EKBIS

Hadapi Puncak Panen, Pengamat Tekankan Penguatan Infrastruktur Bulog

Petugas memeriksa stok beras di gudang penyimpanan Bulog Cabang Batam, Kepulauan Riau, Jumat (9/1/2026). Foto: Antara
Petugas memeriksa stok beras di gudang penyimpanan Bulog Cabang Batam, Kepulauan Riau, Jumat (9/1/2026). Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Pengamat pertanian Khudori menekankan perlunya penguatan infrastruktur pengering dan gudang Bulog untuk menghadapi puncak panen padi yang diperkirakan berlangsung pada Maret 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan puncak panen padi terjadi pada Maret 2026 dengan produksi mencapai 9,29 juta ton gabah kering giling (GKG) dari panen seluas 1,71 juta hektare.

Khudori menilai panen raya yang lebih panjang dari tahun lalu, yakni Februari hingga April 2026, berpotensi mengulang capaian swasembada beras seperti tahun lalu.
Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) tersebut mengingatkan keterbatasan kapasitas pengering (dryer) dan gudang penyimpanan dapat menghambat penyerapan gabah oleh Bulog.

"Bukan saja karena kapasitas mesin pengering (dryer) dan penggilingan terbatas, tapi juga keterbatasan modal. Terutama penggilingan padi skala kecil. Harga gabah di petani berpeluang terjun bebas," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (13/2).

Khudori menyebut saat ini Bulog memiliki 10 sentra pengolahan padi (SPP) dan 7 sentra pengolahan beras dengan kapasitas giling sekitar 306 ribu ton beras per tahun, atau hanya 7,65 persen dari target penyerapan 4 juta ton setara beras.

Ia menyebut Bulog juga menggandeng sekitar 3.000 mitra pengadaan dan makloon, tetapi kapasitas pengering mitra masih terbatas, berkisar 59 ribu hingga 77 ribu ton GKP per hari.
Khudori merekomendasikan pemetaan infrastruktur pengering, penggilingan, dan transportasi antarwilayah agar gabah hasil panen tidak terlambat ditangani.

"Dalam SOP kerja sama Bulog dengan mitra, gabah harus dikeringkan maksimal 1 x 24 jam setelah diterima. Jika terlambat dikeringkan, gabah akan menghitam, bahkan berkecambah," ucapnya.

Ia juga menyoroti kebutuhan tambahan gudang berkapasitas hingga 1,3 juta ton untuk menampung stok beras yang berpotensi menembus lebih dari 7 juta ton.

Ia menekankan bahwa Bulog perlu segera menyalurkan stok beras 3,2 juta ton yang masih tertahan, agar penyerapan berikutnya dapat berjalan lancar. Langkah ini menurutnya penting untuk membuat Bulog lebih lincah sekaligus meminimalkan risiko penyusutan volume dan penurunan mutu.