EKBIS
Rupiah Melemah Tipis di Akhir Perdagangan, Sentimen Global Masih Menekan
Mata uang Garuda turun 1 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp16.956 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.955 per dolar AS.
apakabar.co.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan di Jakarta, Selasa (20/1). Mata uang Garuda turun 1 poin atau sekitar 0,01 persen ke level Rp16.956 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.955 per dolar AS.
Pengamat pasar mata uang dan aset digital, Ibrahim Assuaibi, menilai tekanan terhadap rupiah relatif terbatas. Salah satu penopang utama datang dari revisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Dana Moneter Internasional (IMF) untuk periode 2026 dan 2027.
IMF memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,1 persen pada dua tahun tersebut. Angka ini lebih tinggi dibandingkan estimasi pertumbuhan 2025 yang berada di level 5 persen. Ibrahim menjelaskan, revisi tersebut menunjukkan kepercayaan lembaga internasional terhadap ketahanan ekonomi nasional.
“Untuk 2026, IMF menaikkan proyeksi sebesar 0,2 persen, sedangkan 2027 direvisi naik 0,1 persen dibandingkan proyeksi Oktober 2025,” ujar Assuaibi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (20/1).
Kenaikan proyeksi Indonesia sejalan dengan perbaikan outlook pertumbuhan ekonomi global. IMF memperkirakan ekonomi dunia pada 2026 tumbuh 3,3 persen, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1 persen. Stimulus fiskal yang agresif serta kebijakan moneter yang masih akomodatif dinilai menjadi faktor utama penopang.
Meski demikian, sentimen eksternal tetap menjadi tekanan bagi rupiah. Pasar masih mencermati rencana Presiden AS Donald Trump yang akan memberlakukan tarif impor 10 persen terhadap negara-negara Eropa mulai 1 Februari 2026 terkait isu Greenland. Tarif tersebut bahkan berpotensi naik menjadi 25 persen pada 1 Juni apabila tidak tercapai kesepakatan.
Uni Eropa dikabarkan menyiapkan tarif balasan hingga 93 miliar euro terhadap produk asal AS. Selain itu, parlemen Eropa juga mempertimbangkan penundaan ratifikasi perjanjian perdagangan dengan AS yang ditandatangani pada musim panas lalu. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi perang dagang.
Dari sisi kebijakan moneter, mayoritas analis memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan akhir Januari. Berdasarkan data CME FedWatch, peluang penurunan suku bunga hanya sekitar 5 persen. Kondisi tersebut membuat dolar AS masih bergerak kuat di pasar global.
Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat melemah ke Rp16.981 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.935 per dolar AS.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai posisi rupiah saat ini sudah berada di bawah nilai fundamentalnya. Ia mengingatkan pelaku pasar agar tidak terlalu agresif mengambil posisi panjang pada dolar AS.
“Untuk spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long,” kata Purbaya di Jakarta dikutip dari CNBC.
Menurutnya, pelemahan rupiah tidak sejalan dengan kondisi pasar keuangan domestik yang justru menunjukkan tren positif. Arus modal asing tercatat masih masuk, terutama ke pasar saham.
Pada perdagangan sesi pertama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 21,54 poin atau 0,24 persen ke level 9.155,41. Dari total saham yang diperdagangkan, 409 saham menguat, 295 saham melemah, dan 254 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp15,91 triliun dengan volume 38,85 miliar saham dalam 2,26 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar meningkat menjadi Rp16.613 triliun.
“Data ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia masih terjaga,” ujarnya.
Purbaya menilai, secara fundamental, tidak ada alasan kuat bagi rupiah untuk terus melemah ketika arus modal asing masih deras masuk ke dalam negeri. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya ketidakseimbangan di pasar valuta asing.
Ia optimistis rupiah ke depan akan bergerak menguat secara bertahap seiring membaiknya kondisi ekonomi nasional serta meningkatnya kepercayaan investor global. Investor, menurutnya, melihat fondasi ekonomi Indonesia masih solid, baik dari sisi pertumbuhan, stabilitas fiskal, maupun prospek jangka panjang.
Pemerintah pun mengimbau pelaku pasar agar lebih mempertimbangkan faktor fundamental dalam mengambil keputusan investasi di pasar valuta asing, dan tidak semata-mata terpengaruh oleh sentimen jangka pendek.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK