NEWS
Menbud Dorong Sejarah Jangan Berhenti di Arsip
apakabar.co.id, JAKARTA - Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong agar penulisan sejarah Indonesia tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dihilirkan sehingga memberi dampak nyata bagi masyarakat. Sejarah, menurutnya, harus menjadi sumber pengetahuan yang hidup, relevan, dan dapat dimanfaatkan lintas medium budaya.
Penegasan itu disampaikan Fadli saat Gelar Wicara Sejarah bertajuk Menegaskan Keindonesiaan di Tengah Arus Global yang digelar di Gedung A Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Sabtu (3/1). Forum ini menjadi bagian dari rangkaian proses penulisan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global.
Fadli menilai penulisan sejarah merupakan tantangan sekaligus tanggung jawab bersama para ilmuwan Indonesia, mulai dari sejarawan, arkeolog, antropolog, hingga sosiolog. Ia menegaskan, sejarah tidak cukup diwariskan melalui tradisi tutur, tetapi harus ditulis agar abadi dan terus berkembang.
“Ini tantangan bagi para ilmuwan kita. Apa yang bisa kita berikan bagi bangsa ini? Paling tidak, menuliskan. Dari tulisan itu akan lahir pengembangan dan kemanfaatan,” ujar Fadli.
Ia menyoroti lemahnya tradisi penulisan sejarah nasional, sementara banyak catatan tentang Indonesia justru ditulis oleh peneliti asing sejak ratusan tahun lalu. Karena itu, Kementerian Kebudayaan mendorong lahirnya karya-karya sejarah oleh sejarawan Indonesia dengan perspektif dan kepentingan nasional.
“Sejarah sering kita katakan penting, tetapi sering kali tidak kita tulis. Padahal bangsa lain menulis banyak hal tentang Indonesia. Kita perlu menuliskan sejarah kita sendiri agar menjadi milik dan rujukan bagi generasi kita,” katanya.
Fadli juga menekankan pentingnya hilirisasi naskah sejarah yang digarap secara serius. Sejarah, menurutnya, dapat menjadi basis pengembangan film, teater, dan berbagai karya kreatif lain yang menjangkau publik luas sekaligus memperkuat literasi sejarah.
Dalam konteks globalisasi, Fadli mengingatkan pentingnya menemukan kembali dan menyempurnakan identitas keindonesiaan. “Yang paling penting adalah bagaimana kita menemukan kembali, melengkapi, dan menyempurnakan identitas nasional Indonesia,” ujarnya.
Gelar wicara ini berangkat dari terbitnya buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global yang diluncurkan Kementerian Kebudayaan pada peringatan Hari Sejarah, 14 Desember 2025. Buku tersebut disusun oleh 123 sejarawan dari 34 perguruan tinggi dan dimaksudkan sebagai ruang diskursus terbuka, bukan narasi resmi pemerintah.
“Buku ini tidak dimaksudkan sebagai sesuatu yang final. Perdebatan, dialektika, dan forum-forum ilmiah penting agar penulisan sejarah kita terus hidup dan berkembang berdasarkan data dan temuan baru,” kata Fadli.
Ke depan, Kementerian Kebudayaan juga menyiapkan penulisan sejarah periode Perang Mempertahankan Kemerdekaan 1945–1949, kerajaan-kerajaan besar Nusantara seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Pajajaran, serta sejarah ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan lingkungan yang selama ini belum banyak digarap.
Kegiatan ini sekaligus menjadi penghormatan atas kontribusi panjang Prof. Dr. Taufik Abdullah terhadap perkembangan historiografi Indonesia. Diskusi utama menyoroti dinamika kebangsaan Indonesia dalam arus global serta refleksi kritis atas historiografi nasional selama sembilan dekade terakhir.
Gelar Wicara Sejarah diikuti oleh sejarawan, akademisi, peneliti, pendidik, dan komunitas budaya, serta dihadiri pimpinan lembaga kearsipan dan riset. Melalui forum ini, Kementerian Kebudayaan menegaskan penulisan sejarah sebagai investasi jangka panjang bangsa—bukan sekadar merekam masa lalu, tetapi juga sebagai sumber inspirasi, penguatan karakter, dan fondasi pengembangan ekosistem budaya berkelanjutan.
Editor:
ANDREY MICKO
ANDREY MICKO