EKBIS

Rupiah Terus Menguat, Tanda Tekanan Global Mereda?

Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. Foto: ANTARA
Petugas menghitung uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Nilai tukar rupiah menguat 76 poin atau 0,45 persen menjadi Rp16.820 per dolar AS. Sebelumnya nilai tukar rupiah mencapai Rp16.896 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva mengungkapkan penguatan kurs rupiah mencerminkan respons pasar atas tekanan global yang mereda.

"Terutama dari pergerakan dolar AS dan imbal hasil US Treasury," katanya di Jakarta, Jumat (23/1).

Meski begitu, kata Taufan, ruang penguatan rupiah masih terbatas karena pelaku pasar cenderung wait and see terhadap rilis data ekonomi Amerika Serikat dan dinamika sentimen global.
Secara global, rupiah dipengaruhi ekspektasi arah kebijakan The Fed, pergerakan yield US Treasury, serta kondisi geopolitik yang masih berpotensi mendorong sentimen risk-off.

Adapun sentimen dalam negeri, rupiah ditopang fundamental ekonomi yang relatif solid, inflasi terkendali, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Arus modal asing ke pasar obligasi domestik juga menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan rupiah,” ujarnya.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak menguat ke level Rp16.838 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.902 per dolar AS.

Sementara itu, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures Ariston Tjendra mengatakan penguatan kurs rupiah diiringi isyarat Presiden AS Donald Trump yang takkan menyerang Greenland secara militer.

"Kelihatan pagi ini indeks saham Asia positif, semalam juga indeks saham Amerika Serikat (AS) positif. Beberapa nilai tukar emerging market juga kelihatan menguat terhadap dolar Amerika Serikat," katanya.