OPINI

Logika Penangkis Jebakan Batman Belanja di Bulan Ramadan

Pembeli melakukan aktivitas ekonomi dengan melakukan transaksi pembelian kebutuhan bahan pokok di pasar tradisional. Foto: Antara
Pembeli melakukan aktivitas ekonomi dengan melakukan transaksi pembelian kebutuhan bahan pokok di pasar tradisional. Foto: Antara
Oleh: Baratadewa Sakti P*

Memasuki gerbang Ramadan 2026, atmosfer publik Indonesia tampak terbelah antara kekhidmatan spiritual dan kecemasan ekonomi yang nyata.

Laporan terbaru dari Mandiri Spending Index (MSI) per Februari 2026 menjadi jangkar validitas yang tidak bisa dibantah, merekam anomali mendebarkan di mana indeks tabungan masyarakat kelas menengah tertahan di angka 100,7, sementara kelompok bawah merosot tajam ke level 73,2.

Indeks tabungan masyarakat adalah indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan dan kebiasaan masyarakat dalam menabung. Indeks 100 artinya tingkat kemampuan menabung masyarakat masih normal. Lebih dari 100 membaik dan kurang dari 100 kemampuan menabung melemah.

Bagi masyarakat awam, angka 100,7 mungkin terlihat sebagai posisi aman karena masih berada sedikit di atas garis dasar 100, namun problematika ini sebenarnya memerlukan kemampuan kita untuk menggunakan logika secara dingin dan tajam.

Selisih 0,7 persen itu hanyalah margin tipis yang setara dengan harga satu liter minyak goreng atau biaya parkir sekali jalan. Begitu harga pangan bergejolak di pekan pertama puasa, benteng pertahanan tersebut akan runtuh seketika, menyeret pemiliknya ke dalam jurang defisit yang menyakitkan.
Kondisi ini jauh lebih mengkhawatirkan pada kelompok bawah yang indeksnya berada di angka 73,2, yang secara matematis menunjukkan adanya lubang sebesar 26,8 persen dalam kemampuan belanja mereka.

Untuk memudahkannya dalam logika harian, bayangkan jika dalam kondisi normal dengan indeks 100 seseorang mampu membeli 1 kg telur untuk kebutuhan protein keluarganya, maka dengan indeks 73,2 saat ini, uang yang sama hanya mampu menebus sekitar 0,7 kg saja. Ada sekitar 0,3 kg atau tiga butir telur yang "hilang" dari piring makan mereka.

Hilangnya sepertiga kemampuan belanja ini adalah alarm keras bahwa ada kebocoran finansial yang sedang berlangsung, di mana masyarakat terpaksa mengambil paksa jatah dari masa depan mereka sendiri melalui utang atau menguras tabungan masa lalu yang kian menipis untuk sekadar menambal isi keranjang belanja yang bolong.

Penyebab dari "keranjang yang bolong" ini berasal dari dua arah yang saling menjepit. Dari faktor luar, kita menghadapi hantaman kenaikan harga barang pokok yang sudah menjadi rutinitas musiman menjelang bulan puasa. Hal yang sering kali luput dari pengamatan adalah faktor dari dalam diri kita sendiri yang sebenarnya bisa dikendalikan.

Penurunan daya beli hingga hanya mampu membeli 0,7 kg telur tadi bukan semata-mata karena harga telur yang naik, melainkan karena isi dompet kita sudah lebih dulu "dirampok" oleh kebiasaan internal, seperti “pajak gengsi”. Ini adalah biaya tersembunyi yang kita bayar demi mendapatkan validasi sosial, seperti hantaran mewah atau seragam baru Lebaran, yang secara tidak sadar menukar aset masa depan dengan apresiasi sosial yang hanya bertahan beberapa jam.
Selain gengsi, permasalahan internal ini diperparah oleh “bocor alus digital” yang bekerja secara senyap melalui biaya administrasi dompet digital, layanan pesan antar makanan yang mahal, hingga biaya langganan yang sebenarnya tidak mendesak. Kondisi ini kian runyam dengan adanya “efek mumpung” yang melumpuhkan rasionalitas dengan dalih Ramadan itu "setahun sekali". 

Dampak nyata dari hilangnya akal sehat ini dikonfirmasi oleh Menko PMK Pratikno yang mengungkapkan: “Mohon anak-anak bisa dilatih jangan sampai ada food waste. Karena Bapak Ibu sekalian, di Indonesia diperkirakan food loss dan food waste itu memboroskan 30 persen dari stok pangan kita," ujarnya pada Senin (9/2/2026).

Angka ini menunjukkan adanya inefisiensi logistik rumah tangga yang sangat fatal, di mana sepertiga belanjaan pangan kita berakhir sia-sia di tempat sampah. Gabungan antara tekanan harga dari luar dan kecerobohan perilaku dari dalam inilah yang membuat indeks daya beli kita merosot tajam. Tanpa kemampuan untuk berpikir jernih dan dingin, kita akan terus menjadi korban dari siklus belanja yang tidak pernah mendatangkan kesejahteraan sejati.

Di sinilah instrumen 5P+U yang mencakup penjagaan terhadap lima pilar (agama, jiwa, keturunan, akal, dan harta) serta faktor urgensi, berperan sebagai alat navigasi. Ketika seseorang memiliki kesadaran penuh bahwa membeli paket buka puasa yang berlebihan melanggar pilar penjagaan harta (boros) dan pilar penjagaan jiwa (kesehatan mental), atau memaksakan diri membeli baju baru dengan uang jatah pendidikan anak melanggar pilar penjagaan keturunan dan pilar penjagaan akal. Di situlah kemampuan berpikir dingin mulai bekerja.

Kesadaran ini bukan sekadar pengetahuan, melainkan sebuah filter yang memaksa kita berhenti sejenak, sebelum bertransaksi. Keputusan untuk berkata "tidak" pada keinginan yang tidak penting dan tidak mendesak menunjukkan bahwa akal sehat kita sedang bekerja secara presisi untuk melindungi masa depan keluarga.
Kemampuan untuk tetap tenang dan logis di tengah riuhnya promosi Ramadan adalah bentuk nyata dari kejernihan berpikir yang dingin. Saat kita mampu membedah setiap rencana pengeluaran melalui saringan lima pilar tersebut, kita sedang mengaktifkan protokol perlindungan diri.

Jika sebuah pengeluaran ternyata hanya memuaskan nafsu sesaat, namun merusak salah satu pilar penjagaan hidup kita, maka mengurungkan niat belanja tersebut adalah tindakan paling rasional yang bisa dilakukan. Melatih pikiran untuk tidak terbawa arus emosi musiman adalah kunci untuk memastikan bahwa sisa "napas" finansial yang hanya 0,7 persen tadi tidak habis sia-sia, melainkan bisa tumbuh menjadi bantalan ekonomi yang lebih kokoh.

Pintu utama dalam protokol ini adalah kelolosan uji lima pilar (5P)—agama, jiwa, keturunan, akal, dan harta—karena tanpa penjagaan terhadap pilar-pilar fundamental ini, sebuah rencana belanja otomatis jatuh pada kategori "tidak penting". Urgensi (U) hanyalah masalah penempatan waktu, yang sering kali justru menjadi topeng untuk memaksakan keinginan yang sebenarnya gagal melewati filter pilar.

Dengan mendahulukan prinsip penjagaan hidup di atas desakan waktu, kita mampu menggunakan logika secara dingin untuk melindungi garis ketahanan 100,7 dari akumulasi pengeluaran impulsif yang sering kali menyamar sebagai kebutuhan mendesak. 

Kedisiplinan untuk mengakui bahwa "keputusan belanja yang tidak menjaga pilar adalah tidak layak beli" merupakan bentuk literasi keuangan tertinggi yang akan menyelamatkan martabat ekonomi keluarga dari bencana finansial di akhir bulan.
Kemenangan sejati di bulan Ramadan tercermin dari kemampuan kita untuk tetap berdiri tegak secara finansial, dengan indeks tabungan yang tidak hanya sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi lebih sehat.

Dengan membersihkan diri dari pajak gengsi, menutup bocor alus digital, dan meminimalkan sampah pangan melalui saringan 5P+U, kita sebenarnya sedang melakukan ibadah yang luar biasa dalam menjaga amanah rezeki. 

Kemampuan mengendalikan diri dari nafsu konsumsi melalui logika yang dingin adalah jalan bagi setiap individu Muslim untuk merayakan hari kemenangan dengan kepala tegak, tanpa dihantui bayang-bayang utang atau penyesalan finansial yang tidak perlu akibat kebocoran dompet yang tidak terkendali selama sebulan penuh.

Semoga dengan memiliki ketajaman berpikir yang dingin ini, dapat membantu kita meraih pahala spiritual yang melimpah serta kemandirian ekonomi yang membawa keberkahan bagi keluarga dan generasi mendatang.

*) Praktisi keuangan keluarga dan pendamping keuangan bisnis UMKM