NEWS

Sungai Mentawir Meluap, 54 Rumah Terdampak Banjir di Kawasan IKN

Seorang warga melintas di genangan banjir yang merendam permukiman di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Kamis (8/1/2026). Foto: istimewa
Seorang warga melintas di genangan banjir yang merendam permukiman di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Kamis (8/1/2026). Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA – Banjir kembali merendam sejumlah wilayah di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Kamis (8/1/2026) dini hari. 

Peristiwa ini dipicu luapan Sungai Mentawir setelah hujan berintensitas sedang hingga lebat mengguyur kawasan tersebut selama berjam-jam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Penajam Paser Utara mencatat sedikitnya 54 rumah warga di tiga RT terdampak, dengan total 147 jiwa harus merasakan dampak langsung banjir di wilayah yang masuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut.


Kepala Pelaksana BPBD PPU, M. Sukadi Kuncoro, mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 03.00 WITA, sementara laporan resmi baru diterima Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD pada pukul 09.15 WITA.

“Hujan dengan intensitas tinggi terjadi sejak Rabu, 7 Januari 2026, sekitar pukul 17.00 WITA hingga Kamis, 8 Januari 2026, pukul 06.00 WITA. Kondisi ini menyebabkan daerah aliran sungai meluap dan air masuk ke pemukiman warga yang berada di dataran rendah dan bantaran sungai,” ujarnya.

Sukardi mengatakan, BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini secara berturut-turut pada Rabu (7/1/2026) pukul 17.45 WITA, 20.15 WITA, dan 21.15 WITA terkait potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang di wilayah Sepaku dan sekitarnya.

Data BPBD PPU mencatat, banjir berdampak pada sembilan rumah di RT 01 dengan sembilan kepala keluarga (KK) atau 25 jiwa. Di RT 02, banjir merendam 42 rumah yang dihuni 42 KK atau 108 jiwa. Sementara di RT 03, terdapat tiga rumah terdampak dengan tiga KK atau 14 jiwa. Secara keseluruhan, jumlah rumah terdampak mencapai 54 unit dengan total 147 jiwa.

“Pada saat kejadian, tinggi muka air di halaman rumah warga berkisar antara 50 hingga 80 sentimeter, sedangkan di dalam rumah mencapai sekitar 10 sampai 15 sentimeter,” kata Kuncoro.

Ia menambahkan, kondisi banjir di wilayah terdampak saat ini sudah berangsur surut. Meski demikian, BPBD PPU tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan hujan susulan. “Secara umum, kondisi terkini tinggi muka air di wilayah terdampak sudah mulai surut,” ujarnya.

Dalam upaya penanganan, BPBD PPU langsung mengerahkan tim ke lokasi setelah laporan diterima. Petugas melakukan pemantauan kondisi terkini tinggi muka air, berkoordinasi dengan seluruh unsur terkait, serta menyerahkan bantuan logistik secara simbolis kepada pihak Kelurahan Mentawir untuk warga terdampak.

“Kami juga berkoordinasi dengan pihak Otorita IKN terkait rencana usulan normalisasi Sungai Mentawir sebagai langkah penanganan ke depan,” kata Kuncoro.

Kuncoro menambahkan penanganan di lapangan melibatkan BPBD PPU, Otorita IKN, Babinsa, Bhabinkamtibmas, relawan, serta warga setempat. BPBD PPU menurunkan tiga unit mobil operasional beserta peralatan penanggulangan bencana, sementara Otorita IKN mengerahkan satu unit mobil operasional.

Dihubungi terpisah, Lurah Mentawir Nelva Susanti memastikan tidak ada warganya yang jadi korban dalam banjir musiman ini. "Alhamdulillah tidak ada korban, saat ini aktivitas warga sudah pulih. Ini memang banjir musiman setiap akhir tahun dan awal tahun," kata Nelva, Jumat (9/1).

Meski merupakan fenomena tahunan, Nelva mengaku banjir kali ini merupakan yang paling besar dalam 26 tahun terakhir dia tinggal di Mentawir. 

Dari catatan pihak kelurahan, ada 15 rumah yang sempat terendam banjir, sedangkan sisanya air hanya sampai kolong rumah warga. 


"Rumah yang terendam itu seluruhnya berada di dekat dengan sungai. Ketinggian air saat banjir sempat mencapai 1,5-2 meter," kata dia.

Nelva menduga, banjir parah kali ini dipicu pendangkalan di hulu sungai dan penyempitan di muara sungai. Pihak kelurahan, sebut Nelva juga sudah beberapa kali minta dinas terkait untuk melakukan normalisasi sungai. 

"Tapi UPT tidak memiliki alat yang memadai untuk pengerukan. Makanya sampai saat ini normalisasi belum terealisasi," ujar dia.