NEWS

Potensi Kerugian Akibat Banjir Kudus Ditaksir Setengah Triliun Lebih

Satu rumah di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tergenang banjir akibat curah hujan tinggi selama beberapa hari di Kabupaten Kudus. Foto: Antara
Satu rumah di Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, tergenang banjir akibat curah hujan tinggi selama beberapa hari di Kabupaten Kudus. Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, memperkirakan potensi kerugian akibat banjir yang melanda sejumlah desa selama sepekan terakhir sekitar Rp533 miliar, mencakup kerusakan infrastruktur milik pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pusat.

Dari total potensi kerugian tersebut, sekitar Rp389 miliar merupakan kerugian yang dialami Pemerintah Kabupaten Kudus. Kerusakan yang terjadi meliputi infrastruktur jalan, bangunan sekolah, puskesmas, talud, sungai, serta fasilitas publik lainnya. Selain itu, banjir berdampak terhadap rumah warga dan lahan persawahan.

"Harapannya semua bisa segera ditangani," kata Bupati Kudus Sam'ani Intakoris di Kudus seperti dilansir Antara, Senin (19/1).

Sebagai tindak lanjut, Pemkab Kudus akan mengusulkan bantuan penanganan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar direkomendasikan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk mendapatkan alokasi anggaran perbaikan.
Ia mengatakan alokasi dana tidak terduga Pemkab Kudus Rp7,5 miliar belum digunakan, tetapi nantinya penyusunan detail engineering design (DED) sebagai salah satu syarat pengajuan bantuan kepada pemerintah pusat.

Terkait dengan penanganan banjir, kata dia, sejumlah pompa dan pintu air telah dioperasikan. Berdasarkan pengecekan di lapangan, sebagian pintu air sudah dibuka dan pompa berfungsi untuk mempercepat surutnya genangan.

"Kami juga berencana berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk mendatangkan tambahan pompa. Saat ini mesin pompa masih jalan terus. Kita juga berusaha berkomunikasi dengan balai besar sungai untuk mendatangkan pompa tambahan agar genangan lebih cepat surut," ujarnya.

Kondisi banjir saat ini, kata dia, sebagian besar wilayah sudah mulai surut dengan penurunan ketinggian air sekitar 20 centimeter. Namun, masih terdapat genangan di beberapa lokasi karena aliran air yang seharusnya menuju wilayah Juwana justru ke daerah Tanggulangin.
Untuk kondisi pengungsi, sebagian warga masih bertahan di pos-pos pengungsian, meskipun sebagian lainnya sudah kembali ke rumah untuk melakukan pembersihan. Pemkab Kudus memastikan ketersediaan logistik bagi warga terdampak.

"Kami harapkan jika ada kekurangan kebutuhan, bisa segera disampaikan. Kami akan berusaha memenuhi kebutuhan warga terdampak," ujarnya.

Terkait dengan upaya modifikasi cuaca, dia mengakui, belum bisa memastikan hasilnya karena yang mengetahui secara pasti pihak BMKG, BNPB, maupun pemerintah provinsi.
Meskipun demikian, saat ini ada perbedaan kondisi dibandingkan dengan beberapa waktu terakhir. Ia berharap, intensitas hujan segera mereda.

Berdasarkan data BPBD Kudus, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak Jumat (9/1) menyebabkan banjir di 38 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Jumlah pengungsi 2.211 jiwa yang tersebar di 14 tempat pengungsian.

Tanah longsor tercatat di 135 lokasi tersebar di 14 desa di tiga kecamatan, mengakibatkan satu korban meninggal dunia dan 34 rumah terdampak.