LINGKUNGAN HIDUP
BRIN Pimpin Proyek Riset Pemuliaan Pisang Liar untuk Ketahanan Pangan
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memimpin proyek riset bersama dalam bidang pemuliaan tanaman pisang liar demi mewujudkan ketahanan pangan nasional bahkan global.
Kepala Pusat Riset Rekayasa Genetika BRIN Ratih Asmana Ningrum menyebutkan pisang menjadi salah satu komoditas pangan utama dunia dan menjadi makanan pokok bagi jutaan penduduk, termasuk Indonesia, dan khususnya di beberapa negara Afrika.
Meski demikian, terdapat berbagai ancaman yang mengintai produksi pisang, salah satunya penyakit layu Panama yang disebabkan jamur tular tanah Fusarium oxysporum f. sp. cubense, serta penyakit Banana Bunchy Top (BBTV) yang disebarkan oleh serangga.
"Oleh karena itu, pemuliaan varietas pisang yang tahan hama dan penyakit menjadi solusi paling berkelanjutan dalam jangka panjang," kata Ratih melalui keterangan di Jakarta, dikutip Selasa (10/2).
Ratih menekankan pemuliaan varietas pisang yang tahan lama menjadi solusi jangka panjang, sebab patogen tular tanah Fusarium sulit dikendalikan dan dapat bertahan lama di dalam tanah. Sehingga, metode pengendalian konvensional tidak lagi memadai.
Ia menambahkan pemuliaan pisang menghadapi tantangan biologis yang unik karena sebagian besar pisang konsumsi bersifat steril dan poliploid.
Kondisi ini membatasi metode pemuliaan konvensional dan menuntut pendekatan inovatif yang menggabungkan bioteknologi dengan pemanfaatan sumber daya genetik pisang liar.
"Dan kita, di Indonesia, diberkahi keragaman pisang liar yang sangat tinggi. Pisang liar tersebut diduga menjadi nenek moyang dari pisang budi daya," ujarnya.
Oleh karena itu, BRIN menginisiasi untuk membentuk penelitian dalam pemuliaan pisang liar guna mengoleksi dan mempelajari sifat-sifat ketahananan dan sifat-sifat lain yang penting untuk budi daya pisang.
Dalam hal ini, jelas Ratih, plasma nutfah pisang liar yang sifatnya telah diketahui digunakan untuk membentuk genotipe unggul tahan Fusarium dan BBTV, selain sebagai dasar pengembangan varietas unggul lain dengan sifat target lainnya.
Menurut dia, Genotipe-genotipe unggul yang menjadi salah satu output dari proyek ini akan menjadi induk persilangan dalam merekayasa varietas pisang yang sesuai kebutuhan.
Genotipe unggul ini, ungkap Ratih, akan dapat dimanfaatkan oleh sejumlah mitra dalam kerja sama ini, seperti International Institute for Tropical Agriculture (IITA) yang mengelola penyebaran ke petani dan breeder di Afrika, serta oleh BRIN bersama kementerian terkait akan disebarkan juga ke negara Asia Tenggara.
"Dalam penelitian tersebut, digunakan berbagai teknik dari konvensional seperti penyerbukan, juga teknik-teknik modern seperti hibridisasi somatik, gene editing, juga teknik-teknik analisis modern genomik-genotyping, phenotyping, transkriptomik, metabolomik, dan intregrasi teknik tersebut," tutur Ratih Asmana Ningrum.
Diketahui, kegiatan riset ini dipimpin oleh BRIN yang berperan aktif melalui para periset ahli di bidang teknologi omics dan pemuliaan pisang. BRIN berkomitmen penuh dengan menyediakan berbagai dukungan melalui pendanaan, fasilitas laboratorium, dan lahan, serta skema mobilitas periset melalui pembiayaan periset tamu dan beasiswa pascasarjana.
Riset ini juga didukung Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), dengan melibatkan sejumlah peneliti dari BRIN, IPB University, dan Universitas Padjdjaran.
Dari luar negeri, sejumlah peneliti asal University of Queensland (Australia), Wageningen University Research (Belanda), Meise Botanic Gardens and the Alliance of Bioversity International & CIAT (Belgia), Institute of Experimental Botany (Republik Ceko), dan IITA (Nigeria) turut dilibatkan dalam proyek riset ini.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY