NEWS

Pemerintah Targetkan Puluhan Ribu Artefak Budaya Kembali ke Indonesia pada 2026

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Foto:Doc. Krmenbud
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon. Foto:Doc. Krmenbud
apakabar.co.id, JAKARTA — Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat proses repatriasi atau pengembalian artefak budaya Indonesia dari luar negeri. Pada 2026, Kementerian Kebudayaan menargetkan pemulangan puluhan ribu koleksi bersejarah yang selama ini tersimpan di berbagai museum dan institusi asing, terutama di Belanda.

“Untuk koleksi Dubois saja jumlahnya sekitar 28 ribu artefak. Mudah-mudahan semuanya bisa datang tahun iini,” ujar Fadli Zon saat konferensi pers refleksi kebudayaan 2025, Kebijakan 2026 di Jakarta, Kamis (8/1).

Ia menjelaskan, proses pengembalian artefak dalam jumlah besar membutuhkan waktu karena harus mengikuti standar internasional yang ketat. Ribuan artefak tersebut tidak dapat diangkut menggunakan pesawat, melainkan melalui pengiriman laut menggunakan kontainer khusus.

“Jumlahnya bisa sampai enam kontainer besar. Pengemasannya harus satu per satu, suhunya diatur, dan mengikuti prosedur pemeliharaan artefak yang sangat rigid,” kata Fadli.

Menurut dia, seluruh biaya pengemasan dan pengiriman artefak dari Belanda ditanggung oleh pihak negara penyimpan koleksi. Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan anggaran untuk proses tersebut.

Selain koleksi Dubois, pemerintah juga terus mengupayakan pemulangan berbagai artefak penting lain yang memiliki nilai sejarah tinggi. Tim repatriasi Kementerian Kebudayaan telah melakukan penelitian asal-usul (provenance research) untuk membuktikan bahwa sejumlah artefak dibawa ke luar negeri pada masa kolonial secara tidak sah atau tidak etis.


“Kalau bisa dibuktikan bahwa benda-benda itu dirampas atau diambil dalam konteks perang, maka secara etika harus dikembalikan,” ujarnya.

Beberapa artefak yang telah diajukan untuk dipulangkan antara lain keris dan Al-Qur’an milik pahlawan nasional Teuku Umar, senjata-senjata Perang Padri, serta artefak yang diambil dalam perang puputan di Bali dan Lombok.

Upaya repatriasi juga dilakukan ke negara lain di luar Belanda. Pemerintah Indonesia juga membuka dialog dengan Inggris terkait pengembalian Prasasti Sangguran yang kini berada di Skotlandia dan dimiliki oleh yayasan swasta. Fadli Zon mengaku telah bertemu langsung dengan keturunan Lord Minto, tokoh kolonial yang membawa prasasti tersebut ke Inggris.

“Kita tidak berbicara soal ganti rugi. Pendekatannya adalah dialog dan kesadaran etis bahwa artefak ini merupakan bagian dari sejarah dan identitas bangsa Indonesia,” tegasnya.

Selain Inggris, komunikasi juga dilakukan dengan Jerman, Belgia, dan India, meski sebagian proses masih terkendala status kepemilikan swasta.

Fadli Zon berharap keberhasilan pemulangan puluhan ribu artefak dari Belanda dapat menjadi preseden positif bagi negara-negara lain.

“Yang kita pulangkan bukan hanya bendanya, tetapi juga memori sejarah dan martabat peradaban bangsa,” pungkasnya.