Tragedi Ojol Affan, Solidaritas Mengalir di Balikpapan

Tragedi Ojol Affan, Solidaritas Mengalir di Balikpapan

Mahasiswa baru di Universitas Balikpapan melancarkan protes saat perwakilan Polda Kaltim memberikan materi di acara Suasana Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB). Foto: Istimewa

apakabar.co.id, JAKARTA – Suasana Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Balikpapan (Uniba) mendadak memanas. Saat perwakilan Polda Kaltim tengah memberi materi, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Ormawa Uniba berdiri dan melancarkan protes.

Mereka menuding aparat makin brutal, dengan deretan kasus kekerasan yang merenggut nyawa warga sipil. Bagi mahasiswa, kampus bukan sekadar ruang kuliah, tapi tempat menumbuhkan kesadaran kritis dan keberanian melawan ketidakadilan.

“Mahasiswa tidak boleh diam ketika ada ketidakadilan. Kami berdiri bersama rakyat, sebab penderitaan rakyat adalah juga penderitaan kami,” tegas Arif Setiawan, Wakil Ketua Umum BEM Fakultas Hukum Uniba, Jumat (29/8).

Baca juga: Polisi di Balik Rantis Maut: 7 Nama Terungkap, Desakan Reformasi Total Menguat

Aliansi menyebut, tindakan represif aparat yang berujung pada kematian warga sipil adalah pelanggaran serius terhadap demokrasi. Suara mahasiswa, kata mereka, adalah gema keresahan rakyat. “Jika rakyat ditindas dengan kekerasan, maka kampus harus hadir sebagai garda perlawanan,” lanjut Arif.

Dalam aksinya, mahasiswa Uniba menyerukan solidaritas lintas kampus, organisasi, hingga masyarakat sipil. Mereka menilai perlawanan terhadap kekerasan aparat bukan sekadar isu mahasiswa, melainkan perjuangan moral bersama.

Kritik mahasiswa, tegas mereka, seharusnya dipandang sebagai alarm agar polisi bekerja profesional dan humanis. “Tekanan tidak akan membungkam rakyat. Justru itu memperkuat perlawanan,” kata Arif.

Baca juga: Ojol Tewas Dilindas Rantis, Presiden Janji Tanggung Hidup Keluarga

Aliansi Ormawa juga mendesak reformasi struktural di tubuh Polri dan perbaikan nyata agar tragedi serupa tak terulang. Aparat, kata mereka, harus kembali pada fungsi dasarnya: mengayomi, bukan menakut-nakuti.

Seruan itu lahir dari tragedi di Jakarta sehari sebelumnya. Seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, tewas setelah dilindas mobil rantis Brimob saat demo di Senayan, Kamis (28/8). Insiden ini memicu kecaman luas dari masyarakat sipil, lembaga HAM, hingga organisasi mahasiswa.

KontraS menuding polisi membiarkan pola represif aparat terus berulang. Kapolda Metro Jaya memang sudah menyampaikan permintaan maaf dan berjanji menanggung biaya pemakaman Affan. Namun, publik menuntut lebih bukan sekadar belasungkawa, tapi proses hukum transparan. Saat ini tujuh anggota Brimob sudah diperiksa Propam Polri, meski keraguan publik tak serta-merta hilang.

2 kali dilihat, 2 kunjungan hari ini
Editor: Bethriq Kindy Arrazy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *