Bisa bekerjasama dalam menjalankan program Bapak Prabowo Subianto, dan tentunya juga bisa mensejahterakan masyarakat Banua yang kita cintai ini,” jelasnya.
Kader, kata dia, tentu menjadi prioritas. Itu jika memang yang bersangkutan memenuhi kriteria yang dianggap partai bisa memenangkan Pilkada di daerah masing-masing.
Bukan hanya keinginan si kader, tapi ada beragam tolok ukur. Mulai dari elektabilitas, koalisi, pasangan calon, dan hal-hal non-teknis lainnya yang dianggap bisa memenangkan pertarungan.
“Proses pilkada tidak semudah sebuah keinginan ikut kontestasi tapi lebih bagaimana cara memenangkan kontestasi tersebut,” jelasnya.
Ia pun mengakui memang tidak banyak kader Gerindra di Kalsel yang benar-benar siap mengikuti kontestasi ini.
“Karena kalau kita hanya berbicara keinginan iya memang semuanya ingin tapi partai tidak hanya meliat keinginan tapi kesiapan yang paling prioritas,” pungkas anggota DPRD Kalsel terpilih ini.
Rentan Dadakan
Lebih condong mengusung nonkader ketimbang kader sendiri, apakah Gerindra memiliki masalah kaderisasi? Pertanyaan demikian media ini sodorkan ke akademisi politik Uniska, Uhaib Asad.
Uhaib kemudian mencermati rekomendasi yang dikeluarkan oleh Gerindra. Bahwa beberapa nama calon kepala daerah memang tidak memiliki latar belakang, aktivis atau pengurus partai besutan Prabowo itu.
“Untuk kandidat bupati Tanah Laut misalnya, tidak memiliki latar belakang Partai Gerindra, demikian pula beberapa kandidat daerah lainnya,” jelas doktor jebolan Brawijaya ini.
Lantas apa yang bisa dipahami dari fakta seperti ini? Hanya teori relasi kuasa yang bisa menjelaskannya. Ini berkelindan erat dengan kepentingan politik para aktor politik dan bisnis di belakang panggung.
“Sebab nyatanya Partai Gerindra mencalonkan orang yang tidak pernah berkeringat dan capek di partai,” jelasnya.
Bak dua sisi mata uang. Menjadi berkah bagi calon yang diusung. Di satu sisi praktik minor bagi demokrasi partai.
“Kutukan demokrasi itu muncul dari orang-orang yang merasa berjuang membesarkan partai namun tidak mendapatkan rekomendasi dari pimpinan Partai Gerindra,” jelasnya.
Kondisi demikian, kata dia, hanya akan menguatkan arus politik tukar tambah, politik transaksional. Termasuk jaringan patronase politik.
“Ini hanya akan melahirkan politisi instan, politisi dadakan, politisi tanpa keluar keringat karena kekuatan oligarki yang bisa mengatur semua permintaan politik,” jelasnya.
Inilah yang ia sebut sebagai pasar gelap demokrasi. Kondisi yang terbangun melalui persekongkolan di ruang gelap mengikuti selera cukong politik.
“Akhirnya, ekspresi partai politik tereduksi mengikuti selera para bandar politik atau cukong yang melakukan peternakan politik,” jelasnya.
- Kabupaten Kotabaru: Calon Bupati Muhammad Rusli dan Bakal Calon Wakil Bupati Syairi Mukhlis.
- Kabupaten Tanah Bumbu : Bakal Calon Bupati Andi Rudi Latif dan Bakal Calon Wakil Bupati Bahsanudin.
- Kabupaten Tanah Laut : Bakal Calon Bupati Rahmat Trianto dan Bakal Calon Wakil Bupati H Muhammad Zajuli.
- Kabupaten Balangan : Bakal Calon Bupati H Abdul Hadi dan Bakal Calon Wakil Bupati Ahmad Fauzi.
- Kabupaten Tabalong : Bakal Calon Bupati Muhammad Noor Rifani dan Bakal Calon Wakil Bupati Muhammad Taufani Alkaf.
- Kabupaten Hulu Sungai Utara : Bakal Calon Bupati Haji Syahrozani dan Bakal Calon Wakil Bupati Hero Setiawan.
- Kabupaten Hulu Sungai Tengah : Bakal Calon Bupati Syamsul Rizal dan Bakal Calon Wakil Bupati H Gusti Rosyadi.
- Kabupaten Hulu Sungai Selatan : Bakal Calon Bupati H Syafrudin Noor dan Bakal Calon Wakil Bupati Suriani.
- Kabupaten Tapin : Bakal Calon Bupati Dr Milhan dan Bakal Calon Wakil Bupati Habib Farid Assegaf.
- Kabupaten Barito Kuala : Bakal Calon Bupati Mujiyat dan Bakal Calon Wakil Bupati Fahrin Nizar.
- Kabupaten Banjar : Bakal Calon Bupati H Saidi Mansyur dan Bakal Calon Wakil Bupati Habib Said Idrus Alhabsyi.
- Kota Banjarmasin : Bakal Calon Walikota H Yamin dan Bakal Calon Wakil Walikota Hj Ananda.
- Kota Banjarbaru : Bakal Calon Walikota Hj Erna Lisa Halaby dan Bakal Calon Wakil Walikota Wartono