NEWS
Polemik Kursi Sultan Kutai, Kilang Pertamina Balikpapan Minta Maaf
apakabar.co.id, JAKARTA – Polemik penempatan tempat duduk Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Yang Mulia Adji Muhammad Arifin, dalam acara peresmian kilang Pertamina di Balikpapan, Kalimantan Timur, terus bergulir.
Setelah Gubernur Kalimantan Timur menyampaikan permohonan maaf, PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB) selaku tuan rumah kegiatan akhirnya angkat bicara dan menyatakan penyesalan atas insiden tersebut.
VP Legal & Relation PT KPB, Asep Sulaeman, mengatakan pihaknya telah menyiapkan langkah lanjutan sebagai bentuk itikad baik, yakni melakukan kunjungan resmi ke Kesultanan Kutai Kartanegara yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu (21/1).
“Sebagai bentuk apresiasi, PT KPB telah menyampaikan permohonan silaturahmi resmi pada Selasa (13/1). Selanjutnya, pada Rabu (14/1), kami juga melakukan kunjungan kepada kerabat Kesultanan dengan sepengetahuan Yang Mulia Ayahanda Sultan,” ujar Asep dalam keterangan tertulisnya, Jumat (16/1).
Dalam pertemuan awal tersebut, kata Asep, kedua pihak sepakat menyusun agenda pertemuan langsung dengan Sultan Kutai Kartanegara.
Pertemuan itu akan dimanfaatkan PT KPB untuk menyampaikan apresiasi atas kehadiran Sultan sekaligus permohonan maaf secara langsung atas ketidaknyamanan yang terjadi, baik kepada pihak Kesultanan maupun masyarakat Kutai secara luas.
Asep menegaskan, insiden penataan tempat duduk tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi rasa hormat kepada Sultan maupun marwah Kesultanan Kutai Kartanegara.
“Kami menyadari adanya keterbatasan kewenangan dan ketidaksempurnaan dalam pelaksanaan kegiatan. Namun dapat kami pastikan, tidak ada niat sedikit pun untuk merendahkan atau mengabaikan kehormatan Yang Mulia Ayahanda Sultan,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, sebagai tuan rumah kegiatan, PT KPB telah berupaya membangun komunikasi intensif dengan pihak Kesultanan sejak awal.
Komunikasi tersebut dilakukan mulai dari kunjungan langsung ke Kedaton Kesultanan untuk menyampaikan informasi kegiatan, proses kedatangan tamu kehormatan, rangkaian acara, hingga kepulangan Sultan.
“Komunikasi dengan kerabat Kesultanan terus terjaga sepanjang proses tersebut,” katanya.
Polemik ini mencuat setelah publik menyoroti posisi duduk Sultan Kutai Kartanegara yang berada di barisan belakang dalam acara peresmian kilang Pertamina, Senin (12/1).
Penataan tersebut dinilai tidak mencerminkan penghormatan terhadap adat dan kedudukan Sultan sebagai tokoh adat tertinggi di Kutai Kartanegara.
Menariknya, situasi itu pertama kali disadari langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto saat acara berlangsung. Prabowo bahkan secara terbuka mempertanyakan penempatan kursi Sultan yang menurutnya tidak tepat.
“Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammad Arifin. Hadir? Yang Mulia. Sultan kok ditaruh di belakang?” ujar Prabowo sambil memberi isyarat tangan bahwa Sultan seharusnya berada di barisan depan.
Meski demikian, Sultan Kutai Kartanegara tetap menunjukkan sikap santun dengan berdiri dan memberikan hormat ketika namanya disebut.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur juga telah memberikan klarifikasi. Kepala Biro Administrasi Pimpinan (Adpim) Setda Kaltim, Syarifah Alawiyah, menegaskan bahwa penataan tempat duduk dalam agenda kunjungan Presiden RI sepenuhnya menjadi kewenangan protokol Istana Negara.
“Kami hanya sebagai pendukung. Tempat duduk sudah diatur oleh protokol Istana lengkap dengan nama, dan kami tidak bisa mengubah apa pun,” ujarnya kepada detikKalimantan, Kamis (16/1).
Ia menjelaskan, susunan tempat duduk mengacu pada Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan. Bahkan, dalam acara tersebut, posisi Gubernur Kaltim dan unsur Forkopimda juga berada di baris kedua karena keterbatasan kursi.
“Kami sempat memprotes karena Gubernur berada di baris kedua, tetapi di depannya ada menteri dan anggota DPR RI. Sebagai insan protokol, kami memahami aturan tersebut,” pungkasnya.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

