LIFESTYLE

Kenali Misophonia, Gangguan Suara Mengunyah Bisa Picu Amarah

Ilustrasi seorang penderita misophonia. Foto: istimewa
Ilustrasi seorang penderita misophonia. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA – Pernah merasa marah, cemas, atau tidak nyaman secara ekstrem hanya karena mendengar suara orang mengunyah, bunyi klik pulpen, atau detak jam? Jika iya, kondisi tersebut bisa jadi bukan sekadar rasa kesal biasa, melainkan misophonia.

Misophonia merupakan sindrom neurofisiologis yang membuat seseorang bereaksi secara emosional dan fisik terhadap suara-suara tertentu. Kondisi ini menyebabkan otak salah menafsirkan bunyi-bunyi berulang dan berpola sebagai ancaman, sehingga memicu respons stres yang intens.

Menurut informasi dari The International Misophonia Foundation, penderita misophonia umumnya merespons suara pemicu dengan iritasi mendalam, kecemasan berat, hingga kemarahan yang sulit dikendalikan. 


Reaksi tersebut terjadi secara otomatis, bahkan ketika individu menyadari bahwa suara tersebut sebenarnya tidak berbahaya.

Dalam kondisi misophonia, otak mengaktifkan mekanisme fight or flight atau bertahan dan melarikan diri. Akibatnya, tubuh mengalami berbagai respons fisiologis, seperti detak jantung meningkat, keringat berlebih, ketegangan otot, hingga perubahan hormon stres.

Sementara itu, Cleveland Clinic menjelaskan bahwa misophonia memengaruhi setiap individu secara berbeda. Ada penderita yang hanya memiliki satu suara pemicu, namun ada pula yang sensitif terhadap berbagai jenis suara. 

Tingkat keparahannya pun beragam, mulai dari rasa tidak nyaman ringan hingga reaksi emosional yang sangat intens.

Beberapa suara yang paling umum memicu misophonia antara lain suara orang mengunyah atau mengecap bibir, bunyi detak jam, suara napas berat, bunyi ketukan atau klik pulpen, suara air menetes, hingga suara berulang bernada monoton.

Pada penderita misophonia, suara-suara tersebut bisa memicu emosi negatif seperti marah, jengkel, dan murka, disertai respons fisik seperti peningkatan detak jantung, rasa panas, serta perilaku spontan seperti melotot, menutup telinga, atau menghindari sumber suara.

Kondisi ini sering kali disalahpahami sebagai sikap berlebihan atau tidak toleran. Padahal, misophonia merupakan gangguan yang memiliki dasar neurologis dan dapat berdampak pada kualitas hidup, hubungan sosial, hingga produktivitas seseorang.

Terkait penanganannya, sebagaimana dikutip dari Hindustan Times pada Selasa (13/1), dokter spesialis anestesiologi dan pengobatan nyeri Dr. Kunal Sood menyebutkan bahwa terapi dapat membantu penderita mengelola gejala misophonia.

“Pendekatan yang umum dilakukan antara lain terapi perilaku kognitif (CBT) untuk mengubah respons emosional terhadap suara, serta terapi suara yang membantu otak beradaptasi dan mengurangi sensitivitas terhadap pemicu,” jelasnya.


Meski belum sepenuhnya dapat disembuhkan, dengan penanganan yang tepat, penderita misophonia dapat mengendalikan reaksinya dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

Kesadaran masyarakat terhadap misophonia pun dinilai penting, agar kondisi ini tidak lagi dianggap sepele, melainkan dipahami sebagai gangguan yang nyata dan membutuhkan empati serta dukungan.