NEWS
Pelaku Teror Air Keras Aktivis KontraS Empat Orang: Diduga Terlatih dan Bukan Sipil
Terduga pelaku penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS Andrie Yunus teridentifikasi bergerak terstruktur dan sempat mengintai korban sebelum beraksi.
apakabar.co.id, JAKARTA - Penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM sekaligus Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, mulai mengerucut. Polda Metro Jaya mengungkap terduga pelaku berjumlah empat orang yang bergerak menggunakan dua sepeda motor dan diduga telah mengintai pergerakan korban sebelum melancarkan aksinya di kawasan Jalan Salemba I–Talang, Jakarta Pusat, Kamis (12/3) malam.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanuddin, menyebut para pelaku menunjukkan pola pergerakan yang terstruktur. Usai penyiraman, mereka melarikan diri ke arah berbeda, sebagian menuju Jakarta Selatan melalui Stasiun Gondangdia, sementara lainnya bergerak ke arah Jakarta Timur hingga Bogor. Rekaman CCTV juga menunjukkan salah satu pelaku sempat mengganti pakaian dalam pelarian.
Iman menilai para pelaku tampak tenang dalam berpindah dari satu titik ke titik lain sebelum kejadian, yang menjadi bagian dari pendalaman penyidik. Serangan tersebut menyebabkan luka serius pada Andrie. Cairan korosif mengenai bagian mata, wajah, dada, dan tangan, dengan luka bakar mencapai sekitar 24 persen. Sejumlah bagian pakaian korban juga dilaporkan meleleh akibat zat kimia tersebut.
Tanda Tanya Pelarian
Di sisi lain, tim kuasa hukum dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) menduga serangan dilakukan secara sistematis. Perwakilan TAUD, Alghiffari Aqsa, menilai pola aksi yang terorganisir menyulitkan jika dikaitkan dengan pelaku sipil biasa. Ia menduga pelaku di lapangan merupakan bagian dari rangkaian yang lebih besar.
Direktur LBH Jakarta, Fadhil Alfathan, juga melihat adanya tahapan operasi mulai dari pengintaian hingga eksekusi. Ia menyebut serangan tersebut mengarah pada dugaan percobaan pembunuhan berencana.
Perwakilan TAUD lainnya, Airlangga Julio menduga kuat pelaku penyiraman memiliki bekas luka bakar. "Pelaku mungkin saja juga terluka karena air keras yang dia siram sendiri," jelasnya.
Dugaan itu muncul karena pelaku terindikasi dengan sengaja membuang botol tempat dia menyimpan air keras. "Hampir mustahil pelaku ceroboh membuang barang bukti penting," sambungnya.
Hal itu semakin dikuatkan dengan tindakan pelaku yang melepaskan helm dan mengganti pakaian di tengah pelarian. Kata Airlangga mustahil hal itu dilakukan, mengingat justru akan membuka kemungkinan terlihat CCTV. "Kecuali helmnya ikut terkena air keras dan ikut melukai kepalanya," sambungnya.
Analisis Pakar
Di tengah berkembangnya berbagai dugaan, aparat didesak segera mengungkap pelaku dan motif. Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, menekankan pentingnya pengungkapan cepat untuk mencegah spekulasi di ruang publik. Ia juga menyebut tidak menutup kemungkinan perlunya kerja sama lintas institusi, termasuk dengan TNI.
Menurut Bambang, pelaku penyerangan belum tentu berasal dari pihak yang selama ini dikritik korban, sehingga penyelidikan perlu dilakukan secara menyeluruh. Ia mengingatkan keterlambatan pengungkapan berpotensi memunculkan berbagai asumsi dan teori konspirasi yang dapat merugikan banyak pihak.
Sementara itu, pakar geopolitik Universitas Negeri Jakarta, Rasminto, mengingatkan publik agar tidak terjebak dalam politik adu domba. Ia menegaskan penyiraman air keras merupakan kejahatan serius yang harus diusut tuntas, namun spekulasi tanpa dasar, terutama yang mengaitkan institusi negara, dapat merusak kohesi sosial.
Rasminto juga menyoroti beredarnya foto yang diklaim sebagai identitas pelaku sekaligus anggota intelijen militer di media sosial. Ia merujuk pernyataan kepolisian yang menyebut gambar tersebut merupakan hasil manipulasi digital berbasis kecerdasan buatan (AI).
Menurutnya, dalam negara hukum, setiap kasus pidana harus diselesaikan melalui proses penyelidikan dan penyidikan yang objektif. Publik diminta menahan diri dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Hingga kini, kepolisian menyatakan penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap identitas pelaku dan motif di balik penyerangan tersebut.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

