EKBIS

Rupiah Berpotensi Menguat Terbatas di Tengah Ancaman Tarif Baru AS

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah berpeluang menguat secara terbatas, seiring melemahnya dolar AS akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan tarif baru dari Washington.
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. Foto: ANTARA
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah berpeluang menguat secara terbatas, seiring melemahnya dolar AS akibat kekhawatiran pasar terhadap potensi kebijakan tarif baru dari Washington.

Menurut Lukman, pelemahan dolar AS pada awal perdagangan dipicu oleh perhitungan investor terhadap dampak rencana tarif tambahan yang akan dikenakan AS kepada negara-negara yang menolak keinginan Washington untuk menguasai Greenland. Isu geopolitik tersebut dinilai memberi tekanan pada sentimen pasar global.

“Rupiah diperkirakan bergejolak terhadap dolar AS dengan potensi yang menguat terbatas. Dolar AS melemah pagi ini, dengan investor menghitung dampak potensi tarif baru AS terhadap negara-negara yang menentang keinginan AS menguasai Greenland,” ujar Lukman di Jakarta, Senin (19/1).

Namun, pada pembukaan perdagangan di Jakarta, rupiah justru tercatat melemah. Nilai tukar rupiah turun 17 poin atau sekitar 0,10 persen menjadi Rp16.904 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.887 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan bahwa pasar masih berhati-hati dalam menyikapi perkembangan global.

Mengutip laporan Kyodo, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor tambahan kepada negara-negara yang tidak mendukung langkah Amerika Serikat untuk mencaplok Greenland. Sikap ini menuai penolakan keras dari sejumlah pemimpin Eropa, mengingat Greenland merupakan wilayah otonomi Denmark yang memiliki posisi strategis dan kekayaan sumber daya alam.

Trump menegaskan bahwa penguasaan Greenland penting bagi kepentingan keamanan nasional AS. Ia menyoroti meningkatnya kehadiran China dan Rusia di kawasan Arktik sebagai alasan utama di balik ambisi tersebut. Pernyataan ini semakin memperkuat ketegangan geopolitik dan memicu kekhawatiran investor terhadap potensi eskalasi konflik kepentingan antarnegara.

Lukman menilai, kondisi tersebut membuat rupiah sulit menguat signifikan. Selain itu, sentimen risk off atau kecenderungan investor menghindari aset berisiko masih membayangi pasar. Dalam situasi seperti ini, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, cenderung lebih rentan terhadap tekanan.

“Rupiah mungkin tidak akan menguat banyak dan juga masih berpotensi melemah oleh sentimen risk off dari eskalasi yang terjadi,” jelas Lukman.

Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/1). Pasar memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya. Meski demikian, investor menantikan sinyal lebih lanjut terkait arah kebijakan suku bunga ke depan.

Keputusan dan pernyataan Bank Indonesia dinilai akan sangat memengaruhi pergerakan rupiah. Jika bank sentral memberikan sinyal kebijakan yang konsisten dan menjaga stabilitas, hal tersebut dapat membantu menopang kepercayaan pasar terhadap rupiah.

Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS. Rentang ini menunjukkan bahwa ruang penguatan rupiah masih terbatas, sementara potensi pelemahan tetap perlu diwaspadai.

Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat ditentukan oleh perkembangan isu geopolitik global, kebijakan perdagangan AS, serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia. Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau tetap mencermati dinamika global dan domestik agar dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dalam menghadapi volatilitas nilai tukar.