LIFESTYLE
Deloitte Ungkap Lonjakan "Physical AI" Siap Ubah Industri Global
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar teknologi di layar komputer, AI mulai turun ke dunia nyata melalui apa yang disebut sebagai Physical AI (PAI).
apakabar.co.id, JAKARTA - Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini memasuki fase baru. Bukan lagi sekadar teknologi di layar komputer, AI mulai "turun ke dunia nyata" melalui apa yang disebut sebagai Physical AI (PAI).
Dalam laporan terbarunya bertajuk "Physical AI: The moment of acceleration", Deloitte menyebut teknologi ini sedang bergerak cepat dari tahap uji coba menuju implementasi skala besar di berbagai sektor industri.
Physical AI merupakan gabungan antara sistem fisik seperti robot dengan kecerdasan buatan. Teknologi itu memungkinkan mesin tidak hanya menjalankan perintah, tetapi juga belajar, mengambil keputusan, dan terus meningkatkan kinerjanya secara mandiri.
Dalam laporan tersebut, sektor robotika industri disebut sebagai 'arena uji utama' bagi Physical AI. Sejumlah perusahaan di bidang manufaktur, logistik, dan sektor terkait telah lebih dulu mengadopsi teknologi ini, membangun fondasi untuk memperluas penggunaannya di seluruh rantai nilai bisnis.
Namun, adopsi Physical AI secara luas masih dalam tahap awal. Saat ini, baru sekitar 5 persen perusahaan yang mengaku teknologi ini telah benar-benar mengubah organisasi mereka.
Meski begitu, angka tersebut diperkirakan melonjak signifikan dalam waktu dekat. Sebanyak 41 persen perusahaan percaya Physical AI akan memberikan dampak transformasional dalam tiga tahun ke depan.
Kesenjangan antara kondisi saat ini dan ekspektasi masa depan ini menunjukkan adanya urgensi bagi perusahaan untuk segera beradaptasi. Terlebih, hanya sekitar 3 persen perusahaan yang saat ini telah mengintegrasikan Physical AI secara menyeluruh dalam operasional mereka.
Angka ini diprediksi naik menjadi 18 persen dalam dua tahun ke depan. Artinya, perusahaan yang bergerak lebih cepat berpotensi membangun keunggulan kompetitif yang sulit dikejar.
Bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga pembelajaran organisasi yang akan menjadi fondasi penting dalam satu dekade mendatang.
Secara global, penggunaan robot industri juga menunjukkan tren meningkat. Pada 2024, lebih dari 500 ribu robot industri telah digunakan.
Angka itu diproyeksikan mencapai 700 ribu instalasi per tahun pada 2028. Robot kolaboratif yang dirancang untuk bekerja bersama manusia juga terus bertambah, dengan hampir 65 ribu unit terpasang pada 2024.
Laporan lain dari Citi GPS bahkan menyebutkan jumlah total robot di dunia saat ini mencapai sekitar 405 juta unit, dan diperkirakan melonjak menjadi 1,3 miliar pada 2035. Ke depan, semakin banyak robot tersebut akan dilengkapi dengan kemampuan Physical AI.
Chris Lewin, Deloitte Asia Pacific AI Lead, menyebut momen ini sebagai titik balik penting. Menurutnya, Physical AI menandai pergeseran besar ketika kecerdasan tidak lagi hanya berada di sistem digital, tetapi hadir langsung di lingkungan fisik.
"Ini adalah momen ketika pabrik berubah menjadi sistem pembelajaran yang mampu merasakan, mengambil keputusan, dan terus berkembang,” ujar Lewin di Singapura, Senin (13/4).
Meski potensinya besar, Deloitte menekankan bahwa tantangan utama bukan lagi soal "apakah" atau "kapan" Physical AI akan diadopsi, melainkan seberapa siap perusahaan mengimplementasikannya.
Ada tiga pertanyaan kunci yang perlu dijawab oleh para pemimpin industri. Pertama, sejauh mana tingkat kematangan teknologi yang dimiliki perusahaan. Kedua, seberapa siap sistem operasional untuk mendukung teknologi tersebut.
Dan ketiga, bagaimana perusahaan menyiapkan sumber daya manusia agar mampu beradaptasi dengan perubahan.
Deloitte juga mengingatkan bahwa teknologi canggih tidak akan memberikan nilai maksimal jika organisasi belum memiliki fondasi yang kuat. Tanpa sistem kerja yang disiplin, alur operasional yang jelas, dan kesiapan tenaga kerja, investasi pada Physical AI berisiko tidak optimal.
Sebaliknya, bergerak terlalu lambat juga memiliki konsekuensi. Perusahaan tidak hanya kehilangan peluang efisiensi, tetapi juga kehilangan pengalaman belajar yang sangat penting dalam membangun keunggulan jangka panjang.
Untuk mempercepat adopsi teknologi ini, Deloitte China telah mendirikan Physical AI Center of Excellence di Shanghai. Pusat ini dirancang untuk membantu perusahaan beralih dari tahap uji coba menuju implementasi skala penuh.
Melalui kombinasi simulasi digital dan pengalaman industri, pusat tersebut memungkinkan perusahaan menguji, merancang, dan menerapkan solusi Physical AI dalam lingkungan nyata dengan risiko yang lebih terukur.
CEO Deloitte Asia Pacific, David Hill, menyebut Shanghai sebagai lokasi strategis karena berada di persimpangan manufaktur maju, robotika industri, dan rantai pasok global.
Ia menegaskan bahwa perusahaan yang mulai mengadopsi Physical AI saat ini pada dasarnya sedang menulis 'buku panduan' persaingan industri masa depan.
Dengan laju perkembangan yang cepat, Physical AI diprediksi akan menjadi faktor penentu dalam lanskap bisnis global. Bagi perusahaan, pertanyaannya kini bukan lagi apakah teknologi ini penting, tetapi apakah mereka siap untuk tidak tertinggal.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK