LIFESTYLE
Rumah Warga Tionghoa Penuh Simbol Hoki Saat Imlek? Ini Penjelasannya
Menurut Yulius, setiap orang tentu menginginkan keberuntungan dalam hidupnya. Karena itu, praktik seperti feng shui, astrologi Tionghoa, hingga bazi berkembang sebagai upaya menghadirkan energi positif dalam kehidupan.
apakabar.co.id, JAKARTA - Perayaan Tahun Baru Imlek identik dengan warna merah, lampion, dan berbagai hiasan khas yang dipercaya membawa keberuntungan. Pakar Feng Shui, Yulius Fang, mengungkapkan bahwa sejumlah simbol keberuntungan memang lazim dipajang di rumah keluarga keturunan Tionghoa saat Imlek.
Menurut Yulius, setiap orang tentu menginginkan keberuntungan dalam hidupnya. Karena itu, praktik seperti feng shui, astrologi Tionghoa, hingga bazi berkembang sebagai upaya menghadirkan energi positif dalam kehidupan.
“Semua orang, dari muda sampai tua, laki-laki maupun perempuan, pasti butuh keberuntungan dalam hidupnya,” ujarnya di Jakarta, Selasa (17/2).
Namun, ia menegaskan bahwa keberuntungan tidak datang begitu saja. Kerja keras tetap menjadi kunci utama, sementara doa dan simbol-simbol dipercaya sebagai pengiring usaha.
Salah satu simbol yang paling sering terlihat saat Imlek adalah tulisan “Fu”. Dalam bahasa Tionghoa, Fu berarti keberuntungan atau hoki.
Tulisan ini biasanya dipasang di pintu atau dinding rumah dengan harapan pemilik rumah mendapat keberuntungan sepanjang tahun.
Menariknya, ada tradisi memasang tulisan Fu secara terbalik. Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, posisi terbalik ini melambangkan keberuntungan yang “tertumpah” atau mengalir masuk ke dalam rumah.
Tidak hanya saat Imlek, banyak keluarga yang menjadikan simbol Fu sebagai dekorasi permanen di rumah. Harapannya, usaha dan pekerjaan yang dijalankan selalu menghasilkan hal-hal baik.
Selain tulisan Fu, pajangan berbentuk koin emas kuno atau kotak harta juga sering terlihat di ruang tamu. Benda-benda itu melambangkan kemakmuran dan rezeki yang berlimpah.
Koin emas zaman dulu dipercaya sebagai simbol kekayaan. Sementara kotak harta menggambarkan penyimpanan rezeki yang terus bertambah. Penempatannya biasanya di meja atau area yang mudah terlihat.
Buah juga menjadi bagian penting dalam dekorasi Imlek. Jeruk sering dikaitkan dengan kemakmuran, sementara apel memiliki makna khusus.
Menurut Yulius, apel melambangkan “Ping An” yang berarti aman, sentosa, damai, dan harmonis. Karena itu, jeruk dan apel kerap dipajang di rumah, baik saat perayaan sincia maupun di hari biasa.
Hiasan lain yang tak kalah populer adalah patung Fu Lu Shou, tiga dewa yang melambangkan keberuntungan (Fu), karier atau jabatan (Lu), dan umur panjang (Shou). Banyak keluarga memajangnya sebagai simbol harapan akan hidup yang sejahtera dan panjang usia.
Selain itu, ada pula Caishen atau Dewa Harta yang dipercaya membawa kekayaan. Pada malam pergantian tahun, sebagian keluarga membuka pintu dan jendela serta menyalakan seluruh lampu rumah sebagai simbol menyambut datangnya rezeki.
Mitos yang perlu diluruskan
Yulius juga mengingatkan bahwa tidak semua kepercayaan yang beredar benar-benar berasal dari tradisi Tionghoa. Misalnya, anggapan bahwa hujan saat Imlek pasti membawa keberuntungan atau larangan menaruh benda tajam karena dianggap mendatangkan kesialan.
Ia menekankan bahwa yang terpenting bukan sekadar simbol, melainkan keseimbangan antara usaha, doa, dan sikap positif dalam menjalani hidup.
Pada akhirnya, hiasan Imlek bukan hanya soal dekorasi, tetapi juga cerminan harapan akan tahun yang lebih baik. Keberuntungan memang diharapkan, tetapi kerja keras dan ketekunan tetap menjadi fondasi utama untuk meraihnya.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK