1446
1446

Idulfitri: Momentum Spiritualitas dan Etika Ekonomi

Aktivitas ekonomi antara pedagang dengan pembeli di pasar tradisional. Foto: Antara

Oleh: Syafruddin Karimi*

Ketika gema takbir berkumandang menggetarkan langit malam 1 Syawal, umat Islam di seluruh penjuru dunia menutup bulan suci Ramadan dengan penuh rasa syukur dan haru.

Idulfitri, sebagai hari kemenangan, bukan sekadar perayaan spiritual, tetapi juga menjadi titik balik penting dalam pembangunan etika sosial dan ekonomi umat.

Ramadan dan Disiplin Ekonomi

Selama Ramadan, umat Islam ditempa dalam sekolah kesabaran dan kedisiplinan. Tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga hawa nafsu dan perilaku konsumtif.

Pola konsumsi yang lebih terkendali, kebiasaan bangun dini hari, serta meningkatnya aktivitas amal—semua ini membentuk karakter homo islamicus, manusia yang ekonominya dibingkai oleh iman dan taqwa.

Kebiasaan berinfak, membayar zakat fitrah, dan bersedekah menjadi praktik nyata dari redistribusi kekayaan yang tidak hanya diwajibkan, tetapi juga dilandasi oleh semangat kasih sayang dan solidaritas. Hal ini memperkuat fungsi ekonomi Islam sebagai sistem yang mengedepankan keadilan dan keberpihakan terhadap kelompok lemah.

Idulfitri dan Etos Produktivitas

Idulfitri menandai awal baru. Setelah sebulan penuh pelatihan spiritual, umat Islam kembali ke rutinitas kehidupan dengan jiwa yang bersih dan semangat baru untuk produktif.

Dalam perspektif ekonomi Islam, Idulfitri bukan hanya pesta kemenangan, melainkan panggilan untuk membangun peradaban. Etos kerja dalam Islam tidak terpisah dari ibadah. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad) merupakan motivasi untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi terhadap kemajuan umat.

Idulfitri adalah panggilan untuk melanjutkan kehidupan dengan penuh integritas dan tanggung jawab sosial.

Dari Konsumtif ke Kontributif

Perayaan Idulfitri sering kali diwarnai dengan peningkatan konsumsi: pakaian baru, makanan lezat, dan mudik massal. Namun dalam pandangan Islam, konsumsi bukanlah tujuan, melainkan wasilah (sarana) untuk mempererat silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan meningkatkan kesejahteraan kolektif.

Momentum ini seharusnya mengajak umat Islam untuk bertransisi dari budaya konsumtif menjadi kontributif, yakni dari hanya membeli menjadi berbagi, dari membelanjakan menjadi menyejahterakan, dari pemborosan menuju keberkahan.

Penutup

Idulfitri bukan akhir dari ibadah, melainkan awal dari komitmen panjang membumikan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa kita, dan menjadikan kita insan yang kembali fitrah—bersih jiwanya, kuat etos kerjanya, dan tinggi kontribusinya bagi umat dan bangsa.

*) Guru Besar Departemen Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas

8 kali dilihat, 8 kunjungan hari ini
Editor: Bethriq Kindy Arrazy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *