LIFESTYLE
Barongsai di Indonesia: Dari Ritual Imlek, Simbol Harmoni, hingga Juara Dunia
Budayawan Alexander Raymon menjelaskan barongsai bukan hanya seni hiburan. Barongsai merupakan bentuk ekspresi spiritual yang membawa semangat, harapan, optimisme, keberanian, dan persatuan.
apakabar.co.id, JAKARTA - Atraksi barongsai atau tarian singa dari Tiongkok selalu menjadi daya tarik utama dalam perayaan Imlek di Indonesia. Namun, barongsai bukan sekadar tontonan yang meriah.
Di balik gerakan lincah dan tabuhan tambur yang menggema, tersimpan nilai spiritual, sejarah panjang, hingga prestasi membanggakan di tingkat dunia.
Budayawan sekaligus peneliti bidang ketionghoaan, Alexander Raymon atau Alex Cheung, menjelaskan barongsai bukan hanya seni hiburan. Ia menyebut barongsai sebagai bentuk ekspresi spiritual yang membawa semangat, harapan, optimisme, keberanian, dan persatuan.
Sebagai simbol singa yang berani, barongsai dipercaya memiliki kekuatan mengusir roh jahat serta membawa keberuntungan, kemakmuran, dan kedamaian.
“Di masa lampau, masyarakat Tionghoa mempercayai bahwa singa yang menari memiliki kekuatan untuk mengusir kejahatan. Karena itu, dalam perayaan Tahun Baru Imlek atau hari raya Tionghoa lainnya, pertunjukan barongsai selalu dipersembahkan,” ujarnya dikutip Antara, Senin (16/2).
Wujud harmoni budaya
Barongsai, atau Wǔ shī dalam bahasa Mandarin, telah hadir di Nusantara seiring kedatangan etnis Tionghoa. Di sejumlah daerah di Jawa, tarian ini juga dikenal dengan sebutan samsi atau siamsi dalam dialek Hokkian.
Sejak era reformasi, barongsai kembali tampil bebas di ruang publik. Tidak hanya saat Imlek atau Cap Go Meh, pertunjukan ini juga meramaikan festival budaya, acara institusi, hingga perayaan pribadi.
Menurut Alex, perkembangan barongsai di Indonesia menunjukkan proses akulturasi yang sehat. Muncul variasi seperti barongsai Jawa, penggunaan musik pop, hingga kolaborasi dengan tarian modern.
"Sentuhan lokal ini justru memperkaya identitas barongsai di tiap daerah tanpa harus menghilangkan akar budayanya," terangnya.
Sejumlah perkumpulan Tionghoa seperti Hoo Hap Hwee, Hokkian Hwee Koan, Sin Ming Hui, Kuo Chi Yen Chiu She, Khong Kauw Hwee, Shantung Kung Hui, dan Kwong Siew Wai Kuan berperan besar menjaga kelestarian seni ini.
Salah satu komunitas di Jakarta yang konsisten mengembangkan barongsai adalah Yayasan Barongsai Kong Ha Hong. Selama lebih dari 20 tahun, yayasan ini telah lima kali meraih gelar juara dunia, yakni pada 2009 (China), 2014 (Indonesia), 2015 (China), 2017 (Indonesia), dan 2019 (China).
Ketua Yayasan Barongsai Kong Ha Hong, Ronald Sjarif, menegaskan pihaknya terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan suku, agama, maupun ras. Anak-anak usia minimal delapan tahun sudah bisa bergabung dan dilatih tanpa dipungut biaya.
“Yang penting ada kemauan. Kami latih sampai bisa tampil,” ujarnya.
Dari tradisi ke cabang olahraga
Secara tradisional, pertunjukan barongsai memiliki tata cara tertentu. Dalam konteks budaya, penampilan sering diawali dengan doa atau ritual di vihara. Saat pembukaan toko, misalnya, ada tradisi “ambil sayur” yang memiliki makna simbolis tentang harapan rezeki dan keberuntungan.
Namun perkembangan barongsai di Indonesia tidak berhenti pada tradisi. Kini, barongsai juga diakui sebagai cabang olahraga. Sejak 2013, barongsai resmi menjadi bagian dari cabang olahraga nasional dan mulai dipertandingkan dalam Pekan Olahraga Nasional XIX. Organisasi yang menaungi cabang ini adalah Federasi Olahraga Barongsai Indonesia (FOBI).
Pelatih barongsai Andri Wijaya menjelaskan bahwa barongsai sebagai olahraga memiliki standar teknik dan tingkat kesulitan yang tinggi, terutama pada nomor atraksi di atas tonggak. Gerakan harus presisi, kuat, dan selaras dengan irama musik pengiring.
“Barongsai sebagai olahraga tentu ada tekniknya, mengingat sekarang ini barongsai sudah berkembang. Tekniknya pun sudah makin tinggi kesulitannya. Makin susah, makin sulit,” papar Andri.
Seiring waktu, teknik barongsai semakin berkembang dan banyak dipadukan dengan unsur seni bela diri seperti Kungfu atau Wushu. Kombinasi ini membuat gerakan menjadi lebih dinamis dan atraktif, sekaligus menuntut fisik serta koordinasi yang prima dari para atlet.
Barongsai sebagai hiburan tetap memiliki tempat tersendiri, terutama dalam pertunjukan di pusat perbelanjaan atau festival budaya. Koreografi disusun lebih fleksibel, bahkan mengikuti tren musik yang sedang populer untuk menarik perhatian penonton.
“Barongsai itu tadinya kan lahir dari budaya, sehingga ada tata cara alurnya. Kalau misalkan mau pembukaan toko mereka harus ada ambil sayur. Itu mempunyai makna tertentu,” jelas Andri.
Ke depan, para pelatih berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik menekuni barongsai, baik sebagai seni budaya maupun sebagai olahraga prestasi. Dengan pembinaan yang konsisten dan dukungan organisasi, barongsai berpotensi terus melahirkan atlet-atlet berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
Dari ritual spiritual di vihara hingga arena kompetisi dunia, perjalanan barongsai di Indonesia menunjukkan satu hal penting: seni tradisi dapat tumbuh, beradaptasi, dan menjadi simbol harmoni keberagaman sekaligus kebanggaan bangsa.
“Kita berharap adanya olahraga ini akan tumbuh bagi generasi muda yang menggemari barongsai," tutup Andri.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK