OPINI
Menelusuri Evolusi Sungai dari Bumi Purba hingga Sumber Bencana
Oleh: Dian Fiantis*
Sungai kerap dituding sebagai biang keladi bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Ini terjadi ketika tubuh Batang Anai, Batang Kuranji, Batang Toru, dan Krueng Meureudu tidak sanggup lagi menampung derasnya butiran hujan yang turun. Aliran airnya pun berubah menjadi bah yang meluap ke segala arah dan menyapu apapun yang dilewatinya.
Jalan penghubung Kota Padang dan Padang Panjang putus total setelah ditimbuni material longsor. Pada saat bersamaan, derasnya aliran air Batang Anai menggerus dinding pembatas dan badan jalan. Aliran Batang Anai pun bergeser menjauhi sisi jalan raya.
Sungai adalah salah satu saksi tertua sejarah Bumi ini. Jauh sebelum manusia mengenal peradaban, bahkan sebelum hutan tropis tumbuh lebat, air telah lebih dulu mengalir, mengikis bebatuan, untuk akhirnya membentuk wajah daratan.
Evolusi sungai adalah kisah panjang tentang perubahan iklim, aktivitas tektonik dan vulkanis, munculnya kehidupan, hingga campur tangan manusia.
Mari menelusuri seluk beluk sungai, bentang alam yang kerap luput dari perhatian saat keadaan tentram dan damai. Tetapi kala bencana menghampiri dengan tiba-tiba, sungai dituding sebagai pihak yang harus bertanggung jawab. Malangnya nasibmu sungai.
Dunia Tanpa Sungai
Sekitar 4,6 miliar tahun lalu, ketika Bumi baru terbentuk, permukaannya masih sangat panas dan penuh aktivitas vulkanis. Atmosfer purba dipenuhi asap, kaya uap air, karbon dioksida, dan gas-gas beracun seperti hydrogen sulfida, karbon monoksida.
Ketika suhu mulai turun, uap air mengembun menjadi hujan pertama di planet ini sekitar 4 miliar-3,8 miliar tahun lalu. Air tersebut mengisi cekungan-cekungan besar dan membentuk samudra purba.
Saat itu sungai belum ada seperti yang kita kenal sekarang. Daratan masih sangat terbatas dan belum stabil. Hujan turun langsung ke cekungan atau laut tanpa membentuk saluran permanen. Bumi masih dalam fase “eksperimen” geomorfologi.
Memasuki era Arkean, sekitar 4 miliar tahun lalu, kerak benua mulai menebal dan daratan perlahan muncul ke permukaan. Hujan yang turun saat itu tidak lagi langsung mengalir ke laut, tetapi mengikuti kemiringan lereng. Air mulai mengukir permukaan bebatuan, membentuk alur-alur kecil. Inilah cikal bakal sungai purba.
Jejak-jejaknya masih bisa kita baca hingga kini. Terlihat pada batuan tua di Kanada dan Australia Barat, bekas goresan air purba serta lapisan sedimen yang menjadi saksi bisu aliran masa lampau. Meski kala itu sungai masih sederhana dan kerap muncul lalu menghilang, aliran-aliran inilah yang menandai langkah pertama Bumi dalam membangun sistem sungainya.
Memasuki akhir era Arkean hingga Proterozoikum, sekitar 3,5 miliar hingga 2,5 miliar tahun silam, Bumi mulai menemukan ritmenya. Hujan turun lebih teratur, siklus air kian stabil, dan sungai-sungai purba pun tumbuh semakin panjang serta menetap di lanskap yang baru lahir.
Sayangnya, si sungai masih liar dan tak terkendali. Belum ada pepohonan atau tumbuhan darat yang menahan bebatuan, sehingga setiap aliran membawa serta butiran bumi dalam jumlah besar. Erosi berlangsung tanpa ampun, mengangkut sedimen yang kemudian mengendap dan membentuk lapisan bebatuan tebal.
Sungai Mulai Terbentuk
Memasuki era Fanerozoikum, sekitar 541 juta tahun lalu, Bumi seolah menarik napas panjang dan memulai babak baru kehidupannya. Sungai-sungai yang sebelumnya liar mulai menemukan jalurnya.
Perubahan penting terjadi pada periode Devonian, sekitar 419 juta–359 juta tahun lalu, ketika tumbuhan pertama mulai menjejak daratan. Akar-akar purba itu menjadi penahan alami tanah, membuat sungai perlahan berubah.
Aliran yang dulu kasar mulai berkelok lembut, membangun dataran banjir, serta menciptakan tepian sungai yang subur—ruang baru bagi kehidupan yang sedang berkembang.
Jejak sungai purba dari masa Devonian masih dapat dibaca hingga kini. Terdapat di Skotlandia dan Norwegia, lapisan batu pasir dan kerikil merekam alur-alur sungai yang pernah mengalir di daratan tanpa pepohonan.
Sementara di Kanada dan Australia Barat, endapan fluvial menjadi saksi bagaimana sungai purba mengangkut sedimen dari benua muda menuju laut purba.
Dari sungai-sungai purba inilah kita belajar bahwa air bukan sekadar mengalir, tetapi membentuk wajah Bumi dan membuka jalan bagi lahirnya ekosistem darat.
Pada era Mesozoikum, sekitar 252 juta–66 juta tahun lalu, ketika dinosaurus menjadi penguasa daratan, sungai menjelma sebagai tulang punggung ekosistem bumi. Dataran banjirnya menjadi ruang kehidupan—menyediakan air dan nutrien bagi hutan purba serta fauna raksasa yang berkeliaran di sekitarnya.
Setiap sungai banjir, luapannya membawa lumpur subur dan setiap aliran mengukir bentang alam yang baru. Endapan sungai dari masa ini kemudian terkubur selama jutaan tahun. Produknya kini kita manfaatkan sebagai sumber energi fosil seperti batu bara, minyak, dan gas bumi yang menopang peradaban modern.
Memasuki era Kenozoikum, sejak 66 juta tahun lalu hingga sekarang, setelah dinosaurus punah, dunia memasuki babak baru.
Mamalia berkembang pesat, dan kerak bumi pun bergolak. Pegunungan raksasa seperti Himalaya (mulai terangkat sekitar 50 juta tahun lalu), Andes (sejak sekitar 80 juta tahun lalu), dan Alpen (sekitar 35 juta tahun lalu) perlahan menjulang akibat tumbukan lempeng tektonik.
Bersamaan dengan itu, sungai-sungai besar dunia mulai menemukan bentuk modernnya. Di tepiannya, manusia menetap, bercocok tanam, berdagang, dan membangun kota. Di sinilah sungai bukan lagi sekadar aliran air, melainkan nadi yang menghidupi peradaban purba sampai digital.
Proses Tumbuhnya Sungai
Sungai tidak serta-merta hadir sebagai alur panjang yang membelah bentang alam. Ia tumbuh perlahan melalui proses geomorfologi yang berlangsung ribuan hingga jutaan tahun.
Air hujan yang jatuh di lereng perbukitan dan pegunungan mula-mula mengalir sebagai limpasan permukaan, membentuk alur-alur kecil yang kemudian menyatu menjadi anak sungai. Melalui proses erosi, aliran ini mengikis tanah dan batuan, memperpanjang jalurnya ke arah hulu dan memperdalam lembah yang dilaluinya.
Setiap pertemuan antarsungai menambah panjang alur utama, hingga akhirnya terbentuk sistem sungai yang menjalar dari daerah tinggi menuju dataran rendah dan berakhir di laut.
Seiring waktu, sungai juga melebar akibat interaksi antara erosi dan sedimentasi. Saat debit air meningkat, terutama pada musim hujan, sungai meluap dan menggerus tebing di satu sisi, sementara di sisi lain ia mengendapkan lumpur dan pasir.
Proses ini menciptakan dataran banjir yang semakin luas. Gerak berkelok atau meander menjadi mekanisme alami yang membuat sungai terus menata tubuhnya, melebar sedikit demi sedikit. Inilah cara sungai membentuk bentang alam: mengikis, mengangkut, lalu mengendapkan material, hingga perlahan mengubah wajah bumi yang kita huni hari ini.
Sekarang adalah era Antroposen, ketika manusia menjadi kekuatan geomorfologi utama. Sungai dibendung, dialihkan, diluruskan, dan sering tercemar. Hutan di hulu ditebang berakibat daerah resapan air menyusut, dan terjadi peningkatan limpasan permukaan. Konsekuensinya banjir makin sering terjadi, sedimentasi terganggu, kualitas air menurun, dan ekosistem sungai terdegradasi.
Sungai yang dahulu membentuk peradaban kini justru terancam oleh aktivitas manusia. Padahal, evolusi sungai adalah kisah tentang interaksi air, batuan, kehidupan, dan manusia. Sungai terus berubah mengikuti denyut zaman dari aliran purba di Bumi muda hingga jaringan sungai modern yang menopang peradaban.
Sungai Bukan Tong Sampah
Pemandangan tumpukan sampah yang mengambang di permukaan sungai semakin lumrah terlihat. Itu terjadi ketika oknum masyarakat membuang sampah ke sungai. Sampah yang dilempar itu akan menyumbat aliran air, mempercepat pendangkalan, memicu banjir, dan mencemari sumber air bersih yang kita andalkan bersama.
Lebih dari itu, plastik dan limbah beracun mengancam ikan, merusak ekosistem, lalu kembali ke tubuh manusia melalui rantai makanan. Sungai bukan tempat sampah—ia adalah nadi kehidupan. Menjaganya berarti menjaga kesehatan lingkungan, keselamatan kota, dan masa depan generasi mendatang.
Sekitar 30 tahun lalu, saat menempuh studi S2, penulis pernah mendapat teguran tak terlupakan dari seorang anak balita asal Belgia. Saat itu, kami bertiga menyusuri sungai dengan kayak di perbatasan Belgia–Prancis.
Ketika anak lelaki kami ingin buang air kecil, kayak ditepikan dan ia diarahkan untuk menyelesaikan keperluannya di tepi sungai. Namun, bocah Belgia itu spontan berteriak melarang, seraya menegaskan bahwa buang air harus dilakukan di toilet. Ia bahkan melaporkan kejadian tersebut kepada orang tuanya. Rasa malu atas peristiwa itu masih membekas hingga kini.
Pengalaman itu menjadi pelajaran bahwa kesadaran menjaga kebersihan sungai telah ditanamkan sejak usia dini di Eropa. Kontras dengan kondisi di banyak daerah kita, sebagian masyarakat masih dengan mudah membuang sampah ke sungai. Padahal, sungai semestinya dijaga sebagai sumber kehidupan, bukan dijadikan tempat pembuangan.
Kita perlu satu suara untuk menyatakan bahwa sungai adalah nadi kehidupan. Menjaga sungai berarti menjaga masa depan. Apa yang kita lakukan hari ini akan tercatat sebagai jejak sejarah bagi generasi mendatang—sebagai bukti apakah kita memilih peduli atau abai.
Kini saatnya kita berhenti menyalahkan sungai atas ketidakmampuannya menampung deras hujan. Bukan sungainya yang salah, melainkan cara kita memperlakukannya.
*) Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY




