LINGKUNGAN HIDUP
BRIN Ungkap Metode Pulihkan DAS untuk Kesejahteraan Rakyat
apakabar.co.id, JAKARTA - Profesor Riset Bidang Ekologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hunggul Yudono Setio Hadinugroho mengungkapkan sejumlah metode untuk memulihkan Daerah Aliran Sungai (DAS) menuju lanskap regeneratif yang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Hunggul mengungkapkan metode konservasi tanah dan air mampu menekan erosi hingga puluhan ton/hektare/tahun pada wilayah DAS holtikultura.
"Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga ekonomi petani dapat menghemat biaya produksi sekaligus menjaga kesuburan tanah," katanya dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (2/4).
Hunggul melanjutkan pendekatan vegetatif, seperti penanaman tanaman bernilai ekonomi tinggi, terbukti mengurangi degradasi lahan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan lokal.
Sementara itu sistem agroforestri dan pengelolaan lahan kering yang dikembangkan mampu menurunkan erosi hingga 55 persen, meningkatkan infiltrasi air, serta menyediakan pakan ternak dan sumber energi alternatif.
"Hasil ini menunjukkan bahwa konservasi tidak harus mengorbankan ekonomi, justru dapat berjalan beriringan," ujarnya.
Hunggul juga menyebutkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di wilayah DAS dapat memberikan manfaat ganda yaitu menyediakan energi bersih bagi masyarakat pedesaan, mendorong kegiatan ekonomi produktif, dan menjadi insentif bagi masyarakat untuk menjaga hutan dan sumber air.
Selanjutnya, ia juga mengembangkan berbagai teknologi berbasis data dan partisipasi masyarakat, seperti alat monitoring hujan sederhana ATHUS (Alat Takar Hujan Sederhana) hingga sistem peringatan dini berbasis sensor ModATHUS (Modified ATHUS) untuk banjir dan longsor, serta platform data kualitas lingkungan real-time berbasis web dan aplikasi.
Hunggul menekankan manfaat riset akan optimal jika terintegrasi dalam kebijakan. Pendekatan seperti Payment for Ecosystem Services (PES), citizen science, dan kolaborasi quadruple helix (akademisi, pemerintah, swasta, masyarakat) telah terbukti memperkuat implementasi pengelolaan DAS secara berkelanjutan.
"Riset harus hadir sebagai solusi yang implementatif dan kontekstual, agar mampu menjawab kebutuhan nyata di lapangan," ujarnya.
Menurut Hunggul, pendekatan yang bersifat regeneratif ini tidak hanya mempertahankan kondisi, tetapi memulihkan dan meningkatkan kualitas ekosistem sekaligus kesejahteraan masyarakat.
"Pendekatan ini menempatkan masyarakat sebagai aktor utama, dengan dukungan teknologi dan kebijakan yang adaptif," lanjut dia.
Hunggul menegaskan transformasi DAS bukan sekadar upaya teknis, melainkan perubahan cara pandang dalam mengelola lingkungan.
"Dengan pendekatan yang integratif, yaitu menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, kearifan lokal, dan partisipasi masyarakat, pengelolaan DAS dapat menjadi fondasi bagi ketahanan lingkungan, kesejahteraan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan," pungkasnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY

