LINGKUNGAN HIDUP

Riset IPB–TSE Paparkan Kondisi Habitat Cenderawasih dan Kura-kura Moncong Babi di Papua

Seminar dan Lokakarya Konservasi Kehidupan Liar bertema “Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih” yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026). Foto: Doc.Ist
Seminar dan Lokakarya Konservasi Kehidupan Liar bertema “Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih” yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026). Foto: Doc.Ist
apakabar.co.id, BOGOR - Penelitian selama empat tahun yang dilakukan IPB University bersama Tunas Sawa Erma (TSE) Group mengungkap bahwa pengelolaan hutan produksi dan lanskap sungai yang dilakukan secara bertanggung jawab masih mampu menjaga keberlangsungan habitat Cenderawasih Kuning-Besar dan Kura-kura Moncong Babi di Papua, meski di tengah tantangan perubahan iklim.

Hasil penelitian tersebut dipaparkan dalam Seminar dan Lokakarya Konservasi Kehidupan Liar bertema “Melindungi Ikon Papua: Pemantauan Jangka Panjang Kura-kura Moncong Babi dan Cenderawasih” yang digelar di Bogor, Jumat (6/2/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari laporan kerja sama riset jangka panjang IPB University dan TSE Group yang telah berlangsung sejak 2022.

Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo menegaskan bahwa riset ilmiah merupakan fondasi utama dalam pengelolaan sumber daya alam, konservasi satwa liar, serta perumusan kebijakan pembangunan berkelanjutan di Papua Selatan.

Ia menekankan bahwa Papua merupakan wilayah yang sangat kaya sumber daya alam, namun kekayaan tersebut harus dikelola secara hati-hati dan berbasis data. Menurut Apolo, Papua bahkan dikenal sebagai fault belt atau sabuk emas dunia, sehingga penelitian menjadi kunci agar pembangunan tidak mengorbankan lingkungan dan satwa endemik.

“Wilayah Papua Selatan juga merupakan pusat hidrologi penting. Dari Pegunungan Bintang mengalir empat sungai besar di Tanah Papua. Karena itu, setiap kebijakan pembangunan harus didahului oleh penelitian yang komprehensif,” k.

Apolo juga menyinggung proyek strategis nasional (PSN) di Papua Selatan, yakni ketahanan pangan dan ketahanan energi. Ia menegaskan bahwa kritik terhadap pembangunan perlu ditempatkan sebagai upaya intelektual berbasis data, bukan sekadar asumsi.

“Kritik bukan mencari-cari kesalahan, melainkan analisis ilmiah dengan data yang valid dan akurat. Informasi yang kredibel akan melahirkan kebijakan yang benar,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Dodik Ridho Nurrochmat menyampaikan bahwa seminar dan lokakarya ini diharapkan menjadi forum strategis, tidak hanya untuk berbagi informasi, tetapi juga untuk menyerap masukan dari para pemangku kepentingan agar riset semakin selaras dengan kebutuhan kebijakan di daerah.

“Kami berharap forum ini mampu menjawab tantangan nyata, yakni menjaga kelestarian satwa liar sekaligus mendukung agenda pembangunan daerah,” ujar Dodik.

Dalam pemaparan hasil riset, tim peneliti IPB University menemukan bahwa Cenderawasih Kuning-Besar (Paradisaea apoda) masih ditemukan secara konsisten di areal hutan produksi yang dikelola dengan sistem tebang pilih. Selama periode penelitian, lebih dari 100 individu Cenderawasih teridentifikasi di dua konsesi hutan, dengan sebagian wilayah memiliki tingkat kesesuaian habitat yang tinggi.

Penelitian juga mendokumentasikan perilaku kawin (lekking) serta mengidentifikasi pohon pakan dan pohon lek yang menjadi elemen penting bagi keberlangsungan populasi Cenderawasih. Ketua Tim Peneliti Cenderawasih IPB University, Prof. Dr. Ani Mardiastuti, M.Sc., menyebut temuan ini membuktikan bahwa pengelolaan hutan produksi yang bertanggung jawab tetap mampu mendukung keberadaan burung endemik Papua.

“Area hutan produksi yang dikelola dengan mempertahankan kawasan bernilai konservasi tinggi dan sistem tebang pilih berkelanjutan berpotensi mendukung konservasi Cenderawasih, bahkan dapat dikembangkan untuk ekowisata berbasis pengamatan burung,” ujarnya.

Sementara itu, penelitian terhadap Kura-kura Moncong Babi (Carettochelys insculpta) menyoroti dampak perubahan iklim, terutama curah hujan ekstrem dan banjir di kawasan Sungai Kao yang menyebabkan kegagalan peneluran pada beberapa periode pengamatan. Ketua Tim Peneliti Kura-kura Moncong Babi IPB University, Prof. Dr. Mirza D. Kusrini, M.Si., menekankan pentingnya pemantauan jangka panjang dan keterlibatan masyarakat lokal.

“Pemantauan jangka panjang sangat penting untuk memahami dampak anomali cuaca terhadap keberhasilan peneluran. Kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci agar konservasi berjalan berkelanjutan,” katanya.

Direktur TSE Group Wicklief F. Leunufna menegaskan bahwa pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa langka merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab perusahaan.

“Melalui kerja sama riset dengan IPB University, kami memastikan kegiatan operasional berjalan sejalan dengan upaya konservasi berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.