OPINI
AI Kesehatan: Catatan Medis dan Masa Depan dalam Genggaman
Oleh: Rezi Riadhi Syahdi*
Pernahkah kita menyadari bahwa kini banyak keputusan kecil dalam hidup dibantu oleh mesin? Mulai dari rekomendasi video sosial media atau penyedia film online yang muncul di layar telepon selular, koreksi otomatis saat mengetik pesan, hingga jawaban instan atas pertanyaan yang kita ajukan di internet. Semua itu terjadi tanpa kita harus memahami cara kerjanya.
Di balik kemudahan tersebut, kecerdasan buatan (AI) diam-diam hadir dan bekerja dalam kehidupan sehari-hari. AI bukan lagi mimpi di siang bolong atau sekadar imajinasi dalam novel fiksi ilmiah, melainkan teknologi nyata yang kini berada di genggaman tangan melalui peramban di telepon pintar.
Disadur dari salah satu artikel IBM, kecerdasan buatan atau AI adalah teknologi yang memungkinkan komputer dan mesin meniru kemampuan kognitif manusia, seperti pembelajaran, pemecahan masalah, serta pelaksanaan tugas secara otonom. Cakupan AI sangat luas, namun secara umum, AI dapat diklasifikasikan menjadi dua pendekatan utama, yaitu Predictive Model AI dan Generative Model AI (Gen-AI).
Predictive Model AI berfokus pada analisis data untuk mengenali pola dan memprediksi kejadian atau nilai di masa depan. Pendekatan ini banyak digunakan untuk tugas-tugas, seperti dalam sistem rekomendasi video, prediksi risiko saham, atau diagnosis berbantuan komputer. Model ini tidak menghasilkan konten baru, melainkan memberikan estimasi atau keputusan berdasarkan data yang telah dipelajari sebelumnya.
Sebaliknya, Gen-AI dirancang untuk menghasilkan konten baru yang menyerupai data aslinya, seperti teks, gambar, audio, maupun kode program.
Pendekatan inilah yang belakangan melonjakan popularitas melalui aplikasi seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan platform sejenis. Gen-AI tidak hanya memprediksi, tetapi juga “menciptakan” keluaran baru berdasarkan pola dan pengetahuan yang dipelajari dari data dalam jumlah besar.
AI sudah merambah ke semua lini, termasuk lini kesehatan. Di tingkat global, integrasi AI ke dalam sistem kesehatan bukanlah merupakan suatu tren, melainkan menjadi suatu kebutuhan.
Penerapan AI dalam bidang kesehatan yang paling menonjol adalah pada bidang diagnostik dan penemuan obat. Predictive model menggunakan Deep Learning kini mampu membaca hasil "gambar" medis seperti X-Ray dan MRI sehingga memudahkan tenaga medis untuk mendiagnosis dengan tingkat akurasi yang lebih baik.
Gen-AI juga banyak digunakan di bidang kesehatan, semisal untuk merekomendasikan senyawa obat baru, bahkan untuk menyediakan info target obat di dalam tubuh. Cara kerja inilah yang menjadikan Alphafold dan Rosetta, suatu platform berdasar model Gen-AI, mendapatkan penghargaan Nobel di bidang kimia tahun 2024.
Walaupun kemajuan penggunaan AI sangat pesat belakangan ini, namun di bidang kesehatan khususnya, banyak hal yang perlu diperhatikan.
Tantangan utama adalah etika dan keamanan data yang selalu menjadi isu hangat. Belum lagi apabila AI salah melakukan diagnostik, tidak mungkin meminta pertanggungjawaban ke mesin. Karena AI yang paling hebat sekalipun, tidak bisa 100 persen memprediksi secara tepat untuk semua kasus, sama seperti manusia.
Namun secara umum, dunia medis sepakat bahwa manfaat AI dapat melampaui risikonya bila diterapkan sesuai regulasi yang tepat. Oleh karena itu, beberapa badan pengawas obat, contohnya di Eropa, sudah merilis peta jalan pengembangan AI di bidang kesehatan untuk menyikapi hal ini.
Kondisi Indonesia
Melihat kondisi Indonesia, penerapan AI dapat memberikan beberapa keuntungan. Dengan rasio tenaga kesehatan yang belum merata, AI dapat digunakan untuk alat bantu dalam kesetaraan distribusi akses informasi kesehatan. Bayangkan sebuah fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan tenaga kesehatan dapat mengolah data sehingga dapat memprioritaskan fokus ke kasus yang lebih kritis.
Saat ini, beberapa pengembangan AI di Indonesia juga mulai menunjukkan taring dalam pengembangannya. Contohnya saja, sistem SatuSehat Mobile yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan yang didukung fitur asisten kesehatan berbasis AI.
SatuSehat Mobile merupakan aplikasi kesehatan resmi Kementerian Kesehatan yang berguna sebagai sumber informasi dan layanan kesehatan yang terpercaya. SatuSehat Mobile memudahkan masyarakat Indonesia mengakses layanan kesehatan dan data kesehatan pribadi.
SatuSehat Mobil berjalan berlandaskan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, yakni, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Untuk melakukan upaya kesehatan yang efektif dan efisien diselenggarakan Sistem Informasi Kesehatan yang ditujukan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat.
Lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, kewenangan Pemerintah Pusat di bidang kesehatan adalah mengelola upaya kesehatan perorangan, sistem rujukan dan upaya kesehatan masyarakat.
Secara spesifik, dalam penyelenggaraan rekam medis, berdasarkan Pasal 298 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Kementerian Kesehatan bertanggung jawab menyelenggarakan pengelolaan data rekam medis dalam rangka pengelolaan data kesehatan nasional. Pengelolaan data rekam medis tersebut meliputi perumusan kebijakan, pengumpulan, pengolahan, penyimpanan, pengamanan, transfer data, dan pengawasan.
Dengan mengunduh aplikasi SatuSehat Mobile, masyarakat dengan mudah dapat mengakses program pemeriksaan kesehatan gratis.
Di sektor lain, chatbot berbasis AI juga digunakan untuk membantu pasien dalam proses pengobatan, termasuk prototipe yang sedang dikembangkan peneliti di Farmasi Universitas Indonesia untuk pasien asma.
Walaupun potensinya cukup besar, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang cukup signifikan dalam hal infrastruktur dan akses data.
Ketimpangan akses internet terutama di wilayah 3T masih menjadi penghambat utama, apalagi untuk AI yang berbasis cloud yang membutuhkan koneksi stabil.
Tantangan utama lainnya adalah standardisasi data. Selama ini data seperti rekam medis masih terfragmentasi bahkan masih manual di beberapa fasilitas kesehatan. Tanpa data yang rapi dan terintegrasi, algoritma AI tidak akan mampu untuk belajar secara optimal.
Pada akhirnya, masa depan kesehatan Indonesia membutuhkan tenaga kesehatan yang dapat harmonis dengan AI untuk meringankan tugas-tugas repetitive. Hingga membuka ruang dan kesempatan untuk para tenaga kesehatan agar bisa fokus pada aspek yang tidak tergantikan AI: empati dan berkomunikasi dengan pasien.
Dengan dukungan regulasi yang tepat dan infrastruktur yang kuat, AI berpotensi sebagai kunci emas mewujudkan pemerataan layanan kesehatan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
*) Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY