NEWS

Menjaga Ingatan Samarinda di Tengah Bayang-bayang IKN

Situasi tempo dulu tepian sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Antara
Situasi tempo dulu tepian sungai Mahakam di Samarinda, Kalimantan Timur. Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Sungai Mahakam tak pernah benar-benar tidur. Namun wajah kota yang terpantul di permukaannya kini telah jauh berubah. Dari kota yang tumbuh sebagai permukiman berbasis sungai, Samarinda bertransformasi menjadi kawasan urban modern dan diproyeksikan sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).

Perubahan itu menjadi latar utama buku Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu karya Syafruddin Pernyata. Buku ini merekam memori kolektif Samarinda melalui kisah-kisah sejarah sosial yang lahir dari kehidupan masyarakat di tepian Mahakam. 

Buku yang berangkat dari kepingan cerita di grup maya History of Samarinda (HoS) ini bukan kumpulan status media sosial yang sekadar dibukukan. Ia menjelma dokumentasi sosial, merekam kehidupan Samarinda sebagai kota yang lahir dan tumbuh dari tepian sungai.

Syafruddin menempatkan transformasi ekonomi sebagai sumbu utama perubahan wajah kota. Samarinda tidak tumbuh secara organik semata, tetapi dipacu eksploitasi sumber daya alam. Ia menyebut masa kejayaan kayu sebagai emas hijau, disusul era batu bara sebagai emas hitam.

“Bab-bab buku ini seolah menjadi peta waktu bagi transisi tersebut,” tulis Syafruddin.


Salah satu bab penting mengulas kejayaan industri kayu lapis. Bagi generasi milenial dan Gen Z, mungkin sulit membayangkan Samarinda pernah menjadi pusat pabrik tripleks berskala besar. Kini, pabrik-pabrik itu tinggal kenangan—berganti lahan kosong atau fungsi lain.

Narasi ini memberi konteks pada data demografi yang disajikan penulis: lonjakan penduduk dari 609.380 jiwa pada 2009 menjadi 834.824 jiwa pada 2023. Ledakan populasi itu adalah konsekuensi logis dari daya tarik ekonomi Samarinda, yang mengubah struktur sosialnya dari masyarakat sungai menjadi kota urban yang heterogen.

Romantisme Jeep Willys dan Misbar

Kekuatan utama buku ini bukan pada analisis ekonomi makro, melainkan pada sejarah kecil—fragmen kehidupan yang kerap luput dari buku sejarah resmi.

Syafruddin memotret artefak budaya pop lokal, salah satunya jeep willys. Dalam bab Jeep Willys Jadi Taksi, pembaca diajak kembali ke masa ketika kendaraan sisa Perang Dunia II itu dimodifikasi menjadi angkutan kota berkabin kayu. Ia bukan sekadar alat transportasi, melainkan simbol kreativitas, denyut ekonomi, sekaligus status sosial warga.

Hiburan rakyat pun tak luput. Bab Misbar, Gerimis Bubar dan Antara Televisi, Bioskop, dan Compact Disc merekam pergeseran cara masyarakat menikmati hiburan. Misbar—bioskop terbuka yang bubar saat hujan—memiliki nuansa komunal yang kini nyaris hilang, tergantikan bioskop berpendingin udara di pusat perbelanjaan.

Penulis juga menyinggung tempat-tempat legendaris yang perlahan menghilang dari peta kota. Kisah Toko Buku Ang Siang Tjin dan Toko Buku Aziz menjadi ode bagi literasi masa lalu.

“Mengenang toko buku fisik yang pernah menjadi pusat peradaban kota terasa melankolis sekaligus penting,” tulis Syafruddin.

Menariknya, buku ini tidak terjebak pada romantisasi masa lalu. Syafruddin juga menyentuh sisi-sisi gelap sejarah Samarinda. Bab tentang Jugun Ianfu mengingatkan luka pendudukan Jepang yang tertanam di tanah ini. Kisah Lamin Indah, hostess, dan Gunung Steleng menyiratkan dinamika kehidupan malam—realitas yang kerap absen dari narasi resmi kota.

Penyebutan lokasi-lokasi spesifik seperti Selili, Sungai Kerbau, dan Sungai Kapih (disebut sebagai 4S) memberi kedalaman geografis. Samarinda tampil sebagai kumpulan kampung dengan karakter unik, bukan sekadar pusat kota di tepian Mahakam. Bahkan isu banjir—dalam bab Banjir, Ikam Hanyarkah di Samarinda?—menegaskan bahwa persoalan ini adalah warisan lama yang terus berulang, seolah menjadi bagian dari DNA kota.

Jangkar Ingatan di Era IKN

Penerbitan buku ini menemukan momentum penting. Penetapan Kalimantan Timur sebagai lokasi IKN menempatkan Samarinda pada posisi strategis sekaligus rentan. Kota ini diproyeksikan menjadi metropolitan penyangga dengan segala konsekuensinya.

“Sepuluh tahun lagi mungkin mencapai satu juta jiwa,” tulis Syafruddin.


Prediksi itu bukan sekadar angka statistik, melainkan peringatan. Ketika Bandara APT Pranoto kian sibuk dan pelabuhan peti kemas semakin padat, kisah tentang perahu tambangan dalam bab Balarut Tambangan Sayang Menyisih Ilung terasa makin menyentuh—seperti gema masa lalu yang perlahan teredam.

Dengan gaya yang memadukan reportase jurnalistik dan tuturan lisan, Kisah-kisah Samarinda Tempo Dulu mudah diakses lintas generasi. Buku terbitan Spirit Komunika setebal 176 halaman ini pada akhirnya adalah upaya melawan lupa.

Ia berfungsi sebagai jangkar, agar warga Samarinda—baik penduduk asli maupun pendatang—tidak kehilangan pijakan. Sebab kota tanpa ingatan hanyalah tumpukan infrastruktur tanpa jiwa.

Dan Samarinda, dengan segala romansa dan realitanya, terlalu berharga untuk sekadar menjadi kota penyangga di beranda ibu kota negara.