NEWS

Amonia jadi Kunci Energi Bersih, MHI dan ITB Perpanjang Kolaborasi Riset

Mitsubishi Heavy Industries, Ltd. (MHI) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali memperkuat kerja sama riset di bidang energi bersih.
Satoshi Hada (Senior Vice President MHI) dan Prof. Ari Darmawan Pasek, (ITB) pada penandatanganan penelitian dan pengembangan bersama. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Satoshi Hada (Senior Vice President MHI) dan Prof. Ari Darmawan Pasek, (ITB) pada penandatanganan penelitian dan pengembangan bersama. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Mitsubishi Heavy Industries, Ltd. (MHI) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali memperkuat kerja sama riset di bidang energi bersih. Kedua pihak menandatangani perjanjian riset baru yang memperpanjang kolaborasi jangka panjang mereka dalam pengembangan pembangkit listrik ramah lingkungan, khususnya yang berbasis bahan bakar amonia

Langkah ini menjadi bagian penting dalam upaya mendorong teknologi energi bersih dan mendukung agenda dekarbonisasi Indonesia.

Perjanjian terbaru ini merupakan kelanjutan dari studi bersama sebelumnya yang telah dilakukan MHI dan ITB. Fokus utama riset adalah pembakaran amonia, terutama untuk memperdalam pemahaman tentang bagaimana amonia dapat digunakan secara aman dan efektif dalam sistem turbin gas

Amonia dikenal sebagai salah satu bahan bakar bebas karbon yang potensial karena tidak menghasilkan emisi karbon dioksida saat digunakan, namun memiliki karakteristik teknis yang perlu ditangani secara cermat.

Melalui kolaborasi ini, MHI bersama merek solusi dayanya, Mitsubishi Power, dan ITB berupaya memperkuat basis pengetahuan teknis terkait penggunaan amonia dalam pembangkitan listrik. Tujuan akhirnya adalah mendukung penerapan amonia secara praktis di sektor energi, sekaligus berkontribusi pada target jangka panjang Indonesia dalam menurunkan emisi karbon dan mencapai pembangunan berkelanjutan.

Dalam acara penandatanganan yang digelar di Bandung, Senin (19/1), Senior Vice President GTCC Business Division MHI, Satoshi Hada, menegaskan bahwa riset dan pengembangan merupakan pilar utama dalam strategi MHI. 

Ia menyampaikan kebanggaannya atas keberlanjutan kerja sama dengan ITB yang telah terjalin selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, meskipun amonia semakin diakui sebagai bahan bakar bebas karbon yang menjanjikan, pemanfaatannya membutuhkan pemahaman mendalam terhadap sifat dan tantangan teknis yang dimilikinya. 

"Melalui riset bersama ini, MHI berharap dapat memperkuat fondasi teknologi untuk pembangkit listrik yang lebih bersih di Indonesia," ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Prof. Ari Darmawan Pasek dari ITB. Ia menekankan bahwa transisi menuju energi bersih merupakan langkah krusial dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Kolaborasi antara dunia akademik dan industri, menurutnya, sangat penting untuk mempercepat pengembangan teknologi bahan bakar bersih. 

ITB meyakini kemitraan berkelanjutan dengan MHI akan menghasilkan berbagai temuan dan wawasan baru yang dapat mendukung peran amonia dalam sistem pembangkitan listrik masa depan Indonesia.

Kerja sama antara MHI dan ITB sendiri dimulai sejak tahun 2020 melalui penandatanganan nota kesepahaman untuk riset solusi energi bersih generasi berikutnya, termasuk pemanfaatan analisis big data di sektor pembangkit listrik. 

Kemitraan kemudian diperpanjang pada tahun 2022 dan terus berkembang melalui berbagai inisiatif riset yang fokus pada pembangkit listrik berbahan bakar amonia. Perjanjian terbaru tahun 2026 menjadi kelanjutan dari proses kolaborasi yang dibangun secara bertahap dan berkesinambungan.

Dengan dukungan Mitsubishi Power, MHI menegaskan komitmennya untuk terus berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di sektor energi Indonesia. 

Kolaborasi ini sejalan dengan ambisi nasional untuk mencapai target emisi nol bersih pada tahun 2060, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengadopsi teknologi pembangkitan listrik yang lebih bersih, aman, dan berkelanjutan di masa depan.