OPINI
Tanah Bergerak: Dari Retakan Kecil ke Ancaman Besar
Oleh: Dian Fiantis*
Bencana alam datang silih berganti di berbagai wilayah Indonesia. Penyebabnya beragam, bermula dari dinamika atmosfer, lalu merayap pelan melalui pedosfer, hingga akhirnya melibatkan litosfer.
Tanah yang selama ini kokoh menyokong kehidupan, perlahan mulai bergerak dan terbelah membentuk retakan. Mungkinkah ini terjadi ?
Tanah di lereng perbukitan tidak selalu diam. Di banyak wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, tanah dapat bergerak perlahan mengikuti gravitasi. Pergerakan ini terjadi ketika hujan menjenuhkan tanah, struktur geologi lereng memang rentan, dan aktivitas manusia ikut melemahkan kestabilan alaminya.
Kejadian tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal pada awal Februari 2026, memperlihatkan bagaimana tanah dapat bergeser pelan namun berdampak besar bagi kehidupan warga. Peristiwa ini menunjukkan kaitan yang jelas antara hujan yang terus-menerus menjenuhkan tanah, kondisi lereng yang memang rapuh secara geologi, dan perubahan kecil di permukaan yang perlahan berkembang menjadi ancaman nyata.
Tanah bergerak tidak selalu datang sebagai longsor besar yang tiba-tiba, melainkan diawali tanda-tanda kecil yang kerap luput dari perhatian. Retakan tipis perlahan melebar, lantai rumah tak lagi rata, pintu mulai sulit ditutup, dan tiang pagar condong mengikuti lereng. Di Padasari, gejala-gejala inilah yang dirasakan warga ketika tanah di pekarangan rumah mereka diam-diam merayap turun mengikuti tarikan gravitasi.
Seorang pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan penjelasan penting: wilayah Padasari diduga berdiri di atas timbunan longsor purba. Penjelasan ini membantu memahami mengapa tanah di kawasan tersebut tidak runtuh seketika, melainkan bergerak perlahan dalam skala luas.
Mekanisme Ilmiah
Ketika hujan terus-menerus meresap ke dalam tanah, pori-pori tanah dipenuhi air hingga jenuh. Air ini membuat butiran tanah tidak lagi saling mengikat kuat seperti semula, sehingga daya tahannya melemah. Lereng yang tadinya kokoh perlahan kehilangan kemampuan menahan bebannya sendiri.
Pada kondisi ini, tanah tidak serta-merta longsor, melainkan berubah bentuk sangat pelan, nyaris tak terlihat dari hari ke hari. Pergerakan halus ini dalam geomorfologi dikenal sebagai soil creep atau deep-seated creep. Siklus basah dan kering, kembang-susut butiran liat tanah, dorongan akar, serta tarikan gravitasi bekerja bersama membuat butiran tanah perlahan merayap turun mengikuti lereng.
Di banyak wilayah tropis, tanah bergerak hampir selalu muncul setelah periode hujan ekstrem. Namun hujan bukan satu-satunya penyebab, melainkan pemicu dari kerentanan yang sudah ada sebelumnya. Hujan turun deras dan berlangsung lama sebelum tanah mulai bergerak. Air yang terus meresap membuat lapisan tanah atas jenuh, melemahkan ikatan antarbutir, dan mengaktifkan jalur gelincir alami yang tersembunyi di bawah permukaan.
Jejak Longsor Purba
Menurut penjelasan pakar BRIN, Padasari diduga berdiri di atas sisa material longsor besar yang terjadi ratusan hingga ribuan tahun lalu, yang dalam geologi dikenal sebagai relict landslide deposit. Material ini longgar, penuh rongga, menyimpan rekahan lama, dan memiliki jalur gelincir yang pernah aktif. Lerengnya tampak tenang, padahal fondasinya sejak awal rapuh.
Massa tanah seperti itu cenderung longgar, penuh rongga, menyimpan rekahan lama, dan memiliki jalur gelincir yang pernah aktif di masa lalu; lerengnya tampak tenang, padahal fondasinya sejak awal rapuh. Ketika hujan ekstrem datang, tanah tidak membuka jalur baru, melainkan kembali mengikuti jalur lama yang tersembunyi di bawah permukaan; seolah tanah “ingat jalan lamanya”.
Tanah yang bergerak bukan sekadar lapisan tipis di permukaan, melainkan massa tanah lama yang besar dan dalam, sisa longsor purba yang perlahan berubah bentuk kembali. Akibatnya retakan muncul luas, rumah tampak miring sedikit demi sedikit, dan jalan menjadi retak dan bergelombang, tanpa didahului longsor besar yang mendadak. Dalam banyak kasus, tanah bergerak yang kita saksikan hari ini adalah jejak lama longsor purba yang kembali aktif.
Wilayah bekas longsor purba biasanya memiliki ciri yang sering tidak disadari masyarakat: seperti permukaan lereng bergelombang halus. Ditemui undak-undak alami di lereng (bukan terasering) dan banyak mata air kecil muncul di lereng. Tanahnya sangat tebal dan gembur serta pola retakan sejajar kontur. Semua ini adalah morfologi khas bekas longsor lama.
Tanah bergerak jarang menimbulkan korban seketika seperti longsor, tetapi dampaknya meluas dan terasa lama. Rumah mulai retak, jalan perlahan rusak, dinding penahan tanah patah sedikit demi sedikit, warga terpaksa mengungsi, dan aktivitas ekonomi ikut terganggu. Justru di sinilah beban sosialnya terasa lebih berat, karena tak sedikit keluarga harus meninggalkan rumahnya untuk selamanya.
Bisakah Dicegah?
Tanah bergerak memang bisa dikurangi risikonya, tetapi tidak selalu dapat dihentikan sepenuhnya. Pada lereng yang biasa dan bukan bekas longsor purba, langkah sederhana seperti memperbaiki aliran air, menanami dengan bambu rumpun, jati, mahoni, durian, petai, sengon dan trembesi atau pohon berakar dalam lainnya. Pepohonan yang berakar dalam ini berfungsi mengikat tanah menjadi lapisan lebih stabil.
Dibuat terasering yang benar, dan tidak memotong kaki lereng sudah sangat membantu menahan tanah tetap di tempatnya. Di kondisi seperti ini, tata air dan cara memperlakukan lereng menjadi penentu apakah tanah akan tetap stabil atau mulai bergerak.
Namun ceritanya berbeda ketika tanah bergerak terjadi di atas timbunan longsor purba. Tanah di lokasi seperti ini sejak awal memang rapuh, tebal, dan menyimpan jalur gelincir lama di bawah permukaan. Dinding penahan, talud, atau perbaikan drainase hanya mampu memperlambat gerakannya, bukan menghentikannya. Karena itu, pada situasi tertentu, pilihan paling aman justru bukan memperkuat lereng, melainkan menjauh dari wilayah tersebut.
Meski tidak selalu bisa dicegah, risikonya tetap bisa ditekan. Pemetaan zona rawan, pemantauan hujan, pengaturan penggunaan lahan, serta pemahaman warga terhadap tanda-tanda awal tanah bergerak menjadi langkah penting yang menyelamatkan. Pada akhirnya, pencegahan bukan hanya soal teknik, tetapi juga tentang memahami sejarah tanah yang kita pijak dan bersikap bijak terhadapnya.
Mitigasi Berbasis Geomorfologi
Jika benar lokasi tersebut merupakan timbunan longsor purba, maka penanganannya tidak bisa hanya mengandalkan drainase atau perkuatan lereng sederhana. Wilayah seperti ini pada dasarnya adalah zona rawan permanen yang menyimpan bidang gelincir lama di bawah permukaan. Disarankan untuk dikonservasi dan dihutankan saja.
Pendekatan mitigasi perlu berbasis geomorfologi, bukan sekadar melihat kemiringan lereng. Selain pemetaan detail bentuk lahan bekas longsor, diperlukan pemantauan hujan dan kelembapan tanah secara berkala dan berkelanjutan, pengendalian penggunaan lahan di lereng, serta edukasi masyarakat untuk mengenali tanda awal tanah bergerak.
Pada zona yang paling tidak stabil, relokasi permanen ke area yang lebih aman dan datar sering menjadi pilihan paling bijak.
Mitigasi geomorfologis lainnya yang penting adalah pengaturan tata air lereng agar aliran permukaan tidak terkonsentrasi di satu jalur, pembuatan saluran pembuang air yang mengikuti kontur alami, serta menjaga vegetasi penutup tanah dengan kombinasi pohon berakar dalam dan tanaman berakar rapat. Selain itu, identifikasi dan perlindungan mata air kecil di lereng perlu dilakukan, karena kemunculannya sering menjadi penanda jalur gelincir lama yang aktif kembali.
Penataan permukiman juga perlu mengikuti pola bentuk lahan, menghindari pembangunan di bagian cekung lereng, kaki lereng, atau area bergelombang halus yang merupakan ciri khas bekas longsor purba.
Pelajaran Penting
Peristiwa di Tegal ini mengingatkan kita bahwa bencana besar sering berawal dari tanda-tanda kecil yang mudah diabaikan. Retakan tipis di tanah bukan sekadar kerusakan biasa, melainkan isyarat bahwa lereng sedang kehilangan keseimbangannya.
Retakan itu bukan hanya akibat hujan yang turun belakangan, tetapi bagian dari jejak panjang sejarah geomorfologi yang kembali aktif setelah ratusan tahun terpendam.
Tanah memang tidak selalu diam. Di lereng perbukitan, ia bisa merayap pelan mengikuti gravitasi, dipicu hujan, dibantu waktu, dan dalam beberapa kasus mengikuti jalur longsor purba yang tersembunyi di bawah permukaan.
Dari Tegal kita belajar bahwa memahami gejala awal sekaligus membaca sejarah bentang alam adalah kunci keselamatan, karena longsor besar sering kali hanyalah akhir dari kisah panjang tanah yang telah lama bergerak diam-diam.
*) Guru besar di Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY



