LIFESTYLE
Kenali 4 Gejala Klasik Diabetes dan Risiko Komplikasinya, dari Koma hingga Stroke
Dokter spesialis penyakit dalam UI, Wirawan Hambali, mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal penyakit ini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
apakabar.co.id, JAKARTA - Diabetes melitus masih menjadi salah satu penyakit kronis yang banyak ditemukan di Indonesia. Sayangnya, tidak sedikit orang yang baru menyadari dirinya mengidap diabetes setelah muncul komplikasi.
Dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Wirawan Hambali, mengingatkan masyarakat untuk mengenali gejala awal penyakit ini agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat.
Dalam temu media di Jakarta, Rabu (25/2), Wirawan menjelaskan bahwa ada gejala klasik yang dikenal dengan istilah '4P' pada diabetes melitus.
"Kalau kita sebut gejala klasik dari diabetes itu adalah 4P, mulai dari kadar gula tinggi dan penurunan berat badan, banyak makan, banyak berkemih, dan cepat haus," ujar Wirawan.
Menurut Wirawan, kadar gula darah yang tinggi terjadi karena gula tidak dapat masuk ke dalam sel tubuh akibat kekurangan insulin. Insulin berfungsi membantu glukosa masuk ke dalam sel untuk diubah menjadi energi.
Ketika insulin tidak cukup atau tidak bekerja optimal, gula menumpuk di dalam darah. Akibatnya, sel-sel tubuh mengalami 'kelaparan' karena tidak mendapatkan asupan energi.
Kondisi tersebut mendorong penderita untuk terus makan. Namun, karena glukosa tetap tidak bisa dimanfaatkan dengan baik, tubuh justru mengambil cadangan energi dari lemak dan otot. Inilah yang membuat berat badan bisa turun drastis, bahkan pada orang yang sebelumnya bertubuh gemuk.
"Kita bisa lihat pasien diabetes lanjut yang tidak diobati, berat badannya perlahan turun karena tidak terjadi utilisasi glukosa oleh sel," jelasnya.
Gejala berikutnya adalah polifagia, yaitu rasa lapar berlebihan atau nafsu makan yang meningkat secara tidak wajar. Meski sering makan, tubuh tetap merasa kekurangan energi.
Selain itu, penderita diabetes juga mengalami poliuria atau sering buang air kecil. Bahkan, dalam beberapa kasus, urine yang dikeluarkan dapat mengundang semut karena mengandung gula.
menurut Wirawan, tingginya kadar gula dalam darah membuat ginjal ikut membuang kelebihan gula tersebut melalui urine. Proses ini memicu diuresis osmotik, yakni peningkatan produksi urine akibat adanya zat terlarut seperti glukosa dalam konsentrasi tinggi di ginjal.
Kondisi itu membuat cairan dalam tubuh ikut tertarik keluar bersama urine. "Akibatnya, penderita menjadi lebih sering buang air kecil dan akhirnya merasa cepat haus atau polidipsia," paparnya.
Siklus ini bisa berlangsung terus-menerus jika kadar gula darah tidak segera dikontrol.
Komplikasi hingga koma
Selain gejala awal, diabetes melitus juga memiliki risiko komplikasi yang serius. Wirawan membagi komplikasi menjadi 2 (dua) kategori, yaitu jangka pendek dan jangka panjang.
Komplikasi jangka pendek umumnya terjadi akibat perubahan drastis kadar gula darah, baik terlalu tinggi maupun terlalu rendah dalam waktu singkat. Kondisi ini bisa memicu keadaan darurat medis, termasuk koma diabetik.
Jika tidak segera ditangani, komplikasi akut tersebut dapat mengancam nyawa.
Sementara itu, komplikasi jangka panjang terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam waktu lama. Gula darah yang terus-menerus tinggi akan merusak pembuluh darah kecil maupun besar, serta organ tubuh lainnya.
Kerusakan pembuluh darah kecil dapat menyebabkan gangguan pada mata hingga kebutaan dan gangguan ginjal yang berujung pada gagal ginjal. Sedangkan gangguan pada pembuluh darah besar dapat meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan stroke.
Tak hanya itu, papar Wirawan, komplikasi jangka panjang non-pembuluh darah juga dapat muncul. Seperti perlemakan hati dan gangguan peristaltik usus yang memengaruhi sistem pencernaan.
Dia menegaskan bahwa pengendalian gula darah menjadi kunci utama untuk mencegah berbagai komplikasi tersebut.
"Pemeriksaan rutin, pola makan sehat, olahraga teratur, serta kepatuhan terhadap pengobatan sangat penting bagi penderita diabetes melitus," jelas Wirawan.
Mengenali gejala 4P sejak dini dapat membantu masyarakat lebih waspada. Jika mengalami tanda-tanda seperti sering haus, sering buang air kecil, mudah lapar, dan berat badan turun tanpa sebab jelas, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Deteksi dan penanganan yang cepat bukan hanya mencegah komplikasi, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes dalam jangka panjang.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK