EKBIS

CSIS Nilai Konflik AS-Venezuela Berdampak Terbatas ke RI

Potret kobaran api di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, setelah serangkaian ledakan di Caracas, Sabtu (03/01). Ledakan keras, disertai suara yang menyerupai deru pesawat terbang, terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Fo
Potret kobaran api di Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela, setelah serangkaian ledakan di Caracas, Sabtu (03/01). Ledakan keras, disertai suara yang menyerupai deru pesawat terbang, terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Fo
apakabar.co.id, JAKARTA - Center for Strategic and International Studies (CSIS) memandang dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela terhadap Indonesia hingga saat ini masih terbatas, baik di sektor pasar keuangan maupun komoditas.

Meski demikian, masih ada risiko geopolitik yang berpotensi mengubah tatanan energi dan ekonomi global jika konflik terus melebar hingga mengganggu pasokan minyak dunia. Risiko utama justru terletak pada kemungkinan eskalasi konflik yang melibatkan lebih banyak negara produsen energi.

"Tinggal permasalahannya apakah ini nanti smooth enggak di transisinya (pemerintahan Venezuela). Nah, yang takutnya kan adalah misalnya Venezuelanya dipegang Trump, terus Iran ini kan lagi bergejolak juga. Kalau konflik-konflik ini meletup dan membuat harga suplai dari pasokan minyak dunia terhambat, nah itu yang baru dikhawatirkan. Tapi sejauh ini masih terbatas," kata dia di Jakarta, Rabu (7/1).
Selain itu, ada kepentingan AS dalam mempertahankan dominasi dolar AS melalui mekanisme petrodolar. Upaya China, Rusia, dan sejumlah negara lain untuk memperluas transaksi minyak menggunakan mata uang non-dolar dinilai menjadi ancaman bagi posisi dolar sebagai mata uang utama dunia.

"Untuk menghindari itu, AS 'mencaplok' si Venezuela ini supaya tetap dolarnya jadi (mata uang) utama selain dia securing minyak," tambahnya.

Sementara bagi Indonesia, dampak lanjutan konflik tersebut bersifat dua sisi. Jika pasokan minyak ke China terganggu, Indonesia berpotensi terdampak secara tidak langsung mengingat kuatnya ketergantungan ekonomi terhadap China.

Namun di sisi lain, kondisi itu juga bisa membuka peluang. Sebab, jika pasokan ke China berkurang, China akan mencari sumber lain dan Indonesia bisa mendapatkan permintaan ekspor komoditas yang melimpah.

Lebih lanjut, Deni mengakui bahwa kenaikan harga minyak memang akan merugikan Indonesia mengingat statusnya sebagai net importer.
Namun, kenaikan tersebut biasanya diikuti lonjakan harga komoditas lain seperti batu bara dan minyak kelapa sawit (CPO) yang mana Indonesia memiliki keunggulan.

Guna menghadapi ketidakpastian global, maka dari itu Deni menegaskan pentingnya strategi diversifikasi. Baik diversifikasi pasar ekspor maupun sumber energi.

Diversifikasi pasar juga dinilai krusial agar Indonesia tidak terlalu rentan terhadap perlambatan ekonomi di China atau AS.

"Enggak hanya tergantung ke China ataupun oleh US saja gitu, ada EU (Uni Eropa), ada yang lain," tutur Deni.