NEWS

Miris, Kaltim Daerah Kaya tapi Jadi Provinsi Terdepresi Nomor Dua Nasional

Ilustrasi Depresi. Foto: Antara
Ilustrasi Depresi. Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Kalimantan Timur (Kaltim) selama ini dikenal sebagai salah satu daerah terkaya di Indonesia berkat limpahan sumber daya alam. Namun di balik geliat ekonomi, provinsi calon Ibu Kota Nusantara itu justru menyimpan persoalan lain, yaitu menjadi provinsi dengan tingkat depresi tertinggi kedua secara nasional. 

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 oleh Kementerian Kesehatan mengungkapkan angka depresi nasional berada di level 1,4 persen. Artinya, satu dari seratus penduduk usia 15 tahun ke atas mengalami depresi. Namun di Kaltim, angkanya jauh lebih mengkhawatirkan, yaitu 2,2 persen.

Melihat situasi tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim menyatakan siap turun langsung melakukan pendampingan ke masyarakat dengan pendekatan keagamaan, pembinaan keluarga, serta penguatan hubungan sosial.


"Ada beberapa pola yang akan kami terapkan untuk menurunkan depresi, antara lain dengan pendampingan dan pembinaan, pendekatan keagamaan, serta pendekatan keluarga," ujar Ketua Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI Kaltim Gina Saptiani di Samarinda, Kamis (27/11).

MUI Kaltim mengaku prihatin melihat kondisi warganya yang masih banyak mengalami depresi. "Saya ikut miris, ternyata di Kaltim jumlah orang depresi sangat tinggi, padahal Kaltim termasuk daerah kaya, ekonomi masyarakat tercukupi. Bahkan tingkat depresi Kaltim berada di posisi dua di Indonesia," katanya.

Sepuluh provinsi dengan tingkat depresi tertinggi adalah Jawa Barat 3,3 persen, Kaltim 2,2 persen, Sulawesi Selatan dan Banten sama-sama 1,7 persen. Disusul Sulawesi Tengah, DIY, dan DKI Jakarta masing-masing 1,5 persen, Sulawesi Utara 1,4 persen, NTB 1,3 persen, dan Sumut 1,2 persen.

"Penduduk Kaltim mayoritas Islam, maka asumsi saya, mereka yang depresi kebanyakan adalah orang Islam, sehingga kami ingin melihat apa penyebabnya sekaligus ingin membantu memulihkan mereka," ujarnya.

Ia menegaskan kesiapan MUI membantu semua pihak menanggulangi depresi agar lebih banyak warga yang kembali hidup bahagia.

Kabid Pelayanan Medis RSJD AHM Kaltim Dini Andriyanti mengatakan pihaknya menjalankan diagnosis, perawatan, dan rehabilitasi pasien gangguan mental. 


Penyebab depresi antara lain masalah ekonomi, gagal menikah, pikiran buntu, dan tidak punya tempat bercerita. Banyak laki-laki usia produktif juga stres karena memendam masalah dan gengsi berbagi dengan orang lain.

"Saya gembira karena MUI datang dan ingin membantu menangani depresi. Semoga ke depan ada kerja sama berkelanjutan, karena semakin banyak pihak yang terlibat, maka makin cepat penanganannya," ujar Dini.