LIFESTYLE
Anak Terpapar Asap Rokok Berisiko Alami Kerusakan Saraf hingga Jantung
apakabar.co.id, JAKARTA - Dokter spesialis anak konsultan respirologi dari Universitas Indonesia, dr. Darmawan Budi Setyanto Sp.A(K), menegaskan bahwa paparan asap rokok pada anak tidak hanya berdampak pada sistem pernapasan, tetapi dapat menyebabkan kerusakan berbagai organ vital, termasuk sistem saraf pusat dan otak.
Menurut Darmawan, bahaya asap rokok pada anak kerap diremehkan karena dampaknya tidak selalu muncul secara instan. Padahal, kerusakan yang ditimbulkan bersifat kumulatif dan jangka panjang, bahkan dapat memengaruhi kualitas hidup anak hingga dewasa.
“Bahayanya bukan cuma ke sistem respiratori atau pernapasan. Dari ujung rambut sampai ujung kaki itu kena dampaknya. Sistem saraf otak kena, jantung kena, pencernaan kena, dan efeknya itu tidak perlu menunggu sampai dewasa,” kata Darmawan dikutip ANTARA, Kamis (29/1).
Darmawan menjelaskan bahwa anak yang tinggal di lingkungan perokok berpotensi menjadi second hand smoker, yakni menghirup asap rokok secara langsung.
Selain itu, anak juga bisa menjadi third hand smoker, yaitu terpapar residu zat berbahaya dari asap rokok yang menempel di dinding rumah, pakaian, furnitur, hingga tempat tidur.
“Residunya itu bisa menempel lama. Anak tetap menghirup zat berbahaya meskipun rokoknya sudah padam,” jelasnya.
Paparan tersebut tidak langsung menimbulkan penyakit, tetapi terjadi secara perlahan dan terus menumpuk seiring waktu, sehingga kerusakan organ dapat semakin berat.
Lebih jauh, Darmawan mengungkapkan bahwa paparan asap rokok pada anak berkaitan erat dengan gangguan perkembangan otak. Anak-anak yang terpapar berisiko mengalami penurunan prestasi belajar, gangguan kecerdasan, hingga masalah perilaku.
“Efeknya bisa ke prestasi sekolah, mengganggu kecerdasan, dan memicu gangguan perilaku seperti ADHD atau hiperaktif,” ujarnya.
Selain itu, sistem saluran pernapasan anak juga menjadi lebih rentan. Anak yang terpapar asap rokok disebut lebih mudah terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Asap rokok itu polusi. Kalau ditambah polusi luar seperti asap kendaraan, efeknya makin kumulatif,” kata Darmawan.
Risiko kesehatan akibat paparan asap rokok tidak berhenti di masa kanak-kanak. Darmawan menekankan bahwa anak yang sejak kecil terpapar asap rokok memiliki potensi lebih besar mengalami penyakit paru kronik dan penyakit jantung saat dewasa.
Kerusakan memang bisa dihentikan agar tidak semakin parah jika paparan dihentikan, tetapi kerusakan yang sudah terjadi tidak serta-merta bisa diperbaiki.
“Kalau pajanannya berhenti, kerusakan yang sudah terjadi tidak bertambah parah. Tapi kalau terus terpajan, makin berat,” jelasnya.
Darmawan menegaskan pentingnya menghentikan paparan asap rokok sedini mungkin untuk meminimalkan kerusakan organ anak. Terapi dapat dilakukan bila gejala penyakit sudah muncul, namun tidak semua dampak bisa dipulihkan.
Ia mengingatkan bahwa kerusakan pada sistem saraf pusat, terutama yang berdampak pada kecerdasan, berpotensi bersifat permanen.
“Kalau sudah kena saraf pusat dan kecerdasan, itu dikhawatirkan tidak bisa diperbaiki,” ujarnya.
Dengan nada tegas, Darmawan menyampaikan pesan peringatan bagi orang tua dan lingkungan sekitar anak.
“Anak-anak yang terpajan rokok sejak kecil itu jangan berharap jadi generasi emas. Bisa jadi generasi cemas dan lemas,” katanya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa melindungi anak dari asap rokok bukan pilihan, melainkan keharusan, demi masa depan generasi yang lebih sehat dan berkualitas.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

